PPC Iklan Blogger Indonesia
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rencanakan Masa Depan Anda Bersama Bank Mandiri


Perencanaan keuangan keluarga dapat membantu kita dalam mencapai tujuan perencanaan hidup yang lebih baik di masa depan. Dimana Anda dapat membiayai kebutuhan hidup keluarga Anda dengan santai dan dapat menikmati sisa hidup bersama-sama orang yang Anda cintai dengan bahagia dan sejahtera. Apabila kita tidak bijaksana mengelola keuangan maka kita akan menemui kesulitan finansial kelak di masa depan. Membangun kebahagian bersama keluarga di masa depan tanpa adanya sebuah perencanaan keuangan di masa depan seperti membangun bangunan tanpa sebuah pondasi. Tidak adanya dasar dan pondasi dalam bangunan tersebut membuat bangunan tidak kokoh bahkan tidak dapat berdiri. Sama halnya dengan membangun kehidupan jika tidak adanya rencana maka tidak ada kepastian kehidupan kita akan bahagia sesuai yang diharapkan. Perencanaan keuangan keluarga dapat membantu kita dalam mencapai tujuan perencanaan hidup yang lebih baik di masa depan. Dimana Anda dapat membiayai kebutuhan hidup keluarga Anda dengan santai dan dapat menikmati sisa hidup bersama-sama orang yang Anda cintai dengan bahagia dan sejahtera.

Seperti hal-nya Mandiri Tabungan Rencana. Tabungan wajib bulanan dari Bank Mandiri ini akan memberikan banyak keutungan di masa depan anda. Salah satu ekstra perlindungan asuransi. Dengan setoran bulanan yang felksibel, anda dapat menetukan jumlah setoran setiap bulan-nya dalam jangka 1 – 20 tahun sesuai dengan rencana masa depan anda.

Hal yang menarik dari Mandiri Tabungan Rencan adalah. Perlindungan ekstra asuransi dengan gratis yang premi asuransinya nanti akan di bayarkan oleh piahak Bank Mandiri. Jika seuatu saat terjadi sesuatu pada diri kita atau ketidak mampuan kita atau bahkan kita meninggal dunia sebelum Mandiri Tabungan Rencana jatuh tempo, maka pihak asuransi otomatis akan meneruskan setoran rutin bulanan hingga jangka waktu jatuh tempo Mandiri Tabungan Rencana anda. Sebagai contoh, misal-nya anda sebagai pemegang Mandiri Tabungan atau Mandiri Giro. Membuka Mandiri Tabungan Rencana untuk ketiga putra - putri anda dengan jangka waktu 10 tahun. Dan di tahun ke-6 anda  terjadi sesuatu pada anda, maka pihak asuransi akan meneruskan setoran rutin anda tersebut, hingga jangka jatuh tempo Mandiri Tabungan Rencana atau sampai tahun ke-10. Sehingga putra – putri anda akan tetap menerima hasil Mandiri Tabungan Rencana ditahun ke-10 sesuai dengan masa jatuh tempo dari Mandiri Tabungan Rencana anda. lebih lengkap-nya dapat dilihat DISINI

Dengan memiliki Mandiri Tabungan Rencana, anda tak perlu risau lagi dengan masa depan anda. Selain mendapatkan perlindungan asuransi dengan gratis. Anda juga akan mendapatkan bungan yang relatif lebih tinggi. Tabungan Rencana Mandiri dirancang agar keinginan anda dimasa yang akan dapat terwujud.

Cara mendapatkan Mandiri Tabungan Rencana sangat mudah. Anda hanya wajib memiliki Mandiri Tabungan atau Mandiri Giro, Berusia 18 - 70 Tahun pada saat Mandiri Tabungan Rencana jatuh tempo, mengisi formulir aplikasi serta pernyataan kesehatan, tanpa medical chek-up. Cukup mudahkan? Ayo ke Bank Mandiri saja, jadikan mitra untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Perencanaan keuangan keluarga juga dapat membebaskan Anda dari masalah keuangan dan membiasakan Anda hidup mandiri tanpa perlu bergantung pada orang lain. Buatlah perencanaan keuangan keluarga Anda sebagai jaminan hidup di masa depan. Jadilah perencana keuangan yang baik dan tentukan gaya hidup yang akan Anda pilih karena semua keputusan yang akan Anda ambil akan menentukan masa depan yang Anda temui. Rencanakan keuangan masa depan anda ke BankMandiri saja.
READ MORE - Rencanakan Masa Depan Anda Bersama Bank Mandiri

SHOLAT Obat Penenang Jiwa

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku (Q.S. Toha: 14)

OLEH-OLEH pendakian spiritual Nabi Muhammad saw. yang dibawa dari langit ketujuh, seakan menjelma menjadi obat penawar bagi kegundahan dan kegusaran jiwa.

Kegundahan yang diakibatkan sering terjebaknya manusia pada kesenangan duplikat (duniawi) dan kegusaran jiwa yang dihasilkan oleh pabrik kehidupan yang kapitalis dan menjajah. Dengan kondisi demikian, manusia pun seakan terbagi menjadi kelas sosial yang terpecah dan terabaikan fungsi kemanusiaannya.

Tak heran bila banyak pengusaha yang haus harta, hingga akhirnya ia pun melupakan waktu luang untuk mengabdi kepada-Nya, menyisihkan harta pada kaum papa, dan melalaikan tugas kepemimpinannya di lingkungan keluarga.

Sementara itu, si fakir dan si miskin berani mengabaikan perintah Allah hanya demi mencari tunjangan materi agar mampu bertahan hidup, akibat menyurutnya solidaritas sosial. Apabila kondisi ini dibiarkan tak berdaya, akibat yang diperoleh bangsa adalah munculnya kekosongan amal baik yang tak diharapkan hadir di kehidupan. Celakanya lagi, manusia pun tak menyadari, dirinya harus berbuat baik, melepaskan beban hidup yang mengimpit, dan harus meraih ketenangan jiwa. Agar dalam mengarungi samudra kehidupannya, manusia merasa senang dan gembira tanpa dihantui beragam masalah kehidupan.

Sebesar apa pun arus kehidupan, kalau manusia memiliki "mental pejuang" tak dapat disangkal lagi ia pun akan tetap bertahan. Bertahan dari segala terpaan hidup yang menindas dan mengakibatkan dirinya diliputi kepiluan yang mendalam. Ketika dirinya berhadapan dengan "virus kemiskinan", dari jiwanya muncul kesiapan untuk menantangnya dan tak diliputi kegelisahan yang terus menerus menghinggapi diri. Sebab, sudah sejak awal tertanam dalam jiwa nama Allah yang dijadikan sebagai bentuk terapi bagi penyembuhan gangguan jiwa itu.

Salat dan ketenangan jiwa

Tujuan dari perintah Allah untuk menunaikan kewajiban salat yang lima waktu, agar umat Islam mampu meredam, menghilangkan kegelisahan, dan keresahan. Karena, sebelum Rasulullah saw "diisra dan dimikrajkan" oleh Allah, kesedihan sedang mendera batin beliau akibat wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah. Betapa tidak, semasa hidupnya kedua orang tercinta inilah yang selalu melindungi dan memo­tivasinya untuk selalu tetap bersabar dalam menyiarkan ajaran Islam. Pada saat itu, salat yang disyariatkan ternyata mampu menjelma laiknya obat penenang jiwa dan penawar duka lara. Hingga beliau pun pernah bersabda, ”kesenanganku terjadi dalam salat “ (al-hadis).

Bahkan dalam hadis lain disebutkan, Ash-shalatu miraju al-muminun.” Salat merupakan mikrajnya orang mukmin. Dengan hadirnya hadis ini, kita pun seyogianya melaksanakan salat ketika jiwa mengidap gangguan jiwa. Gangguan yang diakibatkan oleh rasa gelisah karena takut tak mampu menghadapi kerasnya hidup ini. Meskipun peristiwa isra dan mikraj sering diperingati pada tanggal 27 Rajab, tak ada salahnya jika setiap hari kita mengingat makna di balik pensyariatan salat yang lima waktu itu. Hingga kita pun mendapat resep untuk mengobati jiwa kita yang sedang gundahgulana.

Namun, saat ini manfaat praktis salat pun seakan luput dari perhatian sebagian bangsa, hingga banyak orang yang mengidap kekeringan dan kekotoran jiwa. Dengan kata lain, kita malas melakukan proses pembersihan dan penyucian jiwa dari segala kekotoran jiwa yang mampu membuat kita merasa gelisah. Rasulullah terkasih dan tercinta bersabda, ”Salat lima waktu seperti air tawar yang berada di muka pintu seorang manusia yang tiap hari ia mandi lima kali sehari, maka tidak akan ada lagi kotoran yang tertinggal padanya.” (Al-hadis). Sedemikian hebatnya peran salat dalam membersihkan dan memproteksi diri dari kotoran sikap dan tindakan yang munkarot. Hingga dianalogikan dengan mandi yang diyakini mampu memberi penyegaran bagi tubuh dan jiwa.

Coba rasakan ketika kita tidak mandi selama berminggu-minggu, apa yang akan kita rasakan? Yang pasti tubuh akan terasa hitam kelam dan daki-daki menempel di tubuh. Begitu pula dengan kondisi kejiwaan kita yang tidak bisa lepas dari debu-debu kegundahan dan kegusaran yang mengganggu ketenangan jiwa. Kalaulah kita tak rajin membersihkannya, kegundahan dan kegusaran pun akan selalu menghantui gerak langkah hidup.

Dari sinilah dapat kita saksikan dan yakini peran salat dalam melindungi dan membersihkan kotoran-kotoran jiwa yang semakin akut merasuki batin. Tanpa melaksanakan salat secara benar dan khusyuk, saya rasa kita akan tetap dalam keadaan hampa dan cemas.

Allah SWT berfirman, “Sungguh telah menang (bahagia dan tenang) orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang salat dengan khusu” (Q.S. Al-Muminun: 1-2). Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan, salat merupakan senjata ampuh yang harus digunakan untuk melawan segala gangguan jiwa seperti kecemasan, kegelisahan, dan keputusasaan.

Selain berdampak personal, salat pun berdampak sosial pula dan mampu membentuk manusia yang tak suka melakukan penindasan dan pendiskriminasian pada kaum papa. Hingga dirinya terkategori sehat secara sosialspiritual. Sebab, ia mampu membina hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Menurut pandangan WHO (World Healt Organization) manusia demikian telah mencapai tingkat kesehatan karena telah memenuhi salah satu rumusan sehat secara biologi, psikologi, sosial, dan spiritual.

Lalu apa yang akan terjadi ketika kita ditimpa kesusahan hidup, bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut, dan apa yang akan kita lakukan untuk menangani dampak terhadap ketenangan jiwa itu?.

Dalam teori psikologi dijelaskan, manusia ketika dihadapkan pada kesusahan, emosinya pun akan berubah menjadi sedih. Sebab, manusia bergerak ke arah pencapaian hidup yang bahagia. Dengan kata lain, tak akan ada orang yang menginginkan kesulitan hidup melilit dirinya, kalau bukan orang yang sudah putus asa, dengan mengakhiri hidup secara tak manusiawi. Namun, rasa bahagia akan tergapai ketika seorang manusia memiliki kesiapan mental dalam menghadapi ujian kehidupan itu. Seorang pegawai rendahan, tukang becak, pengamen, pengecer koran, bahkan pengusaha sekalipun akan terguncang jiwanya ketika tak siap secara mental.

Demikian pula, keresahan jiwa hampir tak pandang bulu merasuki setiap jiwa manusia, bahkan para nabi pun pernah merasakannya. Untuk itu, seyogianya kita sejak awal membentengi diri dengan sikap sabar, tawakal, dan melakukan ibadah salat, kalaulah ingin meraih ketenangan jiwa. ”Dan minta tolonglah kalian (dalam menghadapi kegelisahan) dengan sabar dan salat “ (Q.S. Al-Baqarah: 45). Sebab dalam sabar dan salat terdapat efek terapeutik (penyembuhan) bagi jiwa yang sedang dirundung kegelisahan.

Ini bisa kita lihat dan pahami dari kepasrahan diri secara total pada Allah, hingga dirinya merasakan ketenangan. Salat merupakan salah satu bentuk zikrullah (mengingat Allah) yang bisa dipahami sebagai penghambaan pada-Nya.

Sementara itu dalam keterangan lain, disebutkan, “Alaa bidzikrillah tatmainu al-qulub.” (berzikirlah pada Allah, maka kamu akan tenang). Dari keterangan ayat ini, kita bisa menyimpulkan, salat sebagai salah satu zikir yang terbesar (waladzikrullah al-akbar) merupakan resep pengobatan/penyembuhan bagi kegelisahan jiwa.

Oleh sebab itulah, tak selayaknya kita mengabaikan salat dalam menjalani kehidupan yang makin hari semakin menampakkan gejala kegersangan jiwa dan spiritual. Hanya dengan salatlah kita akan merasakan, kita sedang diperhatikan dan dilindungi oleh Allah dari segala marabahaya yang tiap hari pasti mengancam diri. Sehingga ketenangan jiwa bakal selalu kita raih dan dapatkan.
READ MORE - SHOLAT Obat Penenang Jiwa

Sejarah Indonesia Di Piala Dunia

Tim Sepak Bola ”Indonesia” (Hindia Belanda), tim Asia pertama yang lolos ke Piala Dunia 1938.
Indonesia pada tahun 1938 (di masa penjajahan Belanda) sempat lolos dan ikut bertanding di Piala Dunia 1938. Waktu itu Tim Indonesia di bawah nama “Dutch East Indies” (Hindia Belanda), peserta dari Asia yang pertama kali lolos ke Piala Dunia. Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12.
Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepang karena saat itu dunia sepakbola Asia memang hampir tidak ada. Namun, Indonesia akhirnya lolos ke final Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.


Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang telah berdiri pada bulan April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain PSSI yang dikirimkan.
Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.
Ditangani pelatih Johannes Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia Belanda adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

Nederland Indische Voetbal Unie (NIVU) team which played at 1938 World Cup final round. From left to right (front): Telwe, Hukom, Pattiwael, Soedarmadji, Tan See Han and Hong Djin. Back row: Anwar, Dorst, Bing Mo Heng, Van der Burg, Faulhaber.* (Source: Fortunecity).
Sayangnya, pada penampilan pertamanya di babak penyisihan Piala Dunia tanggal 5 Juni 1938 melawan tim sepak bola Hongaria (tim yang akhirnya menjadi runner-up Piala Dunia 1938) disaksikan sekitar 9.000 penonton di stadion Auguste Delaune, kota Reims, Perancis, Indonesia di “cukur gundul” oleh Hongaria dengan skor 6 – 0 dan terpaksa pulang lebih cepat. Namun setidaknya kita boleh bangga, bahwa Indonesia pernah lolos ikut Piala Dunia ! (Sumber: Soccerway, Theyoss dan Wikipedia).
READ MORE - Sejarah Indonesia Di Piala Dunia

Sejarah Liga Sepak Bola Di Indonesia

Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda mengadakan sebuah event atau turnamen sepak bola yang di ikuti beberapa kota yang ada di jawa seperti jakarta (Batavia, Surabaya, Solo, Yogyakarta, Semarang tepat-nya di tahun 1914. dari kompetisi tersebut menjadi sebuah rintisan atau cikal bakal lahir-nya liga Perserikatan di Indonesia.
Meski sebagaian besar wilayah Nusantara di jajah Pemerintahan Belanda. Kompetisi antar kota di jawa tersebut hanya di juarai oleh dua tim atau di dominasi dua tim saja, yaitu BataviaCity SoerabajaCity. Berikut daftar juaranya sejak 1914-1930 :
NIVB City Cups League
YEARS WINNERS

1914 BATAVIA
1915 BATAVIA
1916 SOERABAJA
1917 SOERABAJA
1918 BATAVIA
1919 BATAVIA
1920 BATAVIA
1921 BATAVIA
1922 SOERABAJA
1923 BATAVIA
1924 SOERABAJA
1925 BATAVIA
1926 SOERABAJA
1927 BATAVIA
1928 SOERABAJA
1929 BATAVIA
1930 SOERABAJA
Sejarah Sepakbola Indonesia Kompetisi NIVB
Liga Kota Jawa
1931 VIJ Jakarta VVB Solo
1932 PSIM Jogjakarta VIJ Jakarta
1933 VIJ Jakarta BIVB Bandung
1934 VIJ Jakarta BIVB Bandung
1935 VVB Solo PPVIM Jatinegara Jakarta
1936 VVB Solo BIVB Bandung
1937 BIVB Bandung VVB Solo
1938 VIJ Jakarta SIVB Soerabaja
1939 VVB Solo PSIM Jogjakarta
1940 VVB Solo PSIM Jogjakarta
1941 SIVB Soerabaja PSIM Jogjakarta
1942 VVB Solo SIVB Soerabaja
1943 VVB Solo PSIM Jogjakarta
Sejarah Sepakbola Indonesia Liga Perserikatan
Liga Kota Jawa
Kompetisi NIVB
PSSI United League (Perserikatan) Since 1948

1948 PERSISSOLO PSIM
1950 PERSEBAYA PERSIB
1951 PERSEBAYA PERSIJA
1952 PERSEBAYA PERSIJA
1954 PERSIJA PSMS
1957 PSM PSMS
1959 PSM PERSIB
1961 PERSIB PSM
1964 PERSIJA PSM
1965 PSM PERSEBAYA
1966 PSM PERSIB
1967 PSMS PERSEBAYA
1971 PSM PERSEBAYA
1973 PERSIJA PERSEBAYA
1975 PERSIJA // PSMS * (Juara Bersama)
1978 PERSEBAYA PERSIJA
1979 PERSIJA PSMS
1980 PERSIRAJA PERSIPURA
1983 PSMS PERSIB
1985 PSMS PERSIB
1986 PERSIB PERSEMAN
1987 PSIS PERSEBAYA
1988 PERSEBAYA PERSIJA
1990 PERSIB PERSEBAYA
1992 PSM PSMS
1994 PERSIB PSM

Persib Bandung adalah juara terakhir di kompetisi perserikatan di Indonesia. akhir-nya liga perserikatan di ganti dengan liga yang lebih profesional yaitu Liga inonesia, yang sekarang di kenal dengan Indonesia Super Leage.

1994-1995 – Juara : Persib Bandung / Runner Up : Petrokimia Putra
1995-1996- Juara : Bandung Raya / Runner Up : PSM Makassar
1996-1997 – Juara : Persebaya Surabaya / Runner Up : Bandung Raya
1997-1998 – Kompetisi tak rampung
1998-1999 – Juara : PSIS Semarang / Runner Up : Persebaya Surabaya
1999-2000 – Juara : PSM Makassar / Runner Up : PKT Bontang
2001 - Juara : Persija Jakarta / Runner Up : PSM Makassar
2002 – Juara : Petrokimia Putra / Runner Up : Persita Tangerang
2003 – Juara : Persik Kediri / Runner Up : PSM Makassar
2004 – Juara : Persebaya Surabaya / Runner Up : PSM Makassar
2005 – Juara : Persipura Jayapura / Runner Up : Persija Jakarta
2006 – Juara : Persik Kediri / Runner Up : PSIS Semarang
2007 – Juara : Sriwijaya FC / Runner Up : PSMS Medan
2008-2009 – Juara : Persipura Jayapura / Runner Up : Persiwa Wamena
2009-2010 – Juara : Arema Indonesia / Runner Up : Persipura Jayapura
2010-2011 - Juara : Persipura / Runer up : Arema Indonesia

Mohon maaf jika ada kekurangan dalam data yang kami sampai kan,. mohon masukan komentar anda.
READ MORE - Sejarah Liga Sepak Bola Di Indonesia

total eclipse occurred in the early morning sky later in Indonesia


Total lunar eclipse events which occurred on Thursday (16/06/2011) a momentum to learn more about astronomy. In Pesantren Assalam, Solo, Central Java, for example, since Wednesday morning lecture lasted about a lunar eclipse event for students, observing sunspots (sunspot), and the peak observed total lunar eclipse early Thursday day.

Not only learn theory in class. The students also tried to direct observation of celestial bodies with a telescope that has been prepared. Assalam Party School in collaboration with Jogja Astro Club to bring in such equipment.

"I was prepared three telescopes from Jakarta, Yogyakarta and 5 of 5 from Assalam. There are also some binoculars. We also cooperate with the Planetarium Jakarta," said amateur astronomer from Jogja Astro Club Mutoha Arkanuddin who was involved in this event, when contacted Kompas.com by telephone.

According Mutoha, the phenomenon of a total lunar eclipse was better seen with the naked eye. However, with the help of a telescope, the shadow of the moon during an eclipse is visible so that the occurrence of an eclipse can be seen in greater detail.

The series of observations the total lunar eclipse will take place from 01.00 am - 04.00 pm later. Mutoha also said that people who can not attend can access the live in http://rukyatulhilal.org/live/gbt2011 and http://kafeastronomi.com which became official web site of observation.

Mutoha revealed, in addition to observing the eclipse, will be done also observation of stars and planets. The discussion that aims to popularize astronomy in society will also be held later tonight. The event could be followed tonight anyone and free.

According to him, observing a total lunar eclipse tonight significant in several respects. "The observations can also be at the same time tonight to test the accuracy of reckoning rukyat. So we can know we count correctly or not," explained Mutoha.

Circles are still doing calculations based on the old book can be reviewed again. "The community is also with this event from not knowing to knowing," said Mutoha.

Through observation, according to Mutoha, the public can know one way of determining the beginning of the month of Ramadan and Shawwal. "And for those who have never eclipse prayer, this time," he added.

Mutoha added, "We also use this moment to test for preparation rukyat Kominfo streaming to come." If nantu successful, that the people may take advantage of web-based information to determine the calculation of the beginning of Ramadan and Shawwal.

For lectures activity eclipse, Mutoha said activity had been held since yesterday. The goal is for students and junior high school. "We invite about 20 schools, we give lectures about the eclipse," said Mutoha.
READ MORE - total eclipse occurred in the early morning sky later in Indonesia

Melacak Nomor Telepon Seuler Berada

HLR Lookup adalah aplikasi untuk memeriksa di mana nomor telepon yang berasal.
HLR Lookup tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui rincian sejumlah informasi seperti nama, alamat, posisi, dll, karena informasi rinci dari sebuah nomor adalah privasi dari pemilik nomor yang hanya diketahui oleh orang-orang operator dan pihak berwenang .

HLR Lookup ini hanya bisa mendeteksi jumlah operator ini:

Telekomunikasi Selular [Kartu Halo, Simpati, Kartu AS]
Indosat (Cellular) [IM3, Mentari, Matrix]
Indosat (Fixed) [Starone]
Excelcomindo Pratama [XL]
Hutchison CP Telekomunikasi [Tiga]
Natrindo Telepon [Axis] Seluler
Bakrie [Esia] Telecom
Telekomunikasi Indonesia [PSTN Flexi,]
Mobile-8 Telecom (Cellular) [Fren]
Mobile-8 Telecom (Fixed) [Hepi]
Smart Telecom [Smart]
Sampoerna Telekomunikasi Indonesia [Ceria]
Pasifik Satelit Nusantara [Byru]

Untuk Mengetahui Nmomor Telepon Seluler Berada Klik DISINI

Lokasi rumah register (HLR) adalah database pusat yang berisi rincian dari setiap pelanggan telepon selular yang diberi wewenang untuk menggunakan jaringan inti GSM. Ada dapat beberapa logis, dan fisik, HLR per jaringan lahan publik mobile (PLMN), walaupun satu identitas pelanggan internasional mobile (IMSI) / MSISDN pasangan dapat dikaitkan dengan hanya satu HLR logis (yang dapat span beberapa node fisik) pada suatu waktu .

Rincian HLR menyimpan setiap kartu SIM yang dikeluarkan oleh operator telepon seluler. Setiap SIM memiliki identifikasi unik yang disebut IMSI yang merupakan kunci utama untuk setiap record HLR.

Item penting berikutnya data yang terkait dengan kartu SIM adalah MSISDNs, yang nomor telepon yang digunakan oleh ponsel untuk membuat dan menerima panggilan. MSISDN utama adalah nomor yang digunakan untuk membuat dan menerima panggilan suara dan SMS, tetapi mungkin untuk SIM untuk memiliki MSISDNs sekunder lainnya yang terkait dengan itu untuk panggilan faks dan data. Setiap MSISDN juga merupakan kunci utama untuk catatan HLR. Data HLR disimpan selama pelanggan yang tetap dengan operator telepon seluler.
READ MORE - Melacak Nomor Telepon Seuler Berada

Filosofi Keris Pada Masyarakat Nusantara


Keris dan Tosan Aji lainnya, bagi Masyarakat Nusantara tentu memiliki makna tersendiri, bukan saja tentang tuah ataupun yoni, tetapi juga makna budaya, sejarah dan filosofi yang sarat makna, bahkan telah menjadi semacam Filosofi Hidup.
Berbagai buku telah mengupas banyak tentang keris. Berbagai forum diskusi, baik yang santai sambil disambi ngopi, setengah serius dan sampai yang serius berbentuk seminar dan lokakarya telah pula dilakukan. Perdebatan dan kesamaan pendapat selalu muncul mengiringi perkembangan budaya keris.

Keris, dari jaman dahulu hingga sekarang telah menjadi suatu benda yang menarik untuk dimiliki sebagai benda koleksi, dipandang sebagai suatu bentuk karya seni dan spiritual yang sangat indah maupun diperbincangkan dari berbagai aspek. Bukan saja pada aspek fisik maupun non fisik, tetapi juga aspek sejarah dan evolusi perkembangannya.
Sebut saja beberapa keris yang hingga sekarang selalu diperdebatkan seperti keris buatan mPu Gandring dari jaman Singosari yang terus menjadi perdebatan hingga saat ini tanpa pernah terbukti keberadaannya kecuali ditinjau dari aspek filosofi sejarah, Legenda keris Condong Campur jaman Majapahit, asal muasal keris Tamingsari dan banyak lagi. Semua itu ternyata makin memperkaya khazanah budaya perkerisan, baik di Tanah Air maupun di manca negara. Tentu kita patut bersyukur atas adanya berbagai macam perdebatan itu, dan bukankah perbedaan pandangan sesungguhnya adalah suatu karunia dari Tuhan Yang Maha Esa ?
Di Indonesia, khususnya Jawa, Sumatera dan Bugis serta Bali, telah mengenal keris sejak jaman Kabudhaan. Perkembangan ilmu pembuatan keris, ilmu penerapan pamor sampai pada pemahaman terhadap makna filosofi keris kian tahun kian berkembang maju, sampai pada masa Kerajaan Singosari sampai Mataram Sultan Agung, bahkan sampai sekarang, keris telah diposisikan sebagai suatu benda multi fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai “Sikep” atau “Piyandel”, ada pula keris yang digunakan sebagai “Senjata Pamungkas” saat peperangan, keris juga bisa digunakan sebagai “Sengkalan” atau pertanda atas suatu kejadian penting, serta berbagai fungsi keris lainnya yang tentu sangat banyak.
Dalam budaya Jawa tradisional, keris tidak semata-mataa dianggap sebagai senjata tikam yang memiliki keunikan bentuk maupun keindahan pamor, akan tetapi juga sebagai kelengkapan budaya spiritual. Ada satu anggapan yang berlaku di kalangan Jawa tradisional yang mengatakan, seseorang baru bisa dianggap paripurna jika ia sudah memiliki lima unsur simbolik: curiga, turangga, wisma, wanita, kukila.
Curiga, secara harafiah artinya keris, turangga artinya kuda atau kendaraan (simbol masa kini adalah motor atau mobil), wisma adalah rumah, wanita arti khususnya isteri, dan kukila arti harafiahnya adalah burung. Arti simbolik burung di sini, bagi seorang pria Jawa tradisional, ia harus mampu mengolah, menangkap dan menikmati keindahan serta berolah-seni. Curiga, atau keris, secara simbolik maksudnya adalah kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara. Perlambangnya adalah keris.
Pada zaman kerajaan-kerajaan di masa lalu, tanda mata paling tinggi nilainya adalah keris. Pemberian paling berharga dari seorang Raja Jawa kepada para perwiranya atau abdi dalem, adalah keris.
Pada perkembangannya, keris di lingkungan kerajaan bisa menjadi simbol kepangkatan. Keris seorang Raja, tentu saja berbeda dengan keris perwira atau abdi dalem bawahannya. Tidak hanya bilah kerisnya saja yang berbeda, akan tetapi juga detil-detil perhiasan serta perabot yang melengkapinya pun berbeda.
Gradasi kepangkatan dari pemilik keris, juga bisa ditilik dari warangka yang menyarungi atau membungkus bilah keris. Warangka seorang Raja, tentu saja berbeda dengan warangka bawahannya. Bila seorang ksatria, tepat kiranya bila warangka yang dipakainya adalah warangka dengan wanda (model) kasatriyan. Pejabat kerajaan, memakai warangka kadipaten. Ada lebih dari 25 varian warangka Jawa di masa lalu yang bisa menjadi indikator kepangkatan pemiliknya. Bahkan daerah asal pun bisa ditilik dari warangkanya, apakah pemiliknya orang dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Jawa Timur, Madura atau Bali.
Salah satu keunikan keris adalah kekuatannya pada detil. Hampir setiap detil yang melekat pada keris, baik pada bilahnya, warangka maupun perabotnya semuanya bisa menjadi simbol. Dari ukiran atau pegangan keris pun, pada masa lalu orang bisa menilik derajat dan kepangkatan. Varian ukiran keris Jawa pun, seperti halnya warangka, ada berbagai macam varian. Dibagi dalam dua garis besar gaya: Surakarta dan Yogyakarta. Di luar itu, tentu masih ada lagi gaya lain warangka atau ukiran luar Jawa seperti: Madura, Bali, Lombok, Sulawesi, Sumatera.
Di lingkungan keraton Surakarta masa lalu, misalnya, ukiran tunggak semi gaya Paku Buwono atau Yudowinatan, hanya boleh dipakai oleh seorang Raja. Pendhok (selongsong logam pada bungkus bilah) dengan warna kemalo (sejenis cat tradisional berwarna merah, hijau, coklat dan hitam), dulu dimaksudkan untuk membedakan derajat dan kepangkatan penyandangnya. Kemalo warna merah, misalnya, khusus untuk Raja dan kerabatnya, atau bangsawan dengan pangkat serendah-rendahnya Bupati. Kemalo warna hijau, untuk para mantri (menteri, perwira pembantu Raja). Pendhok kemalo warna coklat, untuk para bekel atau administratur menengah kebawah. Sedangkan pendhok hitam, untuk para abdi dalem, atau rakyat jelata.
Ada kalanya seseorang mendapatkan penghargaan dari seorang pejabat atau penguasa karena jasa-jasanya, dalam wujud sebilah keris dengan hiasan tertentu. Salah satu contoh klasik, adalah keris dengan ganja kinatah emas dengan relief Gajah-Singa, dulu dihadiahkan oleh Raja Mataram Sultan Agung kepada para perwiranya yang berhasil menumpas Pemberontakan Pragola, Kadipaten Pati di Jawa Tengah pesisir utara.
Bila dijabarkan dalam kalimat, gambar kinatah pemberian Sultan Agung itu berbunyi: Gajah Singa Keris Siji. Gajah itu 8, Singa 5, Keris 5, Siji 1. Jika dibaca dari belakang, berbunyi angka tahun Jawa 1558, yaitu tahun kemenangan Sultan Agung (Mataram) atau Kadipaten Pati.
Selain tanda penghargaan, keris yang diberi hiasan kinatah emas di bagian ganjanya, pada masa lalu juga dimaksudkan untuk menjadi peringatan waktu, tahun, yang tentunya dalam hitungan Tahun Jawa. Dalam khasanah budaya Jawa tradisional, disebut sebagai candra sengkala atau sengkalan. Gambar atau wujud benda, binatang, tumbuhan yang dikinatahkan juga bisa diartikan sebagai kronogram untuk menunjuk angka tahun.
Pada masa lalu, keris juga dipakai sebagai simbol identitas diri, entah itu diri pribadi, keluarga atau bahkan klan. Keris dengan dhapur (model), pamor (damascene) ataupun asesori tertentu, merupakan ciri khas milik pribadi, keluarga atau klan tertentu yang mempunyai kelebihan kepribadian atau karakter dalam masyarakat luas.
Dhapur Carubuk, dengan pamor pandita abala pandita, misalnya, dulu biasa dipakai oleh para Brahmana atau rohaniwan. Sedangkan dhapur Sengkelat pamor blarak ngirit, untuk para Raja atau penguasa.
Keris juga bisa berfungsi sebagai pertanda atribut utusan Raja, atau Duta Besar Raja. Apabila seseorang mendapat tugas dari Raja, semisal untuk mewakili Raja pada suatu acara penting menyangkut tugas kenegaraan yang mengandung risiko, maka kepada orang tersebut Raja meminjamkan sebuah keris pusaka milik sang Raja yang ‘bobot spiritual’nya sepadan dengan bobot tugas yang diembankan. Dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa tradisional, keris pada lalu juga berfungsi seremonial, menjadi lambang persaudaraan, persahabatan, perkawinan. Sudah menjadi kelaziman dalam hubungan pergaulan dengan orang lain, atau keluarga satu dengan keluarga lain, mereka mengikat tali persahabatan dengan bertukar tanda mata. Salah satu simbol persaudaraan atau persahabatan, dulu biasa ditandai dengan tukar-menukar keris. Bentuk persahabatan yang memakai simbol seperti ini, dulu dianggap sebagai bentuk hubungan erat dengan tingkat etika yang tinggi.
Dalam upacara perkawinan adat Jawa tradisional, apabila seorang calon mempelai laki-laki berhalangan datang, misalnya saja sedang mendapat tugas negara di tempat jauh dan tidak mungkin bisa menghadiri upacara, ia bisa “diwakili” secara simbolis dengan sebilah keris pusaka milik mempelai lelaki. Dalam upacara perkawinan itu, keris mempelai lelaki diperlakukan seperti layaknya calon mempelai lelaki sendiri, didudukkan bersanding mempelai wanita di pelaminan.
Bagi masyarakat Jawa tradisional, upacara perkawinan seperti itu sudah dianggap sah, meski mempelai lelaki secara fisik tidak hadir dalam upacara, dan hanya “diwakili” sebilah keris pusakanya.
Masih dalam lingkup seremonial perkawinan. Apabila mempelai lelaki menjalani upacara sungkeman (menghormati orang tua, dengan berlutut menyembah orang tua), keris yang disandang oleh mempelai lelaki harus dilepas lebih dahulu. Hal ini maksudnya, orang tua sehebat apapun, tidak boleh disembah oleh seorang menantu yang sedang menyandang keris pusaka. Karena, dalam anggapan orang Jawa tradisional, keris dianggap lebih tua dari orang tua yang di-sungkemi. Bahkan keris lebih tua dari siapapun yang hadir dalam acara perkawinan tersebut. Dalam makna mistiknya orang Jawa kuno, dimaksudkan agar orang tua tersebut tidak kuwalat (kena akibat buruk karena tindakan tidak hormat) terhadap keris mempelai lelaki.
Dalam hubungan keluarga, antara orang tua dan anak, tali persaudaraan ini juga ditandai dengan pemberian hadiah yang dalam khasanah budaya Jawa disebut sebagai kancing gelung, atau cundhuk ukel. Perwujudannya adalah sebuah keris, lengkap dengan perabotnya yang diberikan orang tua kepada anak perempuannya yang baru saja menikah. Maksudnya agar pemeliharaan keris tersebut kelak menjadi tanggung jawab suaminya. Sebuah arti simbolis pula untuk penyerahan anak perempuannya, agar dipelihara dan dihidupi oleh suami yang menikahinya. Selain makna-makna duniawi di atas, keris dalam kehidupan Jawa tradisional juga memiliki makna spiritual: sebagai manifestasi falsafah, wasiat atau pusaka. Dalam lingkup dunia mistik, sebagai azimat, medium komunikasi serta tempat bersemayamnya roh atau “yoni”. Hal terakhir ini, meskipun merupakan paham kuno, namun masih banyak orang Jawa modern saat ini yang mempraktekkannya.
Dari perkembangan tersebut akhirnya memunculkan berbagai ilmu pengetahuan terhadap keris, seperti ilmu yang mempelajari besi, ilmu yang mempelajari pamor, Penangguhan atau penentuan atas perkiraan jaman pembuatan sampai pada ilmu mengenai sandangan keris atau wrangka. Kesemua sesungguhnya telah membentuk suatu budaya yang multi dimensi dan kompleks. Dengan semakin banyaknya pandangan terhadap keris tersebut, tentu pada akhirnya akan melahirkan suatu perdebatan. Dan ini sangat wajar.
Jangankan kita membicarakan mengenai aspek non fisik yang tersamar, tentang fisik keris yang sangat nyata seperti bahan besi, bahan dan bentuk pamor saja juga masih membingungkan kita dan menjadi perdebatan yang kadang berakhir kurang menyenangkan. Katakanlah seperti pamor Raja Abala Raja – Ujung Gunung – Junjung Drajad dan Mancungan, sudah memunculkan banyak perbedaan penyebutan. Lalu apalagi ketika kita membicarakan aspek non fisik seperti sejarah dan tangguh keris dan siapa yang membuat keris yang kita miliki, padahal kita tidak pernah hidup pada jaman tersebut serta menimbang sangat samarnya literatur yang membahas mengenai hal tersebut.
Bagi saya pribadi, perbedaan pandangan tersebut, selama ditempatkan pada kerangka berfikir logis dan santun serta dilandasi keikhlasan menerima kelebihan dan kekurangan atas diri pribadi dan orang lain, adalah suatu bukti adanya Rahmat dari Tuhan yang tiada terhingga.

Makna Filosofi dan Arti Sejarah,
Dengan melihat begitu banyaknya ilmu tentang keris serta perdebatan didalamnya, alangkah lebih sarat makna bagi kita dalam diri pribadi masing-masing untuk selalu berupaya mempelajari makna sejarah, budaya dan filosofi keris dengan tanpa memandang apakah keris tersebut sudah aus, geripis ataukah masih utuh. Toh jika kita lihat, Kanjeng Kyai Kopek, pusaka kraton Jogjakarta yang dulunya dipesan Sunan Kalijaga kepada mPu Supo, pada bagian wadidhangnya sudah lubang dan tetap disimpan sebagai salah satu Keris Pusaka andalan Keraton Jogja karena memiliki muatan sejarah dan filosofi yang dalam dibandingkan sekedar bentuk atau wujud fisiknya. Dengan demikian, kebanggan atas sebilah keris tua yang masih utuh bagi saya hanyalah kesenangan semu yang hampa jika tidak diikuti dengan pemahaman terhadap sejarah dan filosofi keris.
“Pamor keris boleh rontok, besi keris bisa saja terkikis aus karena usia, dan wrangka keris bisa saja rusak karena jaman, tetapi pemahaman atas sejarah dan filosofi sebilah keris akan selalu hidup dalam hati dan pikiran kita dan akan kita turunkan pada generasi selanjutnya”.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan masyarakat jaman dahulu sangatlah memegang peranan penting dalam memahami tentang budaya perkerisan.
Katakanlah mengapa konon Sultan Agung Hanyokrokusumo ketika awal masa pemerintahannya sering memesan keris Luk 3 dapur Jangkung kepada Ki Nom ? Mengapa keris Luk 13 banyak dipesan ketika seorang Raja sudah lama memerintah dan hendak lengser keprabon ? Mengapa keris tangguh Pengging yang paling tinggi maknanya adalah yang ber Luk 9 ? Mengapa keris luk 1 dapur Pinarak selalu mengingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya hanya sementara untuk mampir duduk (pinarak) ? Kesemua itu ternyata menunjukkan bahwa sesungguhnya keris memiliki makna yang lebih dalam dan sangat kaya daripada sekedar masalah pamor, dapur dan tangguh serta keutuhannya yang sampai sekarang masih terus menjadi perdebatan. Tentunya dengan tidak mengesampingkan ilmu atas fisik keris seperti dapur, pamor maupun tangguhnya.
Dengan menempatkan keris sebagai benda yang memiliki makna filosofi mendalam, maka kita sebenarnya telah berusaha memahami apa keinginan sang mPu dan orang yang memesannya dahulu ketika membabar keris tersebut. Karena tentunya para mPu dan orang yang memesannya tersebut sebenarnyna juga memiliki harapan-harapan yang tentunya bermaksud baik. Dengan memahami makna filosofi dari sebuah keris tersebut, maka sudah pasti kita turut “Nguri-uri”, melestarikan budaya keris karena salah satu makna keris tersebut adalah sebagai simbol dari adanya suatu harapan dan doa.

Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.

Bagian-bagian keris

Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

* Pegangan keris

Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.

Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

* Wrangka atau Rangka

Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .

Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

* Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .
Sejarah

Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur India-nya.


Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok

Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.

Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya.

Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.
Keris "Modern"

Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).

Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai "keris kuno" dan "keris baru" yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah "keris kuno" yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya.

Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah "keris kuno" , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium, stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel.

Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya. Beberapa Keris Pusaka terkenal :

* Keris Mpu Gandring
* Keris Pusaka Setan Kober
* Keris Kyai Sengkelat
* Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten
* Keris Kyai Carubuk
* Keris Kyai Condong Campur
READ MORE - Filosofi Keris Pada Masyarakat Nusantara

Sejarah Wayang

Asal Usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, karena memang wayang itu merupakan salah satu buah usaha akal budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni budaya tradisional, dan merupakan puncak budaya daerah.

Menelusuri asal usul wayang secara ilmiah memang bukan hal yang mudah. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini banyak para cendekiawan dan budayawan berusaha meneliti dan menulis tentang wayang. Ada persamaan, namun tidak sedikit yang saling silang pendapat. Hazeu berbeda pendapat dengan Rassers begitu pula pandangan dari pakar Indonesia seperti K. P. A. Kusumadi laga, Ranggawarsita, Suroto. Sri Mulyono dan lain-lain.

Namun semua cendikiawan tersebut jelas membahas wayang Indonesia dan menyatakan bahwa wayang itu sudah ada dan berkembang sejak zaman kuna, sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia.

Jadi, wayang dalam bentuknya yang masih sederhana adalah asli Indonesia, yang dalam proses perkembangan setelah bersentuhan dengan unsur-unsur lain, terus berkembang maju sehingga menjadi ujud dan isinya seperti sekarang ini. Sudah pasti perkembangan itu tidak akan berhenti, melainkan akan berlanjut di masa-masa mendatang.

Wayang yang kita lihat sekarang ini berbeda dengan wayang pada masa lalu, begitu pula wayang di masa depan akan berubah sesuai zamannya. Tidak ada sesuatu seni budaya yang mandeg. Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang, namun perubahan seni budaya wayang ini tidak berpengaruh terhadap jati dirinya, karena wayang telah memiliki landasan yang kokoh. Landas an utamanya adalah sifat ‘hamot. hamong, hamemangkat’ yang menyebabkannya memiliki daya tahan dan daya kembang wayang sepanjang zaman.

Hamot adalah keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari dalam dan luar, hamong adalah kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru itu sesuai nilai-nilai wayang yang ada, untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok dengan wayang sebagai bekal untuk bergerak maju sesuai perkembangan masyarakat. Hamemangkat atau me-mangkat sesuatu nilai menjadi nilai baru. Dan, ini jelas tidak mudah. Harus melalui proses panjang yang dicerna dengan cermat. Wayang dan seni pedalangan sudah membuktikan kemampuan itu, berawal dari zaman kuna, zaman Hindu, masuknya agama Islam, zaman penjajahan hingga zaman merdeka, dan pada masa pembangunan nasional dewasa ini. Kehidupan global juga merupakan tantangan dan sudah barang tentu wayang akan diuji ketahanannya dalam menghadapinya.

Periodisasi

Periodisasi perkembangan budaya wayang juga merupakan bahasan yang menarik. Bermula zaman kuna ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup, dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan Roh-roh itu bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan.

Untuk memuja roh nenek moyang iai, selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut ‘hyang’ atau ‘dahyang’.

Orang bisa berhubungan dengan para hyang ini untuk minta pertolongan dan perlindungan, melalui seorang medium yang disebut ‘syaman’. Ritual pemujaan nenek moyang, hyang dan syaman inilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang. Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa asli yang hingga sekarang masih dipakai. Jadi, wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia disekitar tahun 1500 SM.

Berasal dari zaman animisme, wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai pada masuk nya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam, Bangsa Indonesia mulai bersentuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat fondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi.

Pertunjukan roh nenek moyang itu kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot, Ramayana dan Mahabarata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis berbagai cerita tentang wayang. Semasa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tercatat pada prasasti di candi-candi, karya sastra yang ditulis oleh Empu Sendok, Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Tantular dan lain-lain. Karya sastra wayang yang terkenal dari zaman Hindu itu antara lain Baratayuda, Arjuna Wiwaha, Sudamala, sedangkan pergelaran wayang sudah bagus, diperkaya lagi dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat, diiringi gamelan dalam tatanan pentas yang bagus dengan cerita Ramayana dan Mahabarata. Pergelaran wayang mencapai mutu seni yang tinggi sampai-sampai digambarkan ‘hananonton ringgit manangis asekel’, tontonan wayang sangat mengharukan.

Menarik untuk diperhatikan cerita Ramayana dan Mahabarata yang asli berasal dari India, telah diterima dalam pergelaran wayang Indonesia sejak zaman Hindu hingga sekarang. Wayang seolah-olah identik dengan Ramayana dan Mahabarata. Namun perlu dimengerti bahwa Ramayana dan Mahabarata versi India itu sudah banyak berubah. Berubah alur ceritanya; kalau Ramayana dan Mahabarata India merupakan cerita yang berbeda satu dengan lainnya, di Indonesia menjadi satu kesatuan.

Dalam pewayangan cerita itu bermula dari kisah Ramayana terus bersambung dengan Mahabarata, malahan dilanjutkan dengan kisah zaman kerajaan Kediri. Mahabarata asli berisi 20 parwa, sedangkan di Indonesia tinggal 18 parwa.

Yang sangat menonjol perbedaannya adalah falsafah yang mendasari kedua cerita itu, lebih-lebih setelah masuknya agama Islam. Falsafah Ramayana dan Mahabarata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga menjadi diwarnai nilai-nilai agama Islam. Hal ini antara lain tampak pada kedudukan dewa, garis keturunan yang patriarkhat, dan sebagainya. Wayang diperkaya lagi dengan begitu banyaknya cerita gubahan baru yang bisa disebut lakon ‘carangan ‘, maka Ramayana dan Mahabarata benar-benar berbeda dengan aslinya. Begitu pula, Ramayana dan Mahabarata dalam pewayangan tidak sama dengan Ramayana dan Mahabarata yang berkembang di Myanmar, Thailand, Kamboja, dan di tempat-tempat lainnya. Ramayana dan Mahabarata dari India itu sudah menjadi Indonesia karena di warnai oleh budaya asli dan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara.

Di Indonesia, walaupun cerita Ramayana dan Mahabarata sama-sama berkembang dalam pewayangan, tetapi Mahabarata digarap lebih tuntas oleh para budayawan dan pujangga kita. Berbagai lakon carangan dan sempalan, kebanyakan mengambil Mahabarata sebagai inti cerita.

Masuknya agama Islam di Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran

wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Berangkat dari pembahan nilai-nilai yang dianut, maka wayang pada zaman Demak dan seterusnya telah mengalami penyesuaian dengan zamannya. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relief candi-candi, distilir menjadi bentuk imajinatif seperti wayang sekarang ini. Selain itu, banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu, debog yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang, dan masih banyak lagi.

Para wali dan pujangga Jawa mengadakan pembaharuan yang berlangsung terus menerus sesuai perkembangan zaman dan keperluan pada waktu itu, utamanya wayang digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Sesuai nilai Islam yang dianut, isi dan fungsi wayang telah bergeser dari ritual agama (Hindu) menjadi sarana pendidikan, dakwah, penerangan, dan komunikasi massa. Ternyata wayang yang telah diperbaharui kontekstual dengan perkembangan agama Islam dan masyarakat, menjadi sangat efektif untuk komunikasi massa dalam memberikan hiburan serta pesan-pesan kepada khalayak. Fungsi dan peranan ini terus berlanjut hingga dewasa ini.

Perkembangan wayang semakin meningkat pada masa setelah Demak, memasuki era kerajaan-kera-jaan Jawa sepeti Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta, dan Yogyakarta. Banyak sekali pujangga-pujangga yang menulis tentang wayang, menciptakan wayang-wayang baru. Para seniman wayang banyak membuat kreasi-kreasi yang kian memperkaya wayang.

Begitu pula para dalang semakin profesional dalam menggelar pertunjukan wayang, tak henti-hentinya terus mengembangkan seni tradisional ini. Dengan upaya yang tak kunjung henti ini, membuahkan hasil yang menggembirakan dan membanggakan, wayang dan seni pedalangan menjadi seni yang bermutu tinggi, dengan sebutan ‘adiluhung’. Wayang terbukti mampu tampil sebagai tontonan yang menarik sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral keutamaan hidup.

Dari landasan perkembangan wayang tersebut di atas, tampak bahwa memang wayang itu berasal dari pemujaan nenek moyang pada zaman kuna, dikembangkan pada zaman Hindu, kemudian diadakan pembaharuan pada zaman masuknya agama Islam dan Blencong, alat penerangan pada pertunjukkan Wayang Kulit, juga mempunyai makna simbolik memanfaatkan masukan serta pengaruh budaya lain baik dari dalam maupun dari luar Indonesia. terus mengalami perkembangan dalam zaman kerajaan-kerajaan Jawa, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan hingga kini.

Indonesia Asli

Asal-usul wayang menjadi jelas, asli Indonesia yang berkembang sesuai budi daya masyarakat dengan Wayang Indonesia memiliki ciri khas yang merupakan g jatidirinya. Sangat mudah dibedakan dengan seni budaya sejenis yang berkembang di India, Cina, dan negara-negara dikawasan Asia Tenggara. Tidak saja berbeda bentuk serta cara pementasannya, cerita Ramayana dan Mahabarata yang digunakan juga berbeda. Cerita terkenal ini sudah digubah sesuai nilai dan kondisi yang hidup dan berkembang di Indonesia.

Keaslian wayang bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa seperti wayang, kelir, blencong, kepyak, dalang, : kotak, dan lain-lain. Kesemuanya itu bahasa Jawa asli. -Berbeda misalnya dengan cempala yaitu alat pengetuk kotak, adalah bahasa Sanskerta. Wayang asli menerima pengaruh dari India. Bahasa dalam wayang ini terus berkembang secara pelan namun pasti dari bahasa Jawa Kuna atau bahasa Kawi, bahasa Jawa Baru dan bukan tidak mungkin kelak wayang ini akan menggunakan bahasa Indonesia. Wayang selalu menggunakan bahasa campuran yang biasa disebut ‘basa rinengga” ;maksudnya bahasa yang telah disusun indah sesuai kegunaannya. Dalam seni pedalangan, kedudukan sastra amat penting dan harus dikuasai dengan baik oleh para dalang.

Bentuk peraga wayang juga mengujudkan keaslian wayang Indonesia, karena bentuk stilasi peraga wayang yang imajinatif dan indah itu merupakan proses panjang seni kriya wayang yang dilakukan oleh para pujangga dan seniman perajin Indonesia sejak dahulu. Begitu majunya seni kriya wayang ini, banyak yang berpendapat bahwa dalam aspek kriya dan seni rupa. wayang sudah mencapai tingkat ‘sempurna’. Penilaian ini obyektif, tidak berlebihan, apabila dibandingkan dengan bentuk-bentuk peraga wayang atau seni boneka dari mancanegara.

Sarat dengan Falsafah

Kekuatan utama budaya wayang, yang juga merupakan jati dirinya, adalah kandungan nilai falsafahnya. Wayang yang tumbuh dan berkembang sejak lama itu ternyata berhasil menyerap berbagai nilai-nilai keutamaan hidup dan terus dapat dilestarikan dalam berbagai pertunjukan wayang.

Bertolak dari pemujaan nenek moyang, wayang yang sudah sangat religius, mendapat masukan agama Hindu, sehingga wayang semakin kuat sebagai media ritual dan pembawa pesan etika. Memasuki pengaruh agama Islam, kokoh sudah landasan wayang sebagai tontonan yang mengandung tuntunan yaitu acuan moral budi luhur menuju terwujudnya ‘akhlaqul karimah”

Proses akulturasi kandungan isi wayang itu meneguhkan posisi wayang sebagai salah satu sumber etika dan falsafah yang secara tekun dan berlanjut disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu ada pendapat, wayang itu tak ubahnya sebagai buku falsafah. yaitu falsafah Nusantara yang bisa dipakai sumber etika dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Wayang bukan lagi sekedar tontonan bayang-bayang atau ‘shadow play’, melainkan sebagai ‘wewa-yangane ngaurip’ yaitu bayangan hidup manusia. Dalam suatu pertunjukan wayang, dapat dinalar dan dirasakan bagaimana kehidupan manusia itu dari lahir hingga mati. Perjalanan hidup manusia untuk berjuang menegakkan yang benar dengan mengalahkan yang salah. Dari pertujukan wayang dapat diperoleh pesan untuk hidup penuh amal saleh guna mendapatkan keridhoan Illahi.

Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup ‘sangkan paraning dumadi’, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali keharibaan-Nya. Banyak ditemui seni budaya semacam wayang yang dikenal dengan ‘puppet show’, namun yang seindah dan sedalam maknanya sulit menandingi Wayang Kulit Purwa.

Itulah asal usul wayang Indonesia, asli Indonesia yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Secara dinamis mengantisipasi perkembangan dan kemajuan zaman.
READ MORE - Sejarah Wayang

Sejarah Migrasi Orang Jawa di Suriname

Sejarah Migrasi Orang Jawa di Suriname ; Rangkaian kegiatan bertajuk “Javasranang” akan digelar di Karta Pustaka Yogyakarta pada 12-18 April 2010 untuk memperingati 120 tahun migrasi orang Jawa Suriname. orang Jawa di Suriname tersebut dipekerjakan sebagai kuli kontrak perkebunan pemerintah Belanda.
Perempuan Jawa yang masih ingusan ini ditulis bernama Bok Djojopawiro dari Desa Kretek, Bantoel, Djocja. Ibunya bernama Waginah. Ia diberangkatkan dari Semarang ke Suriname 1 Maret 1920, dan tragisnya setahun kemudian mati di Suriname, 13 Juli 1921.
Peristiwa itu menjadi menarik karena sama sekali tidak pernah menjadi catatan penting bagi orang Jawa di Indonesia.”Kegiatan `Javasranang` bertema orang Jawa Indonesia-Suriname dalam sebuah refleksi budaya kontemporer tersebut, diselenggarakan untuk mempromosikan peringatan 120 tahun migrasi orang Jawa ke Suriname

Sejarah Orang Jawa di Suriname
Sejarah kolonial dan migrasi tenaga kerja telah menghasilkan komunitas yang unik jauh dari pantai Indonesia ….. Mungkin beberapa orang di Indonesia tahu bahwa ada komunitas besar orang-orang keturunan Indonesia yang tinggal di utara benua Amerika Selatan. Lebih dari 70.000 ‘Jawa’ hidup di Suriname, sebuah bekas koloni Belanda dan bersemangat negara multikultural terletak di utara Brasil di pantai Karibia.

Walaupun mereka telah di sana selama beberapa generasi, banyak dari mereka masih mengidentifikasi Jawa, walaupun sangat sedikit yang pernah mengunjungi pulau Jawa atau memelihara hubungan keluarga di sana. Tetapi mereka berbicara creolised versi bahasa Jawa, nama Jawa muncul pada semua tingkat masyarakat dan unsur-unsur budaya Jawa (seperti masakan) telah mempengaruhi bangsa ini budaya Karibia.

Sebuah sejarah kolonial Kenapa puluhan ribu orang dari keturunan Jawa tinggal di Suriname? Ini semua harus dilakukan dengan penghapusan perbudakan dan pentingnya sistem perkebunan di koloni ini. Pada 1863, pemerintah Belanda membebaskan lebih dari 33.000 budak di Suriname. Dalam dampak penghapusan ini, pihak berwenang mengikuti koloni Karibia lain dengan mengimpor pekerja diwajibkan dari British India untuk memasok perkebunan dengan buruh murah dan patuh. Lima tahun kontrak rinci hak-hak dan tugas dari indentureds. Penting bagi sistem buruh kontrak yang disebut sanksi pidana, yang memberikan hak majikan untuk menekan tuntutan pidana terhadap indentureds yang melanggar kontrak kerja mereka. Antara 1873 dan 1916 lebih dari 34.000 orang Indian Inggris datang ke Suriname.

Namun, keraguan muncul pada sumber tenaga kerja kontrak ini. Masalah utama adalah bahwa imigran India Inggris tetap warga negara asing, dan karena itu cukup proporsi penduduk suriname akan segera Inggris. Selain itu, mata pelajaran ini bisa naik banding terhadap keputusan tertinggi otoritas Belanda dan meminta bantuan dari Konsul Inggris, yang tidak akan meningkatkan kepatuhan dari tenaga kerja. Kekhawatiran tambahan adalah ketergantungan pada negara asing untuk tenaga kerja dan gerakan nasionalis yang berkembang di India, yang galak menyerang sistem kontrak migrasi. Bahkan, di India sistem ini dihapus pada 1916. Beralih ke Jawa dianggap sebagai alternatif sumber tenaga kerja.

Upaya awal untuk mengimpor orang dari Jawa datang ke sia-sia karena pemerintah Belanda tidak mengizinkan migrasi dari Jawa ketika ada ada kemungkinan untuk memperoleh tenaga kerja di India. Namun gerakan untuk merekrut Jawa mendapatkan kekuatan di tahun 1880-an akibat perubahan iklim politik di India. Keuntungan lain adalah bahwa Belanda sendiri akan mengendalikan proses rekrutmen dan imigrasi dan tidak akan bersaing dengan merekrut negara-negara lain, seperti yang terjadi di India.

Tradisi budaya jawa telah terbukti menjadi kuat, walaupun perubahan dan penyesuaian di Suriname, misalnya dalam bahasa, tidak terhindarkan menteri kolonial Belanda keberatan untuk emigrasi dari Jawa hingga akhir 1887 oleh berargumen bahwa rakyat Jawa tidak cenderung untuk bermigrasi ke jauh-jauh dan tidak dikenal Suriname. Setelah melobi berat dari Suriname pekebun dan pejabat, pemerintah akhirnya memutuskan untuk membiarkan percobaan pertama dengan kontrak seratus Jawa migran pada tahun 1890.

Meskipun keraguan tentang kekuatan fisik pekerja baru, migrasi ke Jawa suriname sekarang berwenang. Secara total, hampir 33.000 Jawa bermigrasi ke Suriname pada periode 1890-1939. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya dan Semarang merupakan daerah perekrutan utama. Hanya 20 hingga 25 persen dari migran Jawa kembali ke negara asal mereka sebelum Perang Dunia II. Sebagian besar imigran menetap di Suriname. Migran ditugaskan untuk perkebunan. Menurut kontrak, perkebunan harus menyediakan perumahan gratis bagi buruh. Namun, kualitas perumahan sering di bawah standar.

Para pejabat India Timur Belanda H. van Vleuten, yang mengunjungi Suriname pada tahun 1909 untuk menyelidiki hidup dan kondisi kerja orang Jawa, melaporkan bahwa kehidupan rumah tangga dari imigran Jawa menampakkan diri kepadanya sebagai ‘agak menyedihkan’. Sebagian besar kamar ‘memberi kesan kemiskinan besar penduduk mereka. ” Kontrak kerja tetap upah laki-laki dan perempuan, tetapi kebanyakan indentureds menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan upah yang terdaftar. Van Vleuten menyimpulkan bahwa “upah rata-rata yang diterima oleh pekerja kontrak jauh di bawah minimum.” Dia berargumen bahwa penghasilan itu terlalu rendah untuk mencari nafkah di sebuah koloni semahal Suriname.

Selain masalah materi ini, orang Jawa juga harus menghadapi penyesuaian untuk hidup baru, diet, dan bekerja rezim dalam lingkungan yang sering bermusuhan. Tidak mengherankan, kerinduan melanda banyak migran. Keinginan untuk kembali ke Jawa menjabat sebagai bentuk pelarian. Ini pelarian dan teknik lainnya, seperti pura-pura penyakit, tersembunyi menjabat sebagai bentuk protes terhadap sistem surat perjanjian rangkap dua. Kontinuitas budaya Tradisi budaya Jawa telah terbukti menjadi kuat, walaupun perubahan dan penyesuaian di Suriname, misalnya dalam bahasa, tidak terhindarkan. Namun generasi kedua dan kemudian masih mengidentifikasi dengan negara asal mereka. Para pemerintah Suriname juga secara aktif mempromosikan kelangsungan hidup budaya Jawa di masa sebelum Perang Dunia II. Pada tahun 1930, gubernur memulai sebuah ‘Indianisation’ proyek untuk mengisi koloni dengan petani Jawa, yang akan menetap dalam gaya Jawa-desa (desa) lengkap dengan agama mereka sendiri dan kepemimpinan sipil.

Program ini dipotong oleh perang. Setelah perang, lanskap politik berubah diperbolehkan untuk pembentukan partai-partai politik di Suriname. Kedua partai-partai Jawa, seperti semua pihak lain, berdasarkan etnisitas daripada ideologi. Sana ada persaingan yang kuat antara para pemimpin mereka, Iding Soemita dan Salikin Hardjo. Yang terakhir ini tidak terlalu berhasil dalam pemilihan umum pertama pada tahun 1949 dan kemudian berkonsentrasi pada mendorong kembali ke Jawa oleh kelompok memilih orang terampil. Pada tahun 1954, seribu Jawa berlayar bagi Indonesia, untuk memulai sebuah koperasi pertanian di Tongar di Sumatera Barat. Eksodus kedua terjadi di tahun 1970-an, ketika sekitar 20.000 orang Jawa berangkat ke Belanda pada malam kemerdekaan Suriname pada tahun 1975.

Politik, pentingnya kelompok penduduk Jawa tidak bisa dibantah politik, pentingnya kelompok penduduk Jawa tidak bisa dibantah. Sering orang Jawa terus keseimbangan antara yang lebih besar dan lebih kuat Afro-Suriname dan Hindustan (mantan British Indian) kelompok. Saat ini, Paulus Slamet Somohardjo adalah pertama-pernah Jawa Ketua Majelis Nasional. Pembangunan sosio-ekonomi mereka lebih lambat, tetapi sejak tahun 1960-an orang Jawa telah mengejar kelompok populasi lain, meskipun tingkat urbanisasi masih lebih rendah dibandingkan dengan kelompok besar lainnya.

Menyusul runtuhnya perkebunan di paruh pertama abad kedua puluh, banyak orang Jawa yang ditemukan bekerja di industri bauksit dan sektor pertanian. Hanya dalam dekade terakhir abad terakhir melakukan kehadiran Jawa dalam bisnis, profesi dan peningkatan layanan sipil. Demografis, orang Jawa sudah lama menjadi penduduk terbesar ketiga grup, tetapi Maroon (keturunan budak yang melarikan diri) sempit melebihi mereka dalam sensus terakhir tahun 2004. Menurut angka-angka ini, para kelompok Hindustan menghitung 135.000 orang, diikuti oleh Afro-Suriname (87.500), Maroon (72.600), dan Jawa (71.900). Orang Jawa yang unik telah menambahkan elemen etnis dan budaya ke Karibia dan Amerika Latin. Namun, hal ini tidak menghasilkan banyak kepentingan penelitian di Jawa dan kebudayaan mereka. Oleh karena itu akan baik untuk memperoleh pengetahuan tentang kehidupan, budaya, dan kemajuan dari Jawa di Suriname. Hal ini tentu worth it!
READ MORE - Sejarah Migrasi Orang Jawa di Suriname

Pagelaran Wayang di Solo Dihentikan Secara Paksa Oleh Sebuah Ormas Keagamaan

Nggilani! Itulah ucapan yang pertama kali terlontar dari mulut saya ketika saya bertemu dengan kawan-kawan pegiat seni di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta jalan Ir. Sutami-Solo beberapa hari yang lalu. Semuanya terasa tiba-tiba sangat menyesakan dada saya. Bagaimana mungkin sebuah pertunjukkan kesenian berupa pertunjukkan wayang yang digelar oleh Kelompok Kesenian Wayang Kampung Sebelah tiba-tiba saja dihentikan secara paksa oleh sekelompok orang-orang yang mengatasnamakan dirinya dari sebuah organisasi massa yang berlatarbelakang agama tertentu.

Pertunjukkan kesenian wayang tersebut digagas oleh Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) “Sinar Pelangi” yang didirikan oleh Joko Kristanto warga Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Pasar Kliwon-Solo. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Acara yang diselenggarakan pada hari jumat tanggal 27 Mei 2011 ini didukung oleh warga Mojo RT 06 dan RT 07 RW 05 Kelurahan Semanggi dengan dimeriahkan pementasan Wayang Kampung Sebelah (WKS).

Menurut Jliteng Suparman yang juga sebagai dalang WKS bahwa keterlibatan WKS pada acara tersebut bersifat sukarela, pentas secara cuma-cuma sebagai bagian dari misi “Serangan Pentas”. Yang mana sejak bulan Juli 2009 WKS secara mandiri memiliki program kegiatan yang dinamakan “Serangan Pentas” yakni pentas gratis ke kampung-kampung atau tempat-tempat tertentu dengan misi menebarkan nilai-nilai kebangsaan dan mengkokohkan empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. “Serangan Pentas” yang diselenggarakan bersamaan dengan acara peringatan Hardiknas dan Harkitnas oleh PAUD Sinar Pelangi tersebut merupakan “Serangan Pentas” putaran ke-69.

Kronologis Penghentian Pentas Wayang Kampung Sebelah (WKS)

Jum’at pukul 19.30 WIB, acara dibuka dengan atraksi tarian anak-anak siswa PAUD Sinar Pelangi, dilanjutkan sambutan-sambutan dari jajaran RT/RW dan Kelurahan.

Tepat pukul 21.00 WIB pertunjukan WKS di mulai sebagi satu-satunya sajian terakhir dari perhelatan di Kelurahan tersebut. Dengan menyajikan lakon “Yang Atas Mengganas Yang Bawah Beringas”, sebagai sajian akhir. Pertunjukan direncanakan selesai pukul 23.30 wib.

Sekitar pukul 22.10 WIB (saat pertunjukan sedang berlangsung), tiba-tiba datang 4 orang yang mengenakan jubah hitam dengan identitas yang tak jelas datang menjemput Joko Kristianto selaku ketua panitia penyelenggara. Joko diajak ke masjid Al Ansor yang tak jauh dari lokasi acara. Di masjid itu sudah berkumpul sejumlah orang berpakaian jubah hitam. Tanpa alasan yang jelas, orang-orang berjubah tersebut mendesak agar pementasan WKS segera dibubarkan.

Joko Kristianto sebagai Ketua Panitia Penelengara yang merasa telah mendapatkan ijin dan dukungan penyelenggaraan dari jajaran RT/RW dan Kelurahan setempat, dan telah menyampaikan surat pemberitahuan ke jajaran Polsek Pasar Kliwon, merasa keberatan untuk menghentikan pementasan WKS tersebut. Namun karena kemudian muncul tekanan berupa ancaman pembubaran paksa dengan kekerasan oleh kelompok jubah hitam tersebut, Joko memutuskan bersedia menghentikan pertunjukan demi menghindari konflik fisik. Setelah menerima kesanggupan penghentian acara tersebut, sekelompok orang berjubah hitam itu pun pergi meninggalkan lokasi acara.

Pada pukul 22.30 WIB pertunjukan Wayang Kampung Sebelah yang baru separoh jalan itu pun terpaksa berhenti. Setelah mendapat penjelasan tentang apa yang terjadi, Jlitheng Suparman selaku dalang WKS yang merasa hak ekspresinya sebagai seniman dan warga masyarakat yang dilindungi Undang-Undang telah dilanggar secara semena-mena oleh suatu pihak, memutuskan melaporkan tindakan arogan sekelompok oknum dari sebuah ormas agama tersebut ke pihak aparat kepolisian.

Namun respon dari pihak aparat kepolisian sungguh mengecewakan. Dengan dalih ketiadaan bukti fisik kekerasan pihak Polsek Pasar Kliwon menyatakan tidak menemukan pasal yang dapat dijadikan landasan untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Disamping itu pihak Polsek Pasar Kliwon juga mengatakan bahwa sehubungan dengan keberadaan laskar ormas yang sering bikin resah masyarakat tersebut bukan ranah tanggungjawab kepolisian untuk menanganinya. Oleh sebab itu pihaknya hanya mampu menampung saja laporan itu.

Menurut Jliteng Suparman bahwa kelompok tersebut disinyalir berasal dari sebuah ormas yang menamakan diri sebagai Laskar Hisbah, dengan base camp-nya yang tidak diketahui secara pasti alias tidak jelas. Sehubungan dengan ancaman kekerasan tersebut sempat terlontar ungkapan yang bernada mengancam dari komunitas tersebut dimana mereka mengatakan; “Yen ora gelem bubar ditabrak wae!” (kalau tidak mau bubar ditabrak/diserang saja!).

Saat saya bertemu dan menanyakan langsung kepada Jliteng Suparman sebagai pemimpin sekaligus dalang Wayang Kampung Sebelah (WKS) beliau membenarkan kejadian yang sangat memprihatinkan ini; “Dampaknya bagi wayang kampung sebelah tidak seberapa. Kami hanya hanya merasa hak-hak sipil kami yang dilindungi Undang-Undang telah dipangkas oleh sekelompok orang.Disamping itu kami pikir peristiwa tersebut mereupakan preseden buruk bagi tata tertib bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun penegakan hukum di Indonesia. Karena beberapa kurun waktu belakangan sudah berulang kali terjadi kasus serupa namun terkesan aparat melakukan pembiaran, maka kami Komunitas Wayang Kampung Sebelah memberanikan diri membesarkan isu kasus tersebut agar mendapat perhatian dari semua pihak!” pungkasnya dengan nada yang gelisah dan rasa keprihatinan yang sangat dalam.

Senada dengan Jliteng Suparman diakui juga oleh sekian banyak pekerja seni yang sering mangkal dan berkreasi di Taman Budaya Surakarta-Jawa tengah bahwa penghentian pertunjukkan Wayang Kampung Sebelah secara semena-mena itu sangatlah disesalkan. Dengan kata lain bahwa kemerdekaan berkesenian pekerja-pekerja seni di Solo telah dirampas oleh pihak-pihak yang memang telah dengan sengaja melakukan penjajahan proses kreativitas seniman-seniman Solo. Sementara itu ketidakpedulian dan sikap masa bodohnya pihak penegak hukum dalam hal ini pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Pasar Kliwon semakin menambah rasa sesal dan kekesalan yang mendalam disegenap sanubari pekerja seni di Taman Budaya Surakarta.

Berbagai pertanyaan menggantung di kepala saya. Ada apa sebenarnya? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di bangsa ini? Jika para pekerja seni sudah ikut-ikutan dimusuhi oleh sebuah kelompok yang nota bene mengatasnamakan sebuah agama tertentu, dimanakah lagi tempat yang sangat layak dan pantas untuk dijadikan sebagai ajang berkreasi bagi para pekerja seni? Apa tendensi mereka dibalik semua perlakuan pemberhentian secara paksa pertunjukkan tersebut? Padahal kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional.

Apapun juga alasannya, pihak-pihak terkait dalam hal ini POLRI, PEMKOT SOLO, PEMPROV JAWA TENGAH, Dinas Pendidikan Nasional-Solo, Dinas Pariwisata-Solo bahkan MENDIKNAS-RI dan MENBUDPAR-RI harus segera menyikapi hal ini. Dan, secara khusus pihak yang berwajib harus mengusut tuntas dan segera memproses secara hukum para pelaku tindakan yang sangat semana-mena yang juga telah melanggar Hak-hak Azasi Anak Bangsa. Sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di NKRI.

Sumber:kompasiana.com
READ MORE - Pagelaran Wayang di Solo Dihentikan Secara Paksa Oleh Sebuah Ormas Keagamaan

Melinda Si Cantik Pembobol Citybank Operasi Payudara

Akhirnya Melinda Dee Operasi Payudara Di Kramat Jati. Tentunya anda semua sudah tahu siapa Melinda Dee A.K.A Malinda Dee atau bisa juga Inong Melinda, tante cantik nan bahenol yang menjadi tersangka utama kasus penggelapan dana nasabah Citibank beberapa bulan yang lalu. Si tante cantik melinda dee ini menyita perhatian publik, bukan hanya karena kasus Citibank, namun juga karena info yang beredar bahwa melinda melakukan operasi pembesaran payudara di luar negeri.


Inong Melinda Dee

Nama inong melinda dee mendadak meledak di dunia maya, banyak orang yang mencari foto seksi melinda dee di banyak situs online. Dan ternyata akibat pembesaran payudara yang dilakukan melinda tersebut, dikabarkan ia menderita sakit akibat hal itu.

Menurut info yang didapat, melinda dee mengalami gangguan payudara dan harus segera di rawat dan harus melakukan operasi payudara. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Anton Bachrul Alam, beliau mengatakan, berdasarkan keterangan dari Kepala Rumah Sakit Polri Soekanto di Kramat Jati, Jakarta Timur, Brigjen (Pol) Budi Siswanto, tim dokter tengah melakukan langkah-langkah praoperasi.

Beliau juga menjelaskan, RS Polri hanya memiliki satu dokter ahli bedah. Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan meminta dokter ahli bedah dari luar RS Polri untuk membantu operasi payudara melinda dee itu.

“Nanti kami minta dari luar. Dokter bedah dalam negeri,” kata Anton di Mabes Polri.

Ketika ditanya masalah siapa yang akan membiayai pelaksanaan operasi payudara besar melinda dee, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Anton Bachrul Alam hanya menjawab dengan singkat saja. ” Nanti kita bicarakan.”


Sejak 26 Mei 2011, Malinda dee menjalani perawatan di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Selain menderita radang payudara, mantan Relationship Manager Citibank itu juga mengalami hipertensi dan stres. Pada 30 Mei, Kepala RS Polri Brigjen (Pol) Budi Siswanto mengatakan, radang pada payudara kemungkinan besar akibat operasi plastik yang dijalani Melinda dee di bagian payudaranya itu.

Perkembangan penanganan kasus melinda dee sendiri, pihak Polri masih berusaha melengkapi petunjuk jaksa agar berkas perkara penggelapan dana nasabah Citibank yang dilakukan oleh Melinda Dee dinyatakan lengkap (P21).

Ya akhirnya si tante cantik Melinda Dee yang menarik perhatian karena payudara yang sangat besar tersebut harus melakukan operasi di RS Kramat Jati karena mengalami Radang Payudara. Pasti anda semua akan mengatakan, dibalik sebab pasti akan ada akibat, melinda dee melakukan penggelapan dana dan akhirnya mengalami radang payudara yang membuat tante seksi Melinda Dee sakit dan harus melakukan operasi payudara kembali.
READ MORE - Melinda Si Cantik Pembobol Citybank Operasi Payudara

Wanita Terseksi 2011

Foto 10 Wanita Terseksi Tahun 2011 - Baru-baru ini, majalah pria dewasa Maxim merilis daftar Perempuan Terseksi Tahun 2011. Siapa saja yang menduduki peringkat 10 besar daftar tersebut?

1.Model lingerie Victoria's Secret, Rosie Huntington-Whiteley menduduki peringkat puncak daftar Perempuan Terseksi Tahun 2011. Kekasih aktor Jason Statham itu akan menyuguhkan kemampuan aktingnya lewat 'Transformers: Dark of the Moon'. Theo Wargo/Getty Images.



2.Bintang 'Date Night', Olivia Munn menduduki peringkat dua daftar Perempuan Terseksi Tahun 2011. Michael Buckner/Getty Images.



3.Dalam penampilan di atas panggung atau pun video klip, Katy Perry selalu tampil seksi. Pelantun hits 'Caliorfia Gurls' itu pun mendarat di peringkat tiga. Jason Merritt/Getty Images




4.Aktris Cameron Diaz sudah sering masuk dalam daftar Perempuan Terseksi Tahun 2011 versi Maxim. Tahun ini, ia berada di peringkat 4. Craig Barritt/Getty Images.




5.Mila Kunis sukses besar lewat perannya di film 'Black Swan'. Di daftar Perempuan Terseksi Tahun 2011, perempuan asal Ukraina itu berada di peringkat 5. Kevork Djansezian/Getty Images.





6.Model asal Israel Bar Refaeli berada di peringkat enam. Larry Busacca/Getty Images.



7.Anne Hathaway yang akan berakting sebagai Catwoman di film ketiga 'Batman' itu berada di peringkat tujuh. Pascal Le Segretain/Getty Images.




8.Natalie Portman yang saat ini tengah hamil berada di peringkat delapan. Michael Loccisano/Getty Images.





9.Cobie Smulders populer lewat perannya di serial 'How I Met Your Mother'. Perempuan berusia 29 tahun itu pun berada di peringkat sembilan. Frazer Harrison/Getty Images.





10.Jennifer Lawrence mendapat nominasi Aktris Terbaik Academy Awards berkat aktingnya ciamik di film 'Winter's Bone'. Ia berada di peringat 10 Perempuan Terseksi Tahun 2011. Ian Gavan/Getty Images.
READ MORE - Wanita Terseksi 2011

10 Greatest Women in the World

Previously, women are often regarded as being weak and helpless, but at the time of emancipation, as now she had been able to compete and prove that they too can do great things even lead a country. As the following list of 10 are some examples of mereka.10 women who had been named as a powerful woman in the world ...

1. Condoleezza Rice


Secretary Of State - U.S. - He was a mixture of African-American woman who became the first U.S. Secretary of State. He is an adviser to the leader of the superpower and has a tremendous level of confidence. He has served two previous presidents, George HW Bush and Ronald Reagan. With all the reasons listed above, Rice (50) is now a woman with the strongest position in the world. After four years of taking office as national security adviser, Rice is now the secretary of state since January last. Rice has played an important behind every important decision made ​​by President George W. Bush, Over the last four years I really rely on his counsel, through his experience
which I highly appreciate the incredible views and his views are sensible, the president said when announcing the promotion Rice. Rice's presence was required at this time when the credibility of Bush being duji the war in Iraq. With policies like steel and hard attitude, Rice earned the nickname Warrior Princess. During his tenure of this new, Rice has diplomatic activity, either by proposing the withdrawal of Israel from the Gaza Strip to reduce the Palestinian conflict, to propose six-party meeting
urge North Korea to stop weapons plans nuclear. Through his journey accompanied the president during a visit to European countries and Iraq make Rice also has close relations with other world leaders. Until now, Rice has visited 31 countries and within half a year already roam as far as 119,000 miles. According to an unofficial Web site proclaims, Condoleezza Rice for President 2008,. Rice's candidacy for the presidency would be a historic event in America.

2. WU YI

Vice Premier, Minister Of Health - China -
It's getting to be at the level of leadership within the Chinese Communist Party since 1962. Wu Yi, 66, is a member of the Central Committee in 2002, and is a former Health Minister in 2003. Wu Yi is very busy this year as he struggled to help China deal with the dissatisfaction of entrepreneurs due to the removal of textile factory quotas World Trade Organization.
In a courageous speech last June in Hong Kong, Wu Yi asked to end the politics of economic problems. This is an important step that can help existing problems. In response to international pressure, in July, China revalued the yuan by 2.1%, scrapping the yuan against the U.S. dollar strong for 10 years and replace it with a strong currency against other currencies spy, in which the dollar will occupy the high ground.

3. Yulia TYMONSHENKO


Former Prime Minister - Ukraine -
Tymoshenko, 44, was one of the leaders of Ukraine Orange Revolution that toppled a corrupt regime that exists. For her support, the country's new president, Victor Yushchenko, appointed her prime minister, a post he uses his power to shake up Ukrainian oligarchs. Step specifically was when he returned to swastakan industrial assets that were bought cheaply by Rinat Akhmetov billioner like and Victor Pinchuk. He received sharp criticism both from within and from outside Ukraine. The discontent has finally Tymoshenko was fired by Yushchenko in September. But this does not mean he stopped in his political activities. Tymoshenko likes controversy, and due to argument with the government in 2001, leading to her arrest and later dismissal. But he
plans to return in parliamentary elections scheduled for March 2006.

4. Gloria Arroyo

President - Philippines -
Arroyo, 58, now is struggling to maintain its position as an opposition party trying to hold accountable for a series of skandalnya, and her attempts to improve Manila's weak finances a mess, causing frustrated technocrats.
After elected president in 2001, Arroyo tried to work diligently on her governing platform eradicate poverty. Although there is economic improvement in 2004, but Arroyo's leadership unencumbered by the Muslim insurgency and the election of the Philippines became the second most corrupt country in Asia according to a survey of Hong Kong-based Political and Economic Risk Consultancy. Arroyo, a classmate of Bill Clinton at Georgetown University and also a professor of economics. Arroyo is currently under review by lawmakers over allegations of fraud to win election last year. Until now Arroyo has refused to testify before the Congress government.

5. MARGARET (MEG) Whitman

Chief Executive, eBay - U.S. -
As ruler of the online auction world's biggest, Whitman, 49, had repulsed the retreat of its competitors from Amazon.com and Yahoo To do that, he quickly fix the problems that arise and faithfully eradicate all the wrong things that found in the website and bring it to the advantage of consistent and make eBay a very profitable Internet products. Whitman is very impressive career, he also has the task of executives at Hasbro, Walt Disney Co. and Bain & Co.. Whitman also serves on the boards on eBay and also at DreamWorks Animation, Procter & Gamble and the Gap. Although there is instability in the stock, Whitman's personal wealth valued at $ 1.6 billion, and at the same time
made Whitman one of the richest man on the planet.

6. ANNE MULCHANY


Chief executive officer, Xerox - U.S. -
After Xerox managed to get out of a fatal fall during a recession in 2002, Mulcahy, 52, is now trying to restore the company's position in the top position in the world of technology. To show that there is a change in the Xerox, Mulcahy took over the highest position in 2001, and brought the company to the motto "The Document Company", with the name Xerox. As a veteran of Xerox, Mulcahy began working in sales 30 years ago. Working at Xerox is like a family for Mulcahy. Her husband is a retired Xerox executive, and his brother are older now runs the global services group. As one of the few elite women to run a top public companies, Mulcahy was also elected to sit on the leadership serving on the council (board), Citigroup and Target.

7. Sallie KRAWCHECK


Chief financial officer, Citigroup - U.S. -
This former equity analyst dubbed the "Mrs.Clean". Top openness in running the business carried her into the ranks of Wall Streets. After two years leading the Smith Barney unit of Citigroup's businesses that conduct research on global equity and
private-client groups, Krawcheck, 40, was chosen to become head of Citigroup's finances. She is viewed as one of the next generation of leaders within the company and is undoubtedly one of the most influential women on Wall Street. Power may increase even more so after the upheaval at the company and resulted in the cessation of Citigroup President Robert Willumstad. Image Krawcheck has been regarded as a catalyst that can stabilize.

8. BRENDA Barnes

Chief Executive Officer, Sara Lee - U.S. -
Barnes, 51, served as chief executive earlier this year after Sara Lee announced a reform that changes the structure of the proposed sale of new products totaled $ 8.2 billion in revenue. At the same time, Barnes also handles corporate inefficiencies by encouraging the purchase of inter-section and less bureaucracy.
Barnes left PepsiCo in 1998 because he wanted to spend more time with his family. Then Barnes re-entered again into the world of business.
Barnes is one of the examples in the corporate world where he as a career woman daring to sacrifice his career for the sake of his family and make a 'come back' in the business world with remarkable progress in his career.

9. Oprah Winfrey

Chairman, Harpo - U.S. -
He is worth more than $ 1 billion, he get, he led the television show is very famous, he also produces magazines that are very hard sell (O, The Oprah Magazine) and a cable channel (Oxygen Media) It is a woman who is very successful in its status in the media international. According to the spokesperson, The Oprah Winfrey Show, was first launched in 1986, is aired in 112 countries, including the United States. Additionally, Winfrey is also a vocal advocate for education and welfare of women and children around the world, giving to those in need via Oprah's Angel Network and her personal charity, The Oprah Winfrey Foundation.

10. Melinda Gates

Co-founder, The Bill & Melinda Gates Foundation - U.S. -
Statistics show the number of highly surprising and disturbing, millions of children die every year because of simple diseases can be prevented, only half of all American and Hispanic students who graduate from high school as well as thousands of homeless people sleeping on the streets every night. These are the statistics that have so distressed Melinda Gates, 41, wife of the inventor bilioner Microsoft, Bill Gates. He decided to give donations of $ 28.8 billion.
This donation is given to health and education for people who require in various corners of the world, including families that lack in the Washington and Oregon. Gates also sits on the boards of The Washington Post Co. and drugstore.com
READ MORE - 10 Greatest Women in the World