PPC Iklan Blogger Indonesia
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pitutur / Nasehat Jawa Dalam Peribahasa

Sebagai orang jawa pasti kita sering mendengar orang tua berkata urip iku urup? terutama seorang kakek memberi nasehat pada nak atu cucu-nya. sebenar-nya filosofi orang jawa yang di tuangkan dalam perbahasa, yang bermakna pitutur atau nasehat contoh-nya dibawah ini beberapa pitutur jawa dalam peribahasa :


1.
Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).


2.
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).


3.
Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)


4.
Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)


5.
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

6.
Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

7.
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).


8.
Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka).


9.
Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).


10.
Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
READ MORE - Pitutur / Nasehat Jawa Dalam Peribahasa

Ketika Cinta Dipertanyakan??


Langit kelabu mengiringi langkah Dyan yang mulai lunglai. Peluhnya sudah bercucuran entah kemana-mana. Ia mulai berlari mengejar mobil tua yang hampir saja menabraknya tadi. Ia berlari sekuat tenaganya. Tapi,laju mobil itu pun agak tersendat melewati jalan kecil yang penuh lumpur di daerah perkampungan padat. Anak-anak berpakaian kumuh terlihat lalu lalang berlari kesana kemari dengan riang tanpa memperdulikan daerah sekitarnya yang penuh kubangan lumpur karena hujan yang baru saja turun. Belakang tubuuh Dyan juga agak kotor karena percikan lumpur yang menempel. Mobil itu lalu berhenti di tengah lapangan yang sangat hijau. Di sini tidak ada seorang anak kecil pun yang bermain. Hanya hamparan rumput yang luas saja yang berada di sekitar jauh pandangan mata memandang. Sungguh jarang dapat melihat pemandangan seperti ini di kota besar. Dyan terpaku sesaat lalu dari arah mobil itu keluarlah seorang kakek tua yang umurnya kira-kira 75 tahun. Langkah kakinya menghampiri Dyan yang baru berusia 15 tahun. Ia lalu tersenyum terhadap Dyan lalu memeluk dan mencium kening Dyan yang basah akan peluhnya. Kakek itu lalu mengusap-usap kepala Dyan dengan sangat lembut sekali.
“ Dyan! Ini adalah lapangan yang dapat menyejukan hati. Jika kamu beruntung kamu akan menemukan harta yang tak ternilai.”
“Jadi? Harta karun? Benarkah itu? Kakek tidak bohongkan sama Dyan?”
“Ia,Dyan! Ayah dan ibumu menemukan harta karun yang sangat beharga di sini. Kamu juga harus dapat menemukan harta itu.”
“Baik,Kakek! Dyan paham! Dyan akan selalu menuruti apa kata kakek. Biar ayah dan ibu selalu sayang sama Dyan walaupun mereka sudah berada di surga.”
Sang kakek tidak dapat lagi berkata-kata. Hanya buliran bening yang menetes dari mata kakek itu. Cucu tunggalnya ia peluk dengan hangatnya walaupun bau keringat bercampur lumpur telah perpadu menjadi satu. Akhirnya,langit ikut kembali menangis.
Dyan dan kakeknya berlari menuju mobil tua yang terpakir di lapangan itu. Sang kakek mencoba menghidupkan mobil tuanya dengan sabar. Dengan perlahan akhirnya mobil tua itu dapat berjalan melintasi perkampungan kumuh itu. Kakek itu membawa mobil itu dengan santai. Keluarga kecil sederhana ini hanya memiliki cinta yang sangat berarti dalam kehidupanya. sebenarnya sang kakek memiliki usaha yang telah ia rintis sejak puluhan tahun lalu tapi,usahanya kini di ambil alih oleh anaknya yang lain yang usianya amat sangat muda sekitar 20 tahunan. Dyan dan kakeknya berniat mengunjungi keluarganya di luar kota. Saat mereka hendak berangkat langit menangis lagi. Karena musim hujan sedang berlangsung. Saat mereka melewati tikungan yang sangat tajam sekali naas mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan mereka di larikan ke rumah sakit oleh warhga sekitar. Dalam kecelakaan itu Dyan harus kehilangan kakek yang selama ini dia sayangi. Ia juga harus kehilangan penglihatannya. Kini,Dyan tidak dapat lagi melihat indahnya dunia.
*****
2 minggu kemudian…
Dyan kini di asuh oleh tantenya yang masih berusia 20 tahunan. Nama tantenya adalah Naksita tapi Dyan lebih senang memanggil tantenya dengan sebutan Sita. Tante Sita sangat sayang sekali terhadap Dyan. Telah bertanya pada seorang dokter ternama untuk menyembuhkan Dyan. Tidak sampai 2 bulan lagi Dyan akan melihat bumi.
“Tante,terimakasih!”
“Dyan sekarang tanggung jawab Tante Sita jadi gak usah berterimakasih.”
“Tante,,,”
Dyan yang seorang diri selalu memegang boneka kelinci yang diberikan oleh sang kakeknya. Setiap sore ia selalu duduk di bawah tangga rumah tantenya. Hari-hari di laluinya dengan semangat baru yang sedang di tanamnya. Kini adalah hari ia dapat melihat kembali ia sangat senang sekali. Ia dan tantenya berjalan menggunakan mobil yang sangat mewah sekali. Hari ini adalah hari operasinya ia sangat senang sekali. Ia akhirnya dapat melihat kembali. Saat di lobi Rumah Sakit ia di suruh tantenya menunggu di kursi yang berada di sekitar sana.
“Dyan… kamu tunggu dulu di sini. Tante mau mengururus administrasi yang ini.”
“Oke,tante…!”
“Dyan jadi anak yang baik ya!”
“Ia tante!’’
Dyan yang polos itu pun duduk dengan manis di kursi. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menusuk-nusuk tubuh Dyan yang sedang duduk santai. Ia asanngat terkejut sekali tapi apa daya ia tidak melihat sama sekali. Hal itu di biarkan saja sampai kejadian itu terulang hingga tiga kali ia sangat geram dan akhirnya emosinya meluap-luap. Ia mulai menegaskan dirinya yang sedang duduk itu.
“Hai,hentikan!”
“Hei,marah ya!”
“Ia,kenapa? Aku sudah bosan. Kamu siapa? Mentang-mentang cowok jadi seenaknya ma cewek ya!”
“Yah,marah nie cewek…”
Duduk di samping Dyan. Cowok yang usianyan sebaya dengan Dyan. Lalu ia memperhatikan gadis manis ini dengan seksama lalu ia tertawa renyah dengan manisnya.
‘Kenapa kamu tertawa? Ada yang Lucu???”
“Gak! Hanya saja kamu lucu ya!”
“LUCU??? Whats meaning of Lucu??? Kamu nyebelin…. “
“Tu kan lucu!(senyum) mata kamu juga indah…”
“…..(Diam terpaku lalu menagis ) Oh,indah….”
“Kenapa kamu menangis???”
“Kamu menyebut mataku indah …. Sedangkan aku gak bisa melihat indahnya dunia.”
“(Setengah kaget) Apa??? Kamu Bu… Buta???”
“Ia sejak 3 bulan lalu. Aku mengalami kecelakaan. Tapi,pada hari ini aku akan menjalankan operasi.”
“Oh…. Aku mendukungmu ya!!!”
“Dukungan??? Kamu siapa sieh???”
“Oh,ya ! kita belum kenalan nama kamu siapa???”
“Nama Aku Dyana Aura Putrisca. Tapi,kamu bisa memanggil aku Dyan. Kamu sendiri siapa? Ngapain di Rumah Sakit…??? Paling jenguk keluarga atau Cek up aja!”
“Apalah artinya sebuah nama Dyan…”
“Curang!(Emosi meningkat) aku sudah memberi tahukan namaku…”
“ia… Ia… (Dengan senyum) Nama aku Putra Ryanne Alfinsya. Tapi,kamu bisa manggil aku Putra usiaku 15 tahun. Aku baru lulus SMP. Dan aku sekarang akan menjadi siswa SMA di kota ini. Hobiku main sepak bola dan favorit makananku Sate ayam aku ke siini dalam rangka jenguk keluarga. Trus… cita-citaku..(Berhenti)”
“Ah,gak peduli ma biodatamu… umur kita sama kok. Percuma aja kamu ke sini kalau Cuma gangguin pasien di sini,Tra! Kamu gak tau rasanya jadi orang sakit sieh…”
“(Diam lalu tersenyum) Ia sieh…. Eh,kayanya tante kamu sudah datang. Aku doakan kamu cepat sembuh ya! Aku tunggu kamu lo. Aku akan ada di sini selama seminggu jadi kita bisa ketemu.”
“(Senyum) janji ya! Jangan nakal !”
Cowok ini langsung pergi dengan tersenyum. Ia melangakah bagaikan kilat. Tapi,dari hidungnya mengalir darah segar makanya ia langsung pergi dari hadapan Dyan. Ia seperti sedang menyembunyikan seuatu.
“Dyan… ayo,Kita ke ruang periksa.”
“ia,tante. Put,aku duluan ya!”
“kamu bicara dengan siapa sayang?”
“Sama Putra. Dia tadi di sini. “
“Gak ada siapa-siapa. Ah,paling kamu khayal doang!’
“Mungkin …. Ya,Mungkin!”
Dyan ternyata tidak menyadari kepergian Putra yang cepat itu. Tapi,Putra telah berjanji terhadap Dyan. Dyan maju selangkah dari tempat duduknya. Mungkin benar kata tantenya yang tadi hanya khayalan Dyan saja. Ia juga beranggapan demikian. Dyan menjalani operasinya pada malam hari. Dan sukses tim medis dan para medis sangat memuasaka di pastikan 3 atau 4 hari lagi Dyan dapat melihat isi dunia. Ia sangat senang sekali. Hari kedua ia tertidur pulas di kamarnya. Ia seperti terjaga dari indahnya malam dan hujan yang turun. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara yang membangunkan Dyan dari lelapnya pada malam itu. Suara langkah kaki yang misterius lalu ada tangan halus yang meraba Dyan.
“(dengan halus)Dyan…. Dyan… “
“(perlahan) Putra? Kamu datang?”
“Kan sudah janji.”
“Ini aku bawakan kue buatanku sendiri. Dan aku gak bisa kamu liat nanti saat kamu bis amelihat bumi ini. Maaf ya!’
“Kenapa? Ada apa Putra?”
“Gak… (Agak ragu). Bukannya aku gak nepati Janji. Hanya saja aku harus pergi.”
“Putra… “
“Eh,sudah malam aku pergi dulu ya!”
Putra pergi dari kamarnya Dyan ia hanya pergi seperti angin yang lalu lalang tanpa arah. Sedangkan,Dyan hanya dapat tersenyum. Ia mengira itulah teman khayalnya. Pagi pun tiba dan tantenya datang dengan senyum yang paling ceria sekali.
“Dyan… ini tante bawakan makanan.”
“Ia,tante. “
“Eh,ada makanan kue lagi. Tante minta ya!”
“Kue? Ia deh boleh aja…”
“Wah,enak sekali!”
Tante Sita membersihkan kamar itu dengan senang hati. Dyan menyadari bahwa Putra itu nyata dan dia akan selalu ada. Buktinya kue itu masih ada. Besok,menuurut dr.Andi yang menangani Dyan ia dapat membuka perban pada esok hari. Hari esok yang sangat di nantikan oleh Dyan yang senang sekali.
Hari ini adalah hari yang sangat di harapkan Dyan. Ia akan melihat dunia dan sesuai jadwal dan kehendak Tuhan YME ia dapat melihat dunia lagi. Sungguh senang sekali hati Dyan. Hari ini dia juga telah dapat pulang. Ia membawa barang-barangnya. Ia menunggu di Lobi RS sendirian. Ia sedang menunggu Tante Sita mengambil mobilnya. Ia teringat akan Putra yang tidak bisa datang pada hari itu. Ia sebenarnya menantikan teman barunya itu. Saat ia tertunduk di belakangnya ada IGD dan di dalam IGD ada seorang ana kecil yang terbaring lesu. Itu Putra di dampingi keluarganya. Di ruang dokter terdengar percakapan orang tua Putra bersama sang dokter.
“Jadi,gimana kondisi anak kami?”
“Hmm…. Bapak dan ibu yang sabar,ya!’
“Maksud dokter??? “
“Anak bapak dan fisik sangat sehat sekali. Tapi,disayangkan sekali… ia tidak boleh kecapaian. Ia sebenarnya dalam kondisi yang lemah.”
Putra mendengar percakapan itu. Ia hanya tersenyum saja. Di lobi,Dyan sangat senang akhirnya ia dapat melihat lagi. Ia sudah siap untuk bersekolah lagi. Ia akan bersekolah di salah satu SMP ternama di Kota itu. Sebenarnya ia masih memikirkan Putra. Ia sangat bingung terhadap anak satu itu. Putra datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan tiba-tiba pula. Putra yang masih berada dalam pikirannya. Lain halnya dengan Dyan Putra sekarang sedang mempersiapkan keperluan sekolahnya. Ia sangat senang sekali. Ia juga masih memikirkan Dyan. Menurutnya Dyan akan menjadi gadis yang baik dan sopan. Begitulah pikirnya.
*****
Hari ini adalah hari pertama dia sekolah dengan seragamnya yang baru. Ia melangkahi jalan-jalan sekolahnya dengan senang sekali. Anak-anak di tahun ajaran baru juga masih terus berdatangan. Ia kini duduk di bangku kelas 1 SMA. Tepatnya di 10 A. ia sangat senang sekali. Hari-hari di laluinya dengan senang hati. Banyak juga ia memperoleh teman bahkan ia aktif di kegiatan OSIS. Ia menjadi seksi Mading. Suatu hari ia hendak memasang mading yang berada di sekitar lapangan. Ada anak-anak 10 c yang sedang berolah raga lari. Itu tidak mengganggu baginya tapi,tiba-tiba ada yang lari dengan sangat kencang tanpa memperhatiakan arah dan Brukkk… Dyan terjatuh.
“Maaf,ya!”
“Aw,kalo lari liat-liat dong!”
“Ia,maaf! (memandang wajah Dyan) eh,kamu….”
“(kesal)Apa???””
“Dyan??? Dyan… Dyana Aura Putrisca? Ia kan?”
“Ia,kamu kok tau. Eh,padahal kita gak pernah kenal sebelumnya.”
“Masa lupa…? Oh,ya ! aku yang lupa… kita pernah ketemu lo! Aku…”
“PUTRA….. ayo lari!”
“Ia,Pak Heru.”
“Putra? Putra Ryanne Alfinsya…. “
Dyan hanya dapat tersenyum. Ternyata ia dapat bertemu lagi dengan Putra. Dalam hatinya inikah Putra yang pernah mengganggu dia. Ini adalah Putra yang menjenguk dia. Dan ini benar adalah Putra. Tapi,percakapan mereka terhenti karena pak Heru,Guru Olahraga menyuruh Putra lari kembali. Dyan melangkah dengan senyum yang sangat mengembang. Nampak sekali keceriaan yang ada di wajahnya yang lugu itu. Begitu pula dengan Putra yang tersenyum. Dan saat di kantin mereka saling bertemu. Mereka semakin akrab ya,walaupun si Putra tingkahnya sangat menyebalkan sekali. Mereka sering di sindir teman-teman mereka sebagai sepasang kekasih. Tapi,Dyan dengan tegas mengatakan tidak. Saat pulang sekolah pun Putra ada di depan gerbang sekolah menunggu Dyan.
“Dyan….(Menjulurkan Lidahnya) Jelek!!!!’
“PUTRA!!!! “
“Jelekkkk…”
“Aku benci kamu….”
Dyan lari dan menangis sedih sekali. Buliran air matanya tidak bisa tertahan lagi. Ia sebenarnya sangat sayang kepada Putra yang sudah di anggap Sahabatnya itu. Tapi,Putra sering membuat Dyan sakit hati dengan ucapan Putra yang terkadang kasar yang sebenarnya bermaksud untuk bercanda semata. Putra juga merasa bersalah. Tapi,saat Dyan lari ia bertemu Patra yang baik. Ia juga adalah ketua kelas sekaligus ketua OSIS di sekolah.
“Dyan? Jangan nangis…”
“Tra…. Putra kejam.”
“Ia tapi maksudnya hanya bercanda.”
“(matanya yang berkaca-kaca) Patra…. Kamu gak tau sensitifnya hati cewek.”
“(Diam) Tapi,aku tau cara buat cewek gak nangis.”
“Caranya…”
“….. Dengarkan step by stepnya….”
Dengan tiba-tiba Patra memeluk Dyan yang sedang menangis. Dyan pun diam terpaku. Hal itu di lihat Putra yang bermaksud mengejar Dyan. Terkejutlah Dyan dengan hal itu.
“Hmm…. Ingat-ingat ini adalah TEMPAT UMUM.”
“Tra… Putra…. (melepaskan pelukan) gak ini….”
“Kak Patra jangan ambil kesempatan dong! Cewek ini kan masih single…’
“Ia,Putra. Tapi,kamu buat dia nangis.”
“Sudahlah! Ayo,Dyan kita pulang.’
Tangan Dyan di tarik oleh Putra lalu ia hanya dapat meninggalkan Kak Patra seorang diri. Sebenarnya Rumah mereka searah. Namun,Putra gak mau pulang bareng ma Dyan. Putra juga mengikuti exkul Futsal. Minggu depan kelasnya akan bertanding melawan kelas 11 IPA B yang berarti ia akan berhadapan dengan Patra. Putra sangat menantikan saat itu. Sehari sebelum pertandingan ia pke RS dan kebetulan sekali ia bertemu dr.Andi. mereka sangat akrab sekali.
“ jadi dr.Andi mau menonton pertandingan Futsal Putra?”
“Wah,dokter ingin sekali. Tapi,saya gak bisa. Putra terus jaga kesehatan ya!”
“Oo… tenang aja! Saya akan terus menjaga kesehatan saya. Kan saya sudah bertekad ingin jadi dokter.”
“Putra…. Putra….”
Sang dokter lalu berlalu. Kebetulan lagi Dyan juga berada di RS dan ia bertemu dengan Putra. Ia melihat Putra keluar dari Apotek dan membawa berbagai macam jenis obat-obatan.
“Weitzzz….Putra besok tanding lawan kak Patra ya?”
“Ah,Dyan! Ia… dukung aku ya!”
“Kamu??? Mending kak Patra yang aku dukung.”
“terserah kamu…”
“Marah ya???”
“Enggak…”
“Kamu banyak bawa obat… liat dong!”
Dengan sigapnya Putra membawa obat itu dan memalingkannya agar tidak terlihat oleh Dyan. Dyan bingung dengan sikap Putra. Tapi,ia tidak curiga dengan sikap Putra.
“Hayo… obat apa itu???”
“Ini….”
“Pasti vitamin. Atau suplemen buat stamina kamu.’
“Ia. Kamu ngapain di sini?”
“Aku ngecek mata.”
“Owh…. Jalan yuk!’”
“Kemana?”
“Ayo….”
Putra menarik tangan halus Dyan yang masih bingung dengan sikap Putra. Putra mengajak Dyan ke belakang RS di sana ada taman yang sangat indah sekali. Taman yang banyak kupu-kupu. Putra menceritakan banyak hal tentang RS itu. Putra sepertinya hafal betul dengan lokasi manapun di rumah sakit itu.
“Kamu tau gak?”
“Apa,Tra.”
“Di belakang RS ini ada perkampungan dan tepat di delakang air mancur itu ada lapangan sepak bola yangh besar sekali. Aku sering berlatih di sana dan di dekatnya juga ada danau yang sangat indah. “
“Apakah ini….”
“Apa,Dy?”
Putra menarik tangan Dyan. Mereka mengelilingi taman RS dan ternyata benar sekali di belakang air mancur itu ada lapangan yang sangat luas. Astaga,inilah lapangan yang dulu ia sering jumpa bersama kakeknya. Ia ingat jika lapangan ini akan membawa kebahagiaan karena ini adalah lapangan hijau yang mempersatukan orang tuanya. Ia tersenyum lalu buliran air matanya menetes karena terharu. Anak-anak kampung juga bermain bola dan layangan di sini. Putra juga tampaknya akrab sekali dengan tempat ini. Dyan melihat tawa manis Putra yang bermain bola bersama anak-anak yang sangat ceria sekali. Tapi,ponsel Dyan berbunyi dan ada pesan masuk dari Tante Sita. Ia harus segera menuju lobi karena tantenya sedang menunggunya. Tidak ingin mengecewakan tantenya ia pegi dari tempat itu.
“Putra… aku duluan.”
“apa? (menghampiri Dyan) baiklah. Jangan lupa besok dukung aku.”
“Putra.. (senyum pasti) Oke!”
“(mengembang senyum) trims…”
Tapi,tiba-tiba darah mengalit dari hidung Putra.
“Put,kenapa?”
“Oh,ini! Gak apa Cuma mimisan… ntar hilang kok!”
“baiklah… kamu hati-hati ya! Aku duluan….”
“ia….”
“…. Dadah….’
Dyan pergi meninggalkan Putra seorang diri bersama anak-anak kampung. Dyan merasa ada yang aneh dengan Putra. Tapi,sudahlah ia masih fokus dengan ujian kenaikan kelas. Hari yang di tunggu tiba. Hari ini pertandingan futsal antar kelas 10 C vs 11 IPA B. tapi,hari ini juga sangat membingungkan bagi Dyan. Ia bingung harus dukung Putra atau kak Patra. Tapi,pertandingan ini memang harus sportif. Pertandingan pun di mulai. Pertandingan ini sangat menegangkan di menit 5,11 IPA B sudah mencetak angka lal di susul di menit 12 Putra mencetak angka. Babak kedua juga sangat gesit sekali. Sewaktu Putra hendak menendang bola ia di tabrak dengan kasar oleh anak-anak 11 IPA B dan ia terjatuh anak-anak 11 IPA b berhasil mencetak angka dan menjadi pemenang dalam pertandingan ini. Putra belum bangkit dari tengah lapangan. Apakah ia pingsan? Hati Dyan terus bertanya-tanya. Dyan lalu menuju ketengah lapangan. Dengan lari kecil ia menghampiri Putra..
“Tra… kamu gak apa?”
“Gak kok….”
“Eh,mulut kamu berdarah…”
“Ha? Pantesan rasanya asin… hehehe…”
“Putra… (mata berkaca-kaca) sempatnya kamu tertawa…”
“Gak apa. Lo bukan gini bukan cowok namanya. Memang akunya aja yang lemah. Kena sepatu lawan.”
“Ini namanya gak sportif pertandingan harus di ulang.”
“Gak usah!”
Patra langsung datang menghampiri arah mereka. Ia tersenyum dengan wajah yang gak mendukung banget dengan ini semua.
‘’Kak Patra ini namanya curang.,,!’
“Ia… Dyan! Tra,kamulah pemenangnya yang sejati karena kamu spotif mainnya.”
“Kak Patra……. Putra gak mau menang karena kasihan dari seorang cewek.”
Putra bangkit lalu pergi meninggalkan mereka. Dyan kemudian juga ikut berlalu dari lapangan tinggalah Patra sendirian di lapangan. Seperti tiada lagi cerita di kerumunan keramaian orang. Seminggu telah berlalu ulangan kenaikan kelas telah tiba. Semua anak-anak sangat sibuk sekali dalam mengerjakan soal. Adapula yang menyontek dan mengerpek. Yah,namanya juga pelajar. Ulangan di kelas Dyan berlangsung dengan tenang. Dyan sangat fokus sekali dengan ulangannya tapi,ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dan ia sangat kaget sekali. Ponselnya sempat di sita guru. Tapi,akhirnya di kembalikan lagi. Ternyata ada pesan masuk dan itu dari Patra dan Putra. Isi pesan itu hampir sama.

Dear Dyan
From Kak Patra
Dyan setelah ulangan selesai aku tunggu kamu di kantin. Aku ingin kita jalan dan nonton hari minggu nanti.

Dear Dyan
By Putra
Dyan aku tahu sering jail ma kamu. Jadi untuk itu semua aku undang kamu buat kue di rumahku hari sabtu besok jam 2. Aku tunggu ya… ^^

Dyan sangat senang sekali. Tepat pada hari sabtu ia datang kerumah Putra. Ia di jamu oleh orang tua Putra dengan sangat baik sekali. Mereka menganggap Dyan seperti anak mereka sendiri. Ternyata adalah putra tunggal dari keluarga ini. Putra nampaknya sangat mahir sekali memasak. Apalagi kue. Dyan sering dibuatkan kue oleh Putra. Sehingga kue buatan Putra menjadi makana favoritnya. Berat badan Dyan pun ikut naik tapi tetap stabil. Mereka di dapur asyik sekali membuat cake. Sungguh,pemandangan yang tak biasa bagi orangtua Putra. Setelah berhasil membuat kue mereka makan siang bareng. Hari ini di lalui Dyan dengan gembira. Ia juga membawa sisa kue untuk di makan di rumahnya. Ia sangat senang sekali. Kebetulan juga senin depan adalah hari penentuan kelas. Ia sangat senang sekali. Dyan memeluk boneka kelinci dari kakeknya. Ia tertawa sendirian di kamarnya. Hal itu membuat tante Sita tersenyum saja. Keesokan paginya,ia bersiap-siap hendak berangkat jogging bareng Putra. Ia sangat senang bisa melakukan hal itu. Ia lari tapi,langkah kakinya kalah cepat dengan langkah kaki Putra.
“Ayo,Dy!”
“Capek,Tra!”
“Ayo… biar lemak dalam tubuh hilang.”
“Dasar kurus….”
Mereka berlari lagi bersama-sama. Setelah kecapaian mereka sarapan bubur ayam di taman kota. Mereka seperti senang-senang. Setelah menyantap itu mereka lalu pulang kerumah. Setelah sampai rumah Dyan bersiap-siap berangkat nonton bareng kak Patra. Ia di jemput Kak Patra sekitar pukul 2 siang. Mereka pergi menggunakan sepeda motor. Mereka menghabiskan waktu menunggu film dengan makan.
“Kak Patra tadi tau gak Dyan jalan ma Putra. Putra itu larinya cepat banget.”
“Oh,Begitu!”
“Ia… Putra itu….”
Dyan terus saja membicarakan semua hal tentang Putra. Putra dan Putra sampai-sampai saat menonton film saja mereka memokuskan cerita pada Putra. Seharian jalan ada saja nama Putra di sebut Dyan. Mereka akhirnya selesai menonton film. Patra pun mengantarkan Dyan pulang.
“Dadah kakak…”
“Dah,Dyan!”
Dyan masuk rumah tanpa mengajak Patra masuk terlebih dahulu. Patra sebenarnya agak kecewa dengan semua hal yang dikatakan Dyan tadi. Ia melajukan kendaraannya dengan cepat sekali.
“Dyan… kenapa di pikiranmu hanya ada Putra dan Putra… gak taukah kamu di sini aku sayang kamu…” ucap Patra yang terus melajukan kendaraannya dengan kencang. Dan… brukkk….. kendaraannya di tabrak sebuah mobil yang melintas di jalan raya. Patra di larikan kerumah sakit. Keesokan paginya,Dyan yang santai melangkah lalu di datangi kerumunan anak OSIS. Ia bingung sekali.
“Dyan… ketua osis… kecelakaan tadi malam.”
“Kapan? Kemarin aku baru jalan ma dia. Gak mungkinlah Yan!”
“Tapi,beneran,,,, Ryan gak mungkin bohong.”
“Felis… kamu kok belain Ryan sih?”
“Sudah… sudah… Felisha… Dyan… ini berita benar ayo kita jenguk dia nanti sepulang sekolah.”
“Baiklah….”
Sepulang sekolah mereka datang ke RS menggunakan mobil milik Ryan. Sebenarnya sekolah sedang libur seminggu hanya saja karena ada urusan OSIS mereka para pengurus Osis harus datang ke sekolah. Saat mereka ke RS mereka terkena macet yang cukup panjang. Hampir 3 jam mereka terjebak macet. Akhirnya sampailah mereka di RS. Nampak Patra yang sedang makan bubur di suapi mamanya. Mamanya yang ramah lalu mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam kamar perawatan Patra. Ibunya menghindar dari semua teman-temannya lalu pergi seperti anngin yang sengaja lewat. Patra nampak kesakitan mengingat kakinya yang patah. Dyan mencoba duduk di samping Patra lalu dia menatap mata Patra dengan tajam. Teman-temannya hanya memperhatikan dengan tegas saja. Lalu Felisha dan Ryan keluar dari kamar itu. Kini,hanya tinggal Dyan dan Patra saja yang berada diruangan itu. Hampir 15 menit berlalu tapi tiada suar ayang terdengar dari ruangan itu. Suara detak jam saja terdengar cukup jelas karena sepinya ruangan itu. Barulah keluar kata-kata dari mulut Patra.
“Dyan…”
“Ya,kak….”
“… kamu kesini tumben gak bawa Putra.”
“Kakak ini bicara apa? Yang penting di sini sudah ada Dyan…”
“Dy… aku …. Aku…”
“Kakak kenapa? Ungkapin apa ?”
“Se… Sebenarnya aku.. aku suka…(mulai ragu)… suka kamu…”
“(diam terpana)… Su…suka?”
“Ia… kamu mau jadi pacar kakak?”
“Dyan… Dyan…(Senyum) Apa kakak gak salah?”
“Gak mungkin kakak salah…”
Sebenarnya Dyan ragu akan hal yang baru saja di ungkapkan oleh Patra. Ia masih memikirkan Putra. Ternyata di dalam hati kecilnya ada perasaan sayang yang lebih daripada teman ataupun sahabat terhadap Putra. Tapi,ia juga bingung akan perasaanya terhadap Patra. Jadi dengan ragu ia menerima Patra sebagai kekasihnya.
“Ia…kak! Dyan sayang kakak…(memeluk Patra)”
Teman-temannya lalu masuk dari arah depan lalu bertepuk tangan terhadap mereka berdua. Mereka yang malu-malu segera melepaskan kehangatan yang baru saja terajut mesra itu. Semua yang berada di ruangan itu kini penuh tawa dan senyum saja. Disisi lain RS ternyata ada Putra yang sedang cek up. Terdengar dari ruangan dokter ada percakapan yang terdengar antara dr.Andi dan Putra.
“Gimana dok? Jauh lebih baik bukan?”
“(menghela nafas) Putra… kamu minggu-minggu ini ada mengalami kelelahan?”
“Hmm… kayanya gak deh! Cuma main bola aja…”
“Tapi,dalam akhir-akhir ini ada pendarahan yang berlangsung?”
“….(berfikir sejenak) Cuma mimisan aja. Biasa aja! Yang pasti dokter gak usah khawatir. Putra akan terus pantau kesehatan Putra. Kan cita-cita Putra jadi dokter.”
“Putra semangatmu memang bagus(senyum). Tapi,dalam minggu ini kamu mengalami kondisi lemas dan mulai lelah. Serta haemoglobin menurun sehingga telapak tanganmu memutih. Saya khawatir dengan itu.”
“Dokter… Dokter gak usah khawatir. “
Putra pergi dari ruangan itu. Ia segera pergi menggunakan mobilnya. Ia tidak dapat menutupi buliran air yang kini telah mengalir di matanya. Matanya mulai sembab. Ia lalu berhenti di tengah jalan. Tubuhnya serasa demam tinggi. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya sudah tak terarah lagi. Keseimbangannya pun mulai menghilang. Tak ada lagi yang dapat di lihatnya. Dan ia mengambil ponselnya dan ia menghubungi ibunya.
“Mama… Putra pulang mungkin akak telat..”
“Kenapa,sayang!”
“Gak apa. Putra cuman… agh…”
“Sayang kamu kenapa???”
“Gak apa Ma!”
“Bener sayang???”
“Ia…”
“Hati-hati…(mulai khawatir) sayang!”
“Ia…”
Tut..tut…tut… suara bunyi panggilan yang telah di akhiri olehnya. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan jika dadanya mulai sesak. Mamanya hampir saja khawatir akan hal itu. Tapi,tidak ada yang dapat memahami jalan pikirannya tersebut. Semuanya hanya dapat diam menatapnya. Sedangkan di RS,Patra sangat senang sekali. Semu ateman-temannya datang menjenguk ada teman-teman OSIS,futsal,teman sekelas dan teman-temanny ayang masih banyak lagi. Semuanya datang. Dyan juga senang sekali. Apalagi keduanya baru merajut kasih kurang dari 3 jam lamanya. Mereka tertawa dengan ceria dan bahagiapun sangat berarti walalu berada di RS. Ibu dari Patra mengajak Dyan keluar dari kamarnya. Lalu ia seperti berbisik kepada Dyan si gadis manis itu.
“Dy,kamu sayang sama Patra?”
“…Ha? Kenapa tante?”
“Dy,tante harap kamu dapat sayang sama Patra seperti Patra sayang kepaddamu.(senyum) ia,Dyan janji? Buat Patra bahagia.”
“…(agak ragu-ragu)hmm… ia tante….”
Dyan langsung tersenyum lebar. Manisnya senyumnya sangat indah sekali. Nampak kebahagiaan yang mewarnai ceria hidup barunya. Tapi,ia tersadar akan lupanya dirinya kepada Putra. Putra dan dia telah berjanji akan bertemu di taman alias lapangan RS di mana mereka bermain. Jadi,Dyan meminta ijin untuk pulang.
“Tante… Dy pulang dulu. Nanti orang rumah bingung,sudah sore pula.”
“Ia,Dy. Makasih sudah nemani Patra. Patra pasti senang sekali. “
“Ya,tante.”
“hati-hati,sayang!”
Dyan pergi dari ruangan itu. Ia berjalan agak cepat dari biasanya untuk menunggu Patra. Ia yang belum punya SIM mengendarai angkot. Ia menuju permukiman padat itu. Lalu dengan lewati berbagai kubangan lumpur. Maklum habis hujan,jadi becek. Begitulah perkampungan padat di kota besar.ada kursi panjang di tengah lapangan itu. Dyan menunggu di kursi itu. Ia menungu seorang diri bersama kesendirian. Tak lupa kado istimewa telah ia siapkan. Ia iangat hari ini adalah hari Ulang tahun Putra. Ia masih menunggu. Tapi,tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ia lalu menuju tepi taman RS. Tapi,hingga sore sekali Putra tidak datang juga. Dengan kesal bercampur sabar ia sudah merasa kedinginan. Ia lalu meninggalkan bungkus kado berwarna biru itu dengan pita putih yang indah.
“Terlalu…PUTRA…. Jika janji gak mau nepati…” ungkap Dyan di dalm hatinya yang masih saja menggerutu. Ia lalu pergi,dan dengan basah kuyup ia pergi dengan berlari menuju belakang RS lalu pulang lewat RS. Ia memanggil taksi dan pergi begitu saja. Di tengah jalan,Putra sadar ia punya janji dengan Dyan,ia sebenarnya tadi pinsan atau tertidur di pinggir jalan ia juga tidak sadar. Ia dengan cepat menuju lapangan. Tapi,di tengah hujan itu taksi yang di tumpangi Dyan berselisih dengan mobil Putra. Dyan menyadari itu mobil Putra.
“Putra…. Ah,dia bohong juga!”
Dyan tetap melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Putra,ia langsung berlari di lapangan itu mencari Dyan. Di tengah hujan itu,ia lalu menuju bangku yang berada di lapangan. Ia melihat ada bungkus kado bewarna biru dengan pita putih. Ia lalu mengambil kado itu.
“Happy Birthday,Friend!… Dyan… berarti kamu datang…..”
Putra lalu tersenyum lalu kembali pulang kerumahnya. Tapi,ia sebelumnya sempat mengirim pesan singkat kepada Dyan,dengan isi yang bermaksud minta maaf pada Dyan. Ia tidak bermaksud membatalkan janji dengannya. Ia mencoba mencari banyak alasan.
Malam pun tiba. Ternyata ponsel Dyan telah lama mati. Mungkin tadi lowbat itulah pikirnya. Tapi,setelah itu ia charge kembali ponselnya. Setelah itu ia aktifkan dan teet..teet… bunyi ponselnya berbunyi tan da pesan masuk. Ada 3 pesan masuk di ponselnya.
“Weh,ada pesan masuk. 3 lagi,pertama Kak Patra,Putra dan terakhir,,,, Putra lagi??? “
Ia sebenarnya agak males membaca ponselnya. Tapi,akhirnya ia baca juga pesan itu. Pertama dari Patra lalu Putra.“Dari kak Patra… Adek makasih sudah sayang sama kakak. Trus Putra…. Apa? Sms kosong… eh,yang kedua ada… Dy,maafin aku… tadi ban mobil pecah harus di bawa ke bengkel.”
Ia berfikir sejenak,”Telpon aku kek dasar teman yang aneh…” Dyan lalu mematikan ponselnya lagi. Ia lalu bersiap-siap untuk tidur.
*****
Hari ini adalh hari pertama kenaikan kelas. Sesuai harapan yang sangat Dyan inginkan dia mendapat kelas yang ia inginkan. 11 IPA 1,yah kelas harapannya. Ia sudah seminggu ini tidak tahu keadaan Putra. Kini,hanya Patra saja yangg ia tahui kabarnya. Maklum,ia selalu mendapat telepon dari Patra selama berada di RS. Pagi ini ia segera ambil pilih kelas. Ia duduk tepat di depan guru. Jam bunyi tanda masuk telah berbunyi. Semua anak-anak sudah ramai berada di dalam kelas. Saat guru masuk ternyata ada bangku yang kosong. Dengan sabar,guru itu bertanya pada siswanya.
“Selamat datang di kelas ini,nama saya Pak Samsianuddin tapi,kalian bisa memanggil saya pak Sam. Saya ingin bertanya siapa yang belum hadir di kelas ini????”
semua anak saling memandang satu sama lain. Ternyata ada seorang siswa yang mengancungkan tangannya.
“Putra,Pak. Anak 10 c.”
“Putra…” kata Dyan kaget. Ini Putra temannya yang dulu menyebalkan itu.
“Nama lengkapnya siapa???”
“Putra Ryanne Alfinsya…”
“oh,anak itu…”
Pak Sam lalu melanjutkan perkenalan denganpara siswanya. Tapi,hati Dyan bertanya – tanya di mana Putra? Ah, ia mencoba tak ambil pusing. Tapi,tidak berapa lama kemudian ada suara ketukan pintu yang ternyata itu adalah Putra.
“Maaf,pak! “
“hmm…(dengan wajah yang agak galak) kamu,Putra?”
“Ia….ia pak(takut)”
“Baik,duduk.”
Putra langsung mengambil tempat duduk Yang terlihat kosong. Tubuhnya Nampak berpeluh seperti orang yang hampir mati. Ia langsung duduk di samping temannya,Awan.
“Gila.lo! masa jam segini baru turun sekolah…”
“Awan,gue tadi…..”
“Sudah jangan ribut” suara pak Sam yang mengerikan terdengar menggema seluruh kelas. Semuua anak-anak langsung tertawa. Hanya wajah masam yang terekam oleh Dyan melihat Putra. Tapi,ada pula senyumnya keluar sedikit menunjukan aura keindahannya. Putra seperti menggerutu dengan tawaan teman-temannya itu.
*****
Hari-hari di lalui Patra dan Dyan dengan bahagia. Hampir 5 bulan berlalu. Mulai jalan,nonton dan urusan OSIS yang di bumbui kemesraan. Semua teman-temannya tahu. Termasuk Putra. Putra yang mengetahui hal itu awalnya biasa saja namun,setelah melihat kemesraan yang di lalui Dyan dan Patra ada rasa cemburu karena sahabatnya telah di ambil. Sampai suatu hari,Putra mengajak jalan Dyan karena kebetulah Dyan berulang tahun yang 16 tahun. Ia lalu menelpon Dyan. Tapi,semua tak seperti yang diharapkannya.
“Halo,Dy?”
“Ya? Ini ada apa Tra?”
“Hmm… besok kan ultah kamu! Jalan yuk…?”
“Gimana ya???(ragu-ragu) aku sudah ada janji tuh!”
“Sama Patra?”
“Tepat banget,sobat! Sory,yaw!”
“….(agak kesal)…. Ya,sudah deh! Salam buat kak Patra… moga kalian bahagia.”
“… (bingung)… kamu kok marah sih?”
“Sudah hampir 5 bulan ini kita gak ada waktu bareng…(memucak emosinya) Dy,kangen! “
“Kita satu kelas aja tu…(Mulai bosan) sudah na! aku ngantuk mau tidur….”
“Dy… kamu berubah….”
“Whatever….(menutup telepon) tutt…. Tutt…..”
Putra lalu membanting ponselnya tanpa banyak berfikir lagi. Ia bingung pada sahabatnya itu. Ia iangin sekali bersama. Sebenarnya ada perasaan sayang alias sukanya pada Dyan. Tapi,ia tidak ingin melukai Dyan. Tapi,Dyan sudah bahagia denganPatra. Putra mencoba melespakan Dyan yang sangat ia cintai. Ia menyadari akan hal itu tapi,ia akan menunggu besok pada saat waktunya tiba. Entah kapan dan tempatnya yang tak pernah ia tahu. Semua hanya kehendak Tuhan untuk menggerakan keberanian hatinya. Ia lalu mengambil boneka kellinci yang telah ia beli tadi saat mampir di toko untuk membeli bahan-bahan membuat kue. Ia ingin membuat kue tart untuk Dyan. Ia membela membuatnya hingga tengah malam. Ia juga masih menyimpan kado dari Dyan yaitu sebuah gantungan ponsel yang berbentuk sebuah bola. Dyan tahu benar kalau Putra memang penggemar futsal yang sangat fanatik. Putra hanya senyum memandangi itu semua. Kue itu telah siap. Ia juga menaruh kado yang indah di dalam tengah kue itu. Tak lupa kartu ucapan yang indah ia selipkan di dalam kado mungil itu. Dia juga membuat puisi indah yang ia selipkan dan pernyataan hatinya pada Dyan. Ia amat berharap pada potongan pertama Dyan membaca itu semua. Waktunya kini mulai terbatas untuk itu semua. Semuanya telah ia sadari betul. Masih ada hal yang harus ia kerjakan.
Hari yang di nanti tiba. Hari ini tepat 16 tahun usia Dyan. Dyan amat bahagia sekali. Pesta kebun telah dipersiapkan Tantenya dan tunangan tantenya.. Jam `20.00 malam ini pestanya akan di mulai,namun untuk siang ini ia telah mempunyai janji dengan kak Patra. Tapi,sebelumnya pagi tadi ada kue buatan Putra telah datang di kirimkan.
“Tante… Dyan berangkat..”
“Dyan…. Tunggu!”
“Ada apa?”
“Ada kue kiriman buat kamu…”
“Dari siapa?”
“Tidak ada nama pengirimnya tapi di sini tertulis…Selamat ulang tahun …. Semoga kamu bahagia….never forget me,Dy! If u forgot me…. I’m can death….”
“Putra…. Oh,makasih tante. Dayan berangkat dulu…”
Dyan lalu pergi sambil membawa kue itu. Sangat senang sekali Dyan. Ia sengaja tak membuka kue itu dengan alasan ia ingin makan bareng Patra. Jadi,ia tetap membungkus kue itu. Lalu tidak berapa lama kemudian Patra datang mennjemput. Setelah izin mereka langsung jalan menuju danau dekat kota. Mereka pergi menggunakan sepeda motor. Suasana menawan sangat tergambar pada mereka berdua. Saat kue itu di buka Patra ikut senang. Lalu saat di potong ada kado di dalamnya.
“wah,ada kado!”
“ia,ayo buka. Tapi,kamu cuci dulu di sana.”
“Ia….” Dyan lari mencuci kado itu ke pinggir danau yang sangat indah. Saat Patra memakan kue ia mendapat kejutan berupa gulungan kertas. Ia buka itu ternyata dari Putra. Tanpa ijin Dyan ia membukanya.
“Eh… ada yang nyangkut… eit,kertas…. Eh,ada isinya… dari Putra toh. Baca ah! Dyan kan cewek aku jadi ga ada salahnya juga…..Hy,Dy! Ini aku Putra. Kamu pasti tahu kue ini buatan aku hanya untuk mu….. wah,sombong banget ni Putra. Baru kue… eh,lanjut deh bacanya…. Dy,aku harap kamu bahagia dengan Patra. Dy,ultah mu yang ke 16 ini aku mau ngungkapin perasaan ku yang sebenarnya kekamu…. Sejak kita bertemu… di RS memang aku agak bodoh. Tapi,kemarahan mu awal itu padaku buatku penasaran padamu…. Aku tidak tahu sama sekali siapa kamu… tanpa sepengetahuanmu aku sempat memandang mata indahmu… aku tidak tahu dulu kamu pernah Buta. Tapi,walaupun begitu aku tetap sayang padamu,,,, kapanpun…. Never forever,Dy. I love u so much… waktuku memang harus segera berakhir tapi,,,, cintaku padamu tak akan berakhir…… Putra….” Geram sekali Patra mengetahui hal itu. Tapi,ia mencoba menyembunyikannya kepada Dyan yang baru datang itu.
“Kenapa? Kok diam aja???”
“Oh,gak apa! Eh,kadonya ini kutaruh di sini aja ya!”
“kamu kenapa?”
“(diam)… eh,ga apa! Mama nelpon… jadi aku harus segera pergi… kamu naik taksi aja… ini uangnya…”
“Patra…. Maksudmu apa???(mata berkaca-kaca) Ini ulang tahunku…. Kenapa kamu mau meneteskan air mata ini?”
“Dy,maaf! Tapi,ini demi kebaikan kita….”
Patra meninggalkan Dyan seorang diri akhirnya Dyan sendiri saja di tepi danau yang sangat indah itu. Angin membelai seakan membalut tubuh dan buliran air mata Dyan yang bingung dengan hal yang tak oernah ia ketahui. Semuanya bagaikan petir di tengah bolong yang membuat semuanya membingungkan sekali untuk Dyan. Angsa pun yang semula berenang kini terbang dan meninggalkan sejuta kedinginan den sepi yang menemani. Padahal ini tepat Ultahnya namun semua ini adalah cobaan yang berat baginya.
*****
Malam pun tibadengan gaun putih yang indah itu Dia sungguh gelisah. Apakah dua orang yang ia nanti akan datang? Semuanya hanya pertanyaan yang menghantuinya. Kado dari Putra adalah kalung yang berliontin sebuah cincin dan di sana terukir tulisan “Dye” sedang dari Patra adalah Cincin yang bertulisan “Dyana”. Dan itu telah di kenakannya. Ia menanti pada malam itu. Ia sangat bahagia sekali mengetahui Patra datang. Pesta pun diadakan dengan meriah semua temannya datang tapi,hanya Putra yang tidak datang. Tapi,hal itu tidak dapat mengganggu kebahagiaan Dyan selama ini. Malam itu di lalui dengan indah. Semuanya merasa senang. Setelah malam itu di lalui,Dyan sangat bahagia. Hidupnya seakan melayang meraih cita. Malam itu pula ia tertidur amat pulas. Selimut bagaikan awan yang berada di langit.
Dyan….. dyan…. Dyan….. selamat ulang tahun…. Kamu semakin manis saja! Hehehe…. Tapi,kamu melupakan sesuatu….. kakek sudah pernah bilang ketika cinta di pertanyakan…. Kamu harus menjawab semuanya……
“KAKEEKKKK…….. huah….huhhhh!” ternyata semua itu hanya mimpi. Dyan dengan nafas ngos-ngosan nampak melihat arah jam. Ternyata barujam dua pagi. Baginya itu adalah mimpi yang aneh tapi,bisa juga isyarat dari sang kakek yang memberikan pernyataan lewat mimpi.
“Cinta??? Apa maksudnyaaaaa?”
“Kamu kenapa?”
“Sherly,kamu tau gak maksudnya”Ketika cinta diperrtanyakan”??? aku gak paham???”
“Dyan…. Masa gitu aja gak tau,,,”
“Memang gak tau…”
“Maksudnya itu…. Saat ini kamu sedang dalam fase pencaharian cinta kamu. Kamu jadian sama Patra karena apa?”
“Gak tau….”
“nah,sekarang itu cinta kamu di pertanyakan …..”
“Masih ga paham….”
“Neng hidup jaman apa sih???”
“Ayolah,Sher!”
“Sekarang kamu harus memilih PATRA atau orang lain…”
“Orang lain???”
“Yupss…. Jangan-jangan Si Putra…”
“What??? Put… Putra??? Jangan ngaur….”
“Hehehe…. Canda aja tu….”
Sherly lalu meningalkan Dyan yang berada di depan perpustakaan. Lalu,datanglah Patra. Patra lalu mengajak jalan Dyan ikut ke kantin. Mereka makan. Tapi,Patra tahu ada yang aneh dengan Dyan. Dyan sebenarnya masih memikirkan kata “Ketika cinta di pertanyakan” apakah yang terjadi pada dirinya. Apakah ia tidak bisa sayang dengan Patra yang selalu ada atau pada Putra yang super nyebelin tapi ada hal istimewa padanya yang selalu bisa tertawa. Sungguh membingungkan sekali baginya tapi,ia sangat yakin tidak bisa mencintai Patra sebenarnya ia juga ragu. Ia hanya menganggap Patra sebagai kakaknya tidak lebih. Tapi,dengan Putra ia juga merasa sahabat walaupun ia sadar ia sayang pada Putra. Bingung selalu dalam pikirannya.
“Dy,kamu gak apa?”
“Gak apa?”
“Putra mana ya?”
“Putra???”
“Ia….”
“Jangan bahas dia.”
“Kenapa??”
“Sudahlah….”
Patra meninggalkan Dyan ia tahu Putra memiliki rasa yang lebih kepada Dyan. Ia sebenarnya tidak terima tapi,ia tidak ingin Dyan tahu semua itu. Semua hanya jadi rahasianya. Dyan mengambek juga kepada Putra dan Patra. Semuanya ia anggap menyebalkan. Tapi,saat ia pulang sekolah ia melihat Putra. Putra hampir seminggu ini tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Tapi,Dyan melihat Putra dalam keadaan yang sehat. Ia langsung mendatangi Putra.
“Hai,Putra!”
“Dye….?”
“Ia… katanya sakit…kok masih aja keliaran….”
“OH… anu,,,,anu,,,,,”
“Anu… anu… traktir dong! Lama nie gak jalan…”
Putra tersenyum lalu menarik tangan Dyan. Mereka segera masuk mobil. Mereka mendatangi berbagai tempat hiburan yang berada di kota. Dari makan,nonton,jalan dan beli buku bersama. Hanya tawa dan ceria. Hingga mereka berhenti di tempat pemancingan umum. Mereka mancing bareng lalu membakar ikan tangkapan sendiri bareng. Semuanya hingga mereka tak dapat makan lagi. Dan karena sudah malam mereka lalu makan es cendol di pinggir jalan. Kenapa ya? Harus es cendol bukan es krim yang bisa buat keadaan yang bisa buat SO SWEET? Ternyata alasannya adalah karena…. Entahlah mungkin hanya Putra yang tahu itu semua.
“Putra… kamu penuh kejutan ya?”
“Ah,biasa aja!”
Senyum dan tawa renyah mereka memang indah sekali di dengar. Sampai Patra melihat mereka berdua. Geram sangat Patra melihat kejadian itu. Ia langsung turun dari sepeda motornya dan ia langsung menghampiri mereka. Tanpa banyak omong terjadi bentrokan kecil antara Patra dan Putra. Hal itu membuat sedikit kegaduhan hingga membuat keributan sehingga mengalirlah buliran air mata Dyan.
“STOOPPPPPP…………………PATRA!!!!!!!! PUTRA…………!!!!!!!!!!!!”
Mereka langsung berhenti begitu saja.
“Dyan…. Sekarang kamu pilih aku atau Putra?”
“Maksudmu apa?”
“Tanya sama Putra!!!”
Patra langsung melemparkan secarik kertas kepada Dyan. Dyan lalu membacanya dan air matanya tambah menderas. Putra hanya dapat tertunduk lesu. Ia mengira surat itu telah di baca Dyan ternyata tidak sama sekali. Dyan yang telah membaca surat itu langsung pergi begitu saja. Patra juga ikut berlari mengejar Dyan. Putra tak tahu harus berbuat apa. Ia langsung pergi dengan mobilnya. Dyan tertunduk lesu lalu Patra datang dan langsung memberikan pelukan hangatnya kepada Dyan yang masih menggunakan seragam itu. Mereka lalu pulang kerumah masing-masing.
*****
Seminggu sudah tiada kabar lagi… kabar tentang Putra. Ia seperti menghilang. Hari ini Patra mengajak Dyan ke RS. Entah apa maksudnya. Dyan mau saja menuruti. Mungkin itu adalah waktu cek upnya. Tapi,tidak. Patra mengajak Dyan ke belakang RS. Dyan tidak mengerti maksud Patra. Patra menatap tajam mata Dyan. Lalu ia membisikan sesuatu ke telinga Dyan. Sebuah kata “Cinta”. Itu membuat Dyan tersanjung. Tapi,semua itu berubah ketika Patra berpaling lalu kembali bertanya membelakangi Dyan yang sedang terpaku.
“Dyan… Ketika cinta di pertanyakan…. Kamu pilih aku atau Putra?”
Dyan lanngsung terperanjat. Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Patra.
“maksudnya?”
“Dy…. Aku tahu kamu masih berusaha cinta padaku… tapi… aku lebih senang kau dapatkan cinta pertamamu..”
“Kak Patra…” dyan langsung berlari memeluk Patra dari belakang. Dan ia langsung berkata,”Aku sayang kakak…” Patra tersenyum lalu ia berkata jua,”Maaf,Dy! Putra lebih butuh kamu…” Dyan bingung”Kakak…”
Patra langsung membawa Dyan ke kamar ICU. Disana ia melihat ada seseorang yang sedang terbaring. Dan ada sepasang orang tua yang berada di sana. Astaga! Orang tua Putra. Ya,memang Putra yang sedang di rawat di sana. Nampak kesedihan melanda orang tua Putra. Lalu,ia melihat dr.Andi berada di sana ia segera mendatangi dokter itu. Sebelumnya,Patra telah berada di ruangan tunggu ICU bersama orang tua Putra dan teman-teman yang mulai datang bahkan para guru juga datang,terutama Pak Sam wali kelasnya.
“Dr.Andi?”
“Nak,Dyan? Apa kabar?”
“Baik…”
“Dokter…. Saya boleh tanya?”
“Ia…”
“Dr.Andi…. kenapa putra?”
“(diam)… Putra….”
Dr.Andi lalu membawa dyan keruangan ia lalu menceritakan apa yang sebenaarnya terjadi. Sewktu Dyan buta dulu sebenarnya Putra sedang mengalami masapengobatan. Ia memderita kanker darah alias leukemia. Ia rajin sekali ke RS. Semenjak bertemu Dyan semangat hidupnya meningkat. Tapi,karena dia sering memaksakan diri ia jadi sering kelelahan. Bahkan demam panas sering menyerangnya. Hemaglobinnya juga mulai menurun drastis pada berapa bulan ini. Kesehatannya semakin menurun. Sendi-sendinya juga menghitam terutama di bagian tangan. Dyan merupakan semangat baru baginya. Namun,entah mengapa Tuhan berkata lain. Penyakit ini terus berkembang dann akhirnya jadi begini. Dyan yang mengetahui semua hal itu langsung menangis sedih. Kakinya seakan lunglai sekali. Atas perijinan keluarga dan dokter Dyan di perbolehkan masuk. Dyan memegang tangan Putra dengan sedihnya air matanya bercucuran. Ia langsung berbicara,”Bangun Putra!” suara raungannya terdengar seruangan itu. Lalu,ia membisikan sesuatu ke telingan Putra, “Ketika dipertanyakan… aku memilih kamu! Walaupun kita jauh dan tak bersatu” air matanya terus berbulir. Nampak juga air mata Putra mengalir…. Sepi… hanya raungan kesedihan yang ada. Tiba-tiba,Putra sadar.
“Dokterrr…..”
“Semua orang masuk ke dalam ruangan…”
“Putra…”
“Mama…. Papa….”
“Ya,sayang!”
“maafkan,Putra. Putra sering bandel.” Orang tua Putra menangis mendengarnya.
“Pak Sam dan teman-teman… terimakasih telah baik kepadaku…”
“Patra…. Nanti kita main futsal lagi ya!” patra hanya tersenyum.
“dr.Andi… terimakasih!”
“Dyan…. Maafkan aku!’’ Dyan menangis dalam peluknya.
Detak jantungnya semakin melemah dan…… teeettttttttttttttttttttttttt…………. Bunyi alat pernafasan itu. Tuhan menjemput Putra. Untuk pergi selama-lamanya. Alat pacu jantung telah di siapkanpun tidak dapat menolong lagi. Hanya tangisan kini yang berada di seluruh ruangan itu… raungan sedih…. Terutama orang tua Putra. Kesedihan saja yang ada dalam ruangan itu. Semuanya terlambat. Teringatlah semua kenangan Dyan dan Puta.
“Dyan…. Itu milik kamu?”
“Ya,boneka kelinci kakek!”
“Nanti kamu pengen jadi apa?”
“Jadi istri kamu aja ya?”
“OH,aku jadi dokter aja. Jadi semua orang bisa aku sembuhkan.”
“Ia….”
Kenangan dulu sekali. Dyan baru tahu selama ini Putra yang lalai karena sakit. Saat ultah Putra ternyata waktu itu dia pingsan di dalam mobilnya. Pak Sam tidak marah padanya karena tahu Putra baru keluar RS dan menjalani masa pengobatan. Kini,semua cita-citanya kandas di tengah jalan. Saat Putra tidak hadir dalam ultah Dyan karena dia sudah sakit. Dan perubahan sikap Patra juga karena,Putra yang sekarat telah menitipkan kebahgiaan dyan pada Tuhan dengan perantara Patra.
*****
Pemakaman Putra berlangsung dengan hikmat. Semua orang sedih sekali. Orang tua Putra memutuskan pindah keluar kota.kesedihan pun masih terasa. Duka ini memang masih terasa oleh pihak sekolah dan hati Dyan.
Setahun kemudian…..
Dyan telah lulus dari SMAnya. Ia mendapatkan penghargaan siswi teladan dari sekolahnya. Ia juga memenangkan beasiswa ke Inggris untuk menjadi seorang dokter. Tantenya juga sudah menikah dengan tunangannya dan kini telah memiliki anak kembar yang sangat lucu. Dua cowok kecil. Hari ini,adalah hari keberangkatannya ke Inggris. Ia di antar dengan tangis bahagia. Patra juga telah datang. Patra kini kuliah di fakultas hukum. Ia ingin menjadi seorang pengacara yang handar seperti ayahnya. Patra juga mengantar Dyan.
“Tante Sita! Om Kevin! Dan dua sepupuku Milky dan Melky semoga kalian sehat selalu.”
“Ia… kamu jaga diri ya!”
“Hmm….Dyan berangkat.” Dari arah pintu masuk ada seorang pria yang berlari dengan ccepat.
“Dyan…”
“Patra….” Mereka langsung saling peluk lalu mencium kening masing-masing.
“Kangenin aku ya!”
“Ia,sayang! Nanti kalo gak aku cari pacar bule aja!”
“Kamu,ya!”
“Hahahaha…..” hanya tawa semuanya saja yang terdengar. Pesawat pun telah datang,kini lambaian tangan dan perpisahan yang ada. Senyum ini pun membasahi semuanya dengan air mata bahagia. Setelah pesawat terbang,Dyan ingat ini adalah peringatan setahun kepergian Putra. Tangisnya mulai mengalir lagi. Mereka teman tapi,tidak memiliki foto satu sama lain. Dyan hanya tertawa. “Setelah kepergianmu…. Aku melanjutkan cita-citamu menjadi seorang dokter… Putra aku harap kamu selalu bahagia. Kamu tidak pernah mau berbagi padaku semua kisah sedihmu namun…Ketika dipertanyakan… aku memilih kamu! Walaupun kita jauh dan tak bersatu. Kakek,ternyata semua katamu benar tentang lapangan itu. Putra,kakek…. Tunggu aku! Aku raih dulu cita-cita di sini sebelum aku kembali kepadaNYA.” Dyan hanya tersenyum lalu mengis. Bahagia kini,ia dengan Patra. Perjalanan ini adalah awal hidup barunya yang tidak akan pernah berakhir jika dia masih hidup. Sampailah ia di bandara setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan. Saat ia bejalan ia menjatuhkan visanya sehingga ia harus mengambilnya. Tapi,Dyan melihat ada kaca mata yang terjatuh. Dan ia mengambilnya ternyata ituu kaca mata seseorang yang sebaya dengannya. Ternyata itu orang wajahnya sangat mirip dengan Putra. Sangat kaget Dyan.
“Put…Putra???”
“I’m sorry. “
“Ya,maaf!”
“Oh,Orang Indonesia juga.”
Setelah mengetahui sama-sama orang Indonesia mereka saling berkenalan. Ternyata nama cowok itu Dedi. Dia mahasiswa angkatan pertama di bidang Ahli Kimia, yang ternyata kampus mereka sama hanya fakultas yang berbeda. Hal ini mengingtkannya pada Putra. Tapi,Dedi ya Dedi dan Putra tetaplah Putra. Dua kpribadian yang berbeda. Tapi,Dyan tetap menjalankan studynya. Ia tahu Patra masih menunggunya.
=== Selesai ====
READ MORE - Ketika Cinta Dipertanyakan??

Doa Dan Harapanku

Ya Allah
Jadikanlah aku ini orang yang sempurna
Sempurna dimata-Mu, bukan kesempurnaan di dunia
Walau itu tidak mungkin

Jauhkanlah aku
Dari sifat egois, serakah, sirik, iri dan dengki serta arogan
Jauhkanlah juga sifat itu pada orang - orang di sekitar ku
Orang - orang yang aku kasihi

Aku hanya ingin mencari kedamaian
Tapi rasa itu jauh sekali, jauh untuk di dapatkan

Apa mungkin aku jauh dari-Mu ya Allah
Mungkin aku tidak tunduk kepada-Mu

Aku hanya ingin memperbaiki diri, intropeksi diri
dari sifat - sifat kecil yang kotor pada diri ku
aku hanya ingin memperbaiki kelakuanku dulu
agar sifat kecil itu menjadi lebih bersih
Sehingga menjadikan sujudku lebih sempurna Kepada-Mu ya Allah

Aku tahu ya Allah
Kau berikan cobaan ini, agar aku lebih bisa mendekatkan diri pada-Mu
Mungkin itu jalan menuju kesempurnaan untuk membersihkan sifat kotor pada ku
Ya, Itu adalah sebuah kesempurnaan yang harus menempuh berbagai cobaan

Aku tahu ya Allah
Kau tidak memberikanku kemewahan di dunia
Tapi kau memberikan semua kecukupan akan diriku, keluarga, anak dan isteri
Itu semua kau berikan agar aku mensyukuri nikmat yang Kau beri

Aku tahu itu ya Allah
Aku tahu maksud dan tujuanmu
Tapi bagaimana dengan orang - orang disekitarku
Tidakkah mereka bisa mengerti maksud dan tujuan-Mu
Tidakkan mereka mengerti akan keinginanku
Tidakkah mereka ingin kebahagiaan itu

Atau mereka tidak mengerti arti kebahagiaan itu
Atau mereka bukan termasuk dari orang - orang yang bersyukur dan bersabar
Atau aku sendiri yang tidak mengerti
Hanya Kau ya Allah yang menilai

Ya Allah
Jadikanlah kami orang - orang bersyukur dan sabar
Walau dengan berbagai cobaan yang kau berikan
Maka aku ikhlas

Ya Allah
Ambillah nyawa ini bila sujudku sudah sempurna
Saat aku mulai letih akan semua ini
mungkin itu lebih sempurna
READ MORE - Doa Dan Harapanku

Seperti Angin

kemarin ia bertiup kencang..
mungkin bisa terasa menyejukkan...
tapi aku tak merasa demikian
aku sedang masuk angin, jangan bertiup padaku!

kemana ia saat aku merasa gerah
tak kunjung ia datang tuk menghapus peluhku
saat aku menunggu, dimana kesejukannya berembus?
kenapa ia tak datang saat kubutuh?

apa yang bisa kulakukan?
tak ada dayaku tuk merubah arahnya....
angin bertiup kemana yang Ia ingin
angin bertiup sesuai keinginanNya..

apa dayaku?
ingin kumemeluknya..
menyimpannya hanya untukku
merasakan sejuknya saat kubutuh...
menyimpannya ditempat yang aman saat ku kedinginan

tapi ku tak punya kuasa melakukannya..
maka ku hanya diam
kemanapun engkau bertiup..
kutetap di sini... untukmu...

kuharap pintaku padaNya dapat membawamu padaku
di saat yang paling tepat
biarlah kau tetap milikNya
tak ada yang lebih pantas menentukan arahmu..

*lets pray that He would make you blew your love for me at the right moment.. I love you too...
READ MORE - Seperti Angin

Jadilah Penakluk Wanita



Hal-hal kecil seringkali bisa menimbulkan dampak besar. Istilah ini seringkali benar dalam hal hubungan asmara. Kebiasaan kecil yang dilakukan pasangan bisa membuat kita merasa dicintai.
Berikut ini aksi sepele yang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga, seperti dikutip dari laman She Knows:

- Membawakan barang-barang
Ketika wanita sedang membawa barang-barang yang berat, seperti kantung belanja, dan pria langsung mengajukan bantuan, wanita akan sangat menghargai hal ini.
- Memuji meski Anda mengenakan baju tidur
Minggu pagi, ketika Anda sarapan masih mengenakan baju tidur, suami memuji Anda. Ketika suami berkata, “Kamu tetap terlihat cantik dalam busana apapun”, tentunya bisa membuat hati wanita melambung.
- Memikirkan hal-hal kecil
Ketika gula atau kopi habis, tanpa diminta si dia sudah membelikannya untuk Anda. Ketika si dia ingat hal-hal yang Anda lupa, Anda akan makin cinta padanya.
- Mendengarkan keluhan
Setelah sepanjang hari bekerja, Anda pun ingin mengeluarkan uneg-uneg. Ketika pasangan bersedia mendengarkan keluhan Anda, Anda akan merasa memiliki seseorang yang mengerti Anda tanpa menghakimi.
- Membuatkan teh
Biasanya pria paling suka jika pasangannya menyajikan teh untuknya. Tapi, jika pria sesekali menyediakan teh untuk wanita, dijamin akan membuat wanita tersenyum.
- Menjemput di kantor
Kemacetan di jalan, dan kendaraan umum yang penuh sesak akan menimbulkan stres. Karena itu, wanita akan sangat menghargai pasangannya, jika bersedia menjemputnya.
- Memasakkan makanan favorit
Memberikan kejutan dengan menyediakan masakannya untuk Anda, tentu akan membuat hati Anda ‘melayang’. Sesekali dilayani pasangan membuat wanita merasa sangat dihargai dan dicintai.
READ MORE - Jadilah Penakluk Wanita

Mampu Dan Sanggupkah Aku

Mampukah aku melangkahkan kakiku
Saat aku berpapasan denganmu
Mampukah aku berdiri tegak saat kau menghampiriku
Mampukah aku bersua saat kau memandangku
Sanggupkah aku menahan rasa ini
Saat kau menatap mataku

Sanggupkah aku menahan air mataku
Saat ku ingat kau yang tlah menggores luka dihidupku
Karena suatu saat kita pasti bertemu
Oh Tuhan
Andai saat itu tiba, kuatkan aku akan siksa batin ini
Karna ku tak yakin, mampu dan sanggupkah diri ini
Menahan Gejolak hati
Amarah, benci, sakit serta rindu di hati
Ya Tuhan!
Aku berusaha semampuku ’tuk menutup tabir rahasia cinta itu
Tapi sungguh ku tak mampu karena Dia lah Cinta Sejatiku
Dan kini dia tlah pergi dariku
Meski ia masih menyimpan rasa sayang dan cintanya untukku
Namun sampai kapanpun aku dan dia takkan pernah bisa bersatu
Dan kumohon hapuskan rasa ini dari hatiku
Sungguh ku tak mau terpuruk dalam dunia semu
READ MORE - Mampu Dan Sanggupkah Aku

Hati Yang Kau Sakiti

======================================================

Diatas daun yang berhiaskan kristal air
Tertiup oleh sejuknya angin yang berhembus
Diriku termenung menatapi semua itu
Tetes demi tetes air terjatuh membasahi tanah

........

Disudut pintu hati yang terdalam
Terasa sesak nafasku saat bayangmu terlintas di benakku
Hati menjerit memanggil namamu
Akankah kau mengerti akan semua yang terjadi

........

Tak pernah berhenti otakku membayangkan sketsa wajahmu
Yang selalu datang menghampiri setiap detik waktuku
Tetapi setelah ku mengamati smuanya
Kau hanyalah debu2 kecil yang bertebaran dan tak kan pernah bisa ku sentuh indahnya

........

Manisnya senyummu terselip duri-duri tajam
Indahnya ucapmu terselip dusta yang mendalam
Apakah semua ini hanyalah sandiwara
Apalagi yang kau ingin ambil dariku setelah semuanya??

........

Pernahkah semua ini kau fikirkan dengan hati yang tulus
Adakah sedikitnya simpatimu untuk mengerti keadaan ku
Apakah semua yang ku ingin hanyalah harap semu
Apakah kau tak memiliki hati yang peka

........

Semua terasa asing bagimu
Semua terasa biasa bagimu
Semua hanyalah angin bagimu
Semuanya telah berlalu sejak saat ini

........

Ingin ku tak membencimu
Namun inilah akhirnya. . .
READ MORE - Hati Yang Kau Sakiti

Makna Kebangkitan Nasional setelah 64 tahun Indonesia Merdeka

102 tahun yang lalu, tanggal 20 Mei digalang kekuatan oleh para pemuda di wilayah nusantara ini untuk menyatukan tekad “bangkit dari keadaan sebagai negeri terjajah”

Rentetan perjuangan dengan gelimpangan perngorbanan yang tak terhitung berujung pada tercapainya tujuan “merdeka”. 17 Agustus 1945 kita sampai pada satu “titik” bahwa “wilayah kami” tidak lagi terjajah. Kami sudah menjadi bangsa MERDEKA.

64 tahun sudah berlalu, Kami sudah BANGKIT. Infrastruktur sudah lengkap, sekolah sudah tersebar sampai ke pelosok pedesaan, masyarakat sudah menikmati listrik, telepo bahkan internet
serta seabreg kemajuan yang Kami bangun sejak Orde Lama, Orde Baru, Reformasi hingga kini ……

Terhadap kemajuan Pembangunan Fisik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Pemerataan (kecuali kawasan tertentu terutama di Timur Indonesia) sangat diakui bahwa Indonesia yang sejak 17 Agustus 1945 telah merdeka kini menjadi Negara Berkembang yang sangat diperhitungkan.

Tapi bangaimana dengan Moral masyarakat bangsa ini? baik rakyat biasa maupun yang jadi pejabat?

Inilah yang mungkin dan pasti pada moment KEBANGKITAN NASIONAL tahun ini perlu menjadi bahan renungan.

Pertama, masyarakat di negeri ini masih banyak yang sangat miskin dari sisi ekonomi bahkan lebih celaka lagi banyak di antara mereka yang memiliki mental yang sangat memprihatinkan yaitu selalu mengharapkan bantuan padahal memiliki potensi untuk bangkit dari kemiskinannya. Ini terbuktu dari berbagai program yang digulirkan berujung pada kegagalan karena bantuan yang diberikan selalu “dimusnahkan” ketika sudah diterima bukan “digulirkan”.

Kedua, Pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi seluruh masyarakat tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan yang memadai sehingga menghasilkan proses dan hasil pendidikan di sekolah yang bersifat formalitas, sekolah dimaknai sebagai bagian yang harus dilewati pada usia tertentu selama waktu tertentu dan harus selesai dengan “mengantongi” ijazah dengan tanpa mempertimbangkan apa yang terbaik harus didapat dari proses pendidikan di sekolah. Kondisi ini melahirkan generasi yang “penuh dengan tanda tanya” yang apabila dibandingkan dengan bangsa lain, rata-rata kualitas lulusan SMA di negeri ini mungkin setara dengan lulusan “SD” di negara maju. ini sangat parah …. meskipun ga semuanya ……. Belum lagi pendidikan belum melahirkan generasi yang bermoral baik, terbukti …..

Ketiga, Masyarakat secara umum masih banyak yang tidak memiliki budaya “do the best”, kompetitif, prosedural dan disiplin terhadap tata etika dan aturan formal kehidupan bernegara di negeri ini sehingga banyak melahirkan budaya kolusi serta kongkalingkong dengan pejabat.

Keempat, Para pejabat yang memililki kewenangan banyak yang menyalahgunakannya, tidak menganggap bahwa jabatan dan kewenangannya sebagai amanat dan memaknai bahwa dirinya adalah pelayan bagi masyarakat. Penyalahgunaan wewenang, Kolusi, Korupsi, Nepotisme menghiasi keseharian pemerintahan negeri ini. Kini…… slogan good governance dan excellent service hanya jadi slogan.

Kelima, keenam, ketujuh ……… terlalu banyak yang harus diungkap.

Besok, 20 Mei 2010 adalah Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan sejarah. Akankah hanya dijadikan seremonial belaka hanya sekedar apresiasi terhadap jasa para pahlawan pada waktu itu? ataukah akan dimaknai bahwa hari ini dan selanjutnya negeri ini harus BANGKIT untuk memperbaiki:
- Moral masyarakat dan pejabat.
- Sistem pendidikan yang akan melahirkan generasi cerdas dan bermoral.
- Tatanan kehidupan perekonomian dan sosial masyarakat.
- Sistem pemerintahan yang bersih dan amanah.
- Keterpurukan bangsa ini menjadi Bangsa yang Maju dan diperhitungkan.

Bangkit Indonesia ! ! !
Sumber:http://tozmedia.blogdetik.com
READ MORE - Makna Kebangkitan Nasional setelah 64 tahun Indonesia Merdeka

Arti Sebuah Kedawasaan

“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”

Ungkapan diatas mewakili apa arti dari sebuah kedewasaan,sering kali kedewasan dihubungkan dengan umur semakin tua umur seseorang semakin dewasalah orang, namun angapan itu tak selamanya benar. Belum tentu orang yang telah berumur bisa bersikap dewasa karena dewasa itu sebuah pilihan. Kedewasaan merupakan sebuah pilihan seseorang untuk mengubah hidupnya mulai dari cara berfikir dan sikapnya menjalani hidup ini.
Kedewasaan mempunyai peran penting dalam sebuah hubungan terutama dalam percintaan banyak dari para kaum hawa mendambakan sosok cowok yang dewasa memang tak akan semudah membalikan telapak tangan untuk menjadikan kita dewasa apalagi diumurku yang menginjak kepala 2 sungguhlah sulit,namun harus tetap berusaha demi mengejar cinta sejatiku. Ciri-ciri yang membuat seseorang bisa disebut dewasa diantaranya sebagai berikut :


>>Cara berfikir
Bagaimana cara berfikir kita menghadapi hidup ini merupakan hal yang penting untuk menjadikan dewasa. Kita harus berfikir jauh kedepan tentang masa depan janganlah hanya berhenti disini karena sebuah masa lalu yang pahit dan menyakitkan,masa lalu hanyalah sebuah kenangan yang tak bisa diulang ,sesekalilah kita menoleh kebelakang masa lalu kita jangan berkali-kali ”selamat tinggal masa lalu selamat datang masa depan”. Selain itu kita harus berfikir seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.Akhirat merupakan masa depan kita setelah kontrak kita didunia habis .”kejarlah duniamu seakan kamu hidup untuk selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan kamu mati esok”.

>>Memahai arti hidup
Untuk menjadikan kita dewasa hidup ini perlu dipahami dan disikapi.walaupun hidup ini hanyalah panggung sandiwara yang tak selamanya indah dan tak selamanya menyakitkan karena semua telah di atur dan ditakdirkan,kita sebagai manusia hanyalah bisa menjalani,berusaha dan menyerahkan sepenuhnya kepadaNYA.”hidup perlu dipahami bukan untuk disesali”.


>>Tanggung jawab
Sebagai manusia tentunya harus mempunyai tanggung jawab.balajarlah dari hal yang kecil seperti hal tanggung jawab kita sebagai mahasiswa kepada orang tua yang telah percaya dan memberi kita biaya untuk kuliah,amanah itu harus kita laksanakan dengan tanggung jawab seutuhnya sehingga nantinya orang tua akan bangga melihat anaknya berhasil mulailah tanggung jawab pada diri kita sendiri supaya jika kita sudah mempunyai pasangan,kita mampu bertanggung jawab padanya.

>>Menyikapi masalah dengan bijak
Masalah merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini.tak pernah ada kehidupan tanpa masalah.Janganlah kita lari dari masalah karena semakin kita membiarkanya maka semakin berat pula kita menyelesaikan.Setiap persoalan pastikan ada jalan keluarnya untuk itu kita janganlah menyerah,berjuanglah untuk menghadapi walaupun seberat ataupun sepahit apapun persoalan tersebut.sikapilah masalah tersebut dengan hati dan kepala dingin kebijakan kita menyeselaikan sebuah persoalan itu kan membentuk jiwa kita menjadi dewasa.semua persoalan ataupun masalah pasti mempunyai makna dibaliknya yang akan menjadikan kita lebih baik.”tuhan takan pernah memberi cobaan diluar kemampuan kita”.


>>Kejujuran pada diri sendiri
Seringkali orang enggan berfikir bahwa kejujuran jujur itu tidak perlu, jujur hanya akan menjadikan seseorang hancur dalam karir, ataupun percintaan. Orang tidak bisa menguasai diri dikarenakan ia tidak jujur pada dirinya sendiri. Seperti halnya pepatah “mengatakan orang yang tidak bisa mengenal dirinya maka ia tidak akan bisa mengenal tuhannya”. Jujur pada diri sendiri adalah suksesnya seseorang dimasa sekarang ataupun dalam menempuh perjalanan hidup yang tiada henti. Menjadikan diri sendiri sebagai orang lain hanya akan menambah beban penderitaan hidup. Maka jujur dan menjadi diri sendiri adalah karakter dasar untuk mengendalikan emotional dan Spiritual sebagai modal kesuksesan mutlak orang dalam menempuh mahligai kehidupan. Jangan katakan tidak bisa untuk suatu hal yang akan engkau kerjakan, jangan katakan diri kita miskin” karena kita adalah sebaik baik mahluk Allah Ilahi Robbi. Mutlak orang berkarakter yang khas dan kepribadian yang lugas ditentukan pada aspek kejujuran diri.Sehingga akan lahir seorang pemimpin yang menjadi idaman wanita, masyarakat, bangsa dan Negara yang mempunyai dasar etika dan moral yang kuat.”Hidup untuk ditindaklanjuti bukan untuk memnohongi diri sendiri”.


>>Kesabaran
Semakin sabar seseorang menjalaini hidup semakin betambah pula kedewasan orang tersebut.Sabar lahir dari hati yang tulus dan jiwa yang bersih.apabila kita diberi sebuah anugrah berupa cobaan dari tuhan hendaknya bersabar sesungguhnya orang yang sabar itu dapat melewati cobaan dengan mudah.kesabaran kan membentuk sebuah jiwa yang dewasa.

>>Berprilaku adil
Adil inti kecantikan hati, orang dewasa akan terlihat anggun, cakep, ataupun cantik jika disertai dengan kecantikan pribadinya sendiri. Jangan pernah berfikir tampang saja sudah cukup dalam melangkah menuju kedewasaan. Berlakulah adil pada diri sendiri karena keadilan akan menuntun orang untuk bijak dalam memecahakan segala persoalan hidup. “Hidup penuh dengan tantangan, harus dijalani bukan untuk dihindari”.

Semoga coretanku ini bermanfaat bisa menjadikian kita sosok yang mempunyai kedewasan sehingga kita mendapat kebahagian diperjalan panjang hidup ini.Semoga rangkain kataku dapat menjadi motivasiku memiliki jiwa yang dewasa yang tak kembali lagi terhina oleh wanita yang mencari pria dewasa.
READ MORE - Arti Sebuah Kedawasaan

Ruh Ideologi Pancasila Telah Hilang

Pancasila sebagai dasar filsafat negara yang merupakan hasil kesepakatan bersama para founding father dalam mendirikan negara ini. Yang kemudian disebut sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, Didalamnya terkandung semangat kekeluargaan sebagai inti ajaran pancasila, namun mulai kehilangan jatidirinya. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, seakan hanyalah sebuah konsep-konsep kosong yang tidak ada artinya.

Benarkah ruh dari ideologi pancasila telah hilang? Kalau kita analisis dari kelima sila yang ada, mulai dari sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang mengandung pemahaman bahwa bangsa Indonesia mengakui akan Keesaan Tuhan ini dengan sifat-sifatnya yang Maha Sempurna, yakni: Maha Kasih, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Bijaksana dan lain-lain sifat yang suci. Semua rakyat Indonesia mengakui akan Keesaaan Tuhan ini namun yang terjadi antar pemeluk agama, yang ada di Indonesia justru menghegemoni agama yang lain, konflik antar agama tidak dapat dihindarkan dan yang sedang “boomingnya” saat ini yaitu adanya sekelompk orang yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Dan ini menjadi fakta bahwa pemahaman akan nilai-nilai pancasila, sangat minim dimiliki oleh rakyat Indonesia. Sila yang kedua, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Didalam sila yang kedua ini terkandung nilai-nilai kemanusiaan, yaitu tentang pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak-hak asasinya, perlakuan yang adil terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak-hak asasinya, perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dengan memperlakukan dan memberikan sesuatu yang telah menjadi haknya, manusia beradab dengan sumber daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan sebagai landasan bertindak sesuai nilai-nilai hidup manusiawi. Apakah nilai-nilai yang ada dalam sila yang kedua ini sudah mencerminkan keadaan yang terjadi diIndonesia? Kita bisa menganalisis masing-masing. Sila yang ketiga yaitu “Persatuan Indonesia” terkandung nilai-nilai persatuan dan kebangsaan, antara lain: persatuan Indonesia merupakan persatuan sekelompok manusia yang menjadi warga negara Indonesia dengan cita-cita hidup bersama, bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia, pengakuan ke”Bhinneka Tunggal Ika”an suku bangsa dan kebudayaan bangsa yang memberikan arah dalam pembinaan kesatuan bangsa. Tetapi apa yang terjadi, seakan persatuan bangsa ini semakin menurun, terjadinya konflik etnik, agama, ras dan sebagainya. Menunjukan lemahnya rasa persatuan bangsa ini. Sila keempat dengan rumusan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, terkandung nilai-nilai kerakyatan, antara lain: kedaulatan negara ditangan rakyat yang pimpin oleh hikmat kebijaksanaan berlandaskan penalaran yang sehat, manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga mawsyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Dan sila yang kelima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” terkandung nilai keadilan sosial, antara lain: keadilan dalam kehidupan sosial meliputi semua bidang kehidupan nasional untuk seluruh rakyat Indonesia, cita-cita masyarakat adil dan makmur, material, dan spiritual, yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun yang sekarang terjadi masih banyak warga Indonesia yang masih miskin, tinggal dikolong jembatan, menjadi anak jalanan. Dimana letak keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia ini?

Maka demi kelestarian eksistensi bangsa Indonesia, maka pancasila yang sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia harus dijunjung tinggi, diresapi, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat mempertahankan kehidupan bangsa sebagai bangsa Indonesia, dan tidak mungkin melestarikan eksistensi bangsa bangsa sebagai bangsa Indonesia dengan “lip-service” saja (Melayaninya dengan kata-kata), atau mempelajarinya dengan akal saja tanpa menyadarinya dan menghayatinya serta mengamalkannnya sedemikian rupa hingga meresap dan mendarah daging dalam diri setiap warga bangsa Indonesia. Untuk itulah perlu adanya tuntutan pengahayatan dan pengalaman pancasila yang menjadi satu pedoman nasional yang sah dan baik, mengatur kehidupan sehari-hari dan mempertahankan kelestarian eksistensi hidup kekelompokan, kegolongan, kebangsaan dan kenegaraan yang bersumber pada pancasila yang murni sebagai jiwa, kepribadian, pedoman hidup dan dasar negara republik Indonesia.
READ MORE - Ruh Ideologi Pancasila Telah Hilang

Arus Zaman

Kelas begitu ramai. Aku sebagai ketua kelas hanya geleng-geleng melihat teman-teman “memporak-porandakan” kelas ini. Ada yang sedang bermain laptop, bermain handphone, tidur, berbincang-bincang, membaca buku dan sebagainya. Lalu, apa yang membuatku dengan mudah mencentang kata “memporak-porandakan”? Tak ada guru yang masuk di kelas kami. Beliau sedang ke luar kota. Padahal, sebenarnya kami diberi tugas. Namun, tugas itu seperti angin berlalu. Bangku kelas kami benar-benar parah. Jungkir balik tak karuan. Entahlah. Mungkin di kelas ini tak ada siswa yang ingin menjadi penata kota.

Satu hal yang membuatku agak ’stres’ akan keadaan kelasku ini. Bagaimana aku mempertanggung-jawabkan kelakuan teman-temanku di akherat kelak. Aku pemimpin mereka. Tapi, sama sekali tak didengar. Sering kali aku mengingatkan diriku sendiri. Ini cobaan dari Gusti Allah, atau mungkin latihan menjadi pemimpin untuk kelak. Tidak. Aku tak boleh stres. Aku masih muda. Masih banyak cita-cita yang harus ku raih.

Ketika, awal menjadi pemimpin, aku sangat senang sekali. Karena, ketika upacara bendera hari senin, saat pembacaan doa selalu ada kalimat, “Ya Allah lindungilah pemimpin kami. Berilah ia petunjuk….” Doa kebaikan untuk pemimpin. Itu lah yang aku suka. Pemimpin pasti didoakan. Tapi, doa itu ada ketika aku duduk di bangku SD dan SMP. Ketika aku SMA sekarang, aku tidak menemukan kalimat yang mendoakan pemimpin. Jangankan doa untuk kebaikan pemimpin, doa untuk kejelekan pemimpin pun tak ada.

Salah seorang temanku melangkahkan kaki seperti model. Baju seragamnya tak dimasukkan rok. Jengkel aku melihat ada siswa seperti ini. Aku memukul bahunya. Ia mengelak. Lalu, ku arahkan pandanganku pada bajunya yang tak rapi. Ia malah melotot.

“Hey, terserah aku donk. Ini kan bajuku,” ujarnya.

“Mbakyu, anda masuk di lembaga SMA ini ada peraturannya. Tolong taati peraturan sekolah.” Aku mengingatkannya dengan sabar.

“Lho, kamu ini. Kenapa cuma aku saja yang dimarahi. Teman-teman yang lain lho juga banyak yang nggak masukin bajunya.” Ia meninggalkanku dengan sombong. Aku pandangi semua siswa. Ya ampun. Hampir 50% siswa tidak memasukkan bajunya dan tidak memakai sabuk.

Aku menghampiri salah seorang temanku yang intelek. Ia sedang membaca.

“Mbak, setujukah kau jika peraturan itu dilanggar?” tanyaku.

Ia menutup bukunya. “Tentu tidaklah. Peraturan itu dibuat untuk mendisiplinkan kita. Kita dididik untuk disiplin di sekolah ini.”

“Bagaimana dengan peraturan sekolah, Mbak?”

“Sama. Harus ditaati juga. Masak kita dengan enaknya melanggar peraturan.” Ku arahkan pandangan temanku itu pada teman-teman yang korak. Ia hanya geleng-geleng. Jawaban geleng-gelengnya tak memuaskanku.

***

Aku ingin menulis sebuah surat kritikan pada sekolahku. Isinya tentang baju tak dimasukkan, tata krama murid dan sebagainya. Semuanya kurang. Aku baru menyadari itu.

Dulu, sewaktu aku SD, aku diajari PPKn. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Aku diajari bagaimana kita menjadi anak yang mempunyai budi pekerti berdasarkan Ideologi Pancasila. Di bangku SMP pun aku masih diajari. Ada materi Tata Krama dan Unggah-ungguh pada mata pelajaran Bahasa Daerah Jawa. Aku sangat suka. Karena di Jawa ada bahasa krama Inggil yang bahasanya begitu halus. Krama inggil dipakai untuk berbicara kepada orang yang lebih tua. Sopan santun diajarkan di SD dan SMP.

Di SMA, aku tak menemukan siswa yang memperhatikan Indonesia sebagai negara penganut budaya timur. Bangsa Indonesia terkenal ramah. Tapi, sekarang ku jumpai siswa makan dan minum sambil berdiri. Siswa yang mempunyai budi pekerti yang baik dapat dihitung jumlahnya disini.

Entah, bagaimana nasib remaja yang diharapkan nanti sebagai penerus bangsa Indonesia. Aku pun hampir terkontaminasi dengan keadaan sekitarku ini. Namun, suasana teman-teman yang anggun menyadarkanku. Teman-temanku yang berprestasi menyadarkanku. Ada juara Taekwondo, Karate, Silat, OSN dan lain-lain. Para jawara itu membuatku mendecakkan lidah. Aku merasa terpacu dengan adanya para jawara itu. Sering aku bertanya apa sih resep untuk menjadi juara. Kata salah satu temanku adalah aku harus mau menjadi juara. Tentu saja aku mau. Tapi, kita harus mau berlatih dan banyak belajar. Bukan hanya mau menjadi juara. Niat dan semangat harus ada. Usaha dan doa mengiringi langkah kita untuk menjadi juara.

Bahasa. Bahasa juga menentukan sifat seseorang. Bagaimana orang tersebut dapat berbahasa dengan santun. Tapi, tak hanya manis di lidah. Sikap seseorang ketika menyampaikan sesuatu pun dapat mencerminkan bagaimana orang itu.

Layar di TV sangat menarik hati. Mulai dari yang muda sampai tua menyukai alat elektronik temuan J. F. Kenedy ini. Televisi pun mempengaruhi bahasa kita. Nenekku pernah bingung dengan bahasa yang ada dalam televisi.

“Le, maksudnya anak muda itu apa. Lu, gua, seperti itu apa?” tanya nenekku.

“Oh, itu bahasa orang yang sudah merasa pintar, mbah,” jawabku. Nenek semakin bingung. Tapi ketika menonton lagi beliau terkekeh-kekeh.

Bahasa remaja yang dibilang gaul membuat bangsa Indonesia terancam. Pasalnya jika bahasa gaul yang katanya keren itu terus digunakan, jangan-jangan pemerintahan nanti yang mana saatnya remaja memegang tampuk pemerintahan, bahasa gaul merajalela negri yang terkenal kaya ini. Bisa-bisa, media masa di Indonesia menggunakan bahasa gaul. Dan Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan digantikan dengan bahasa itu. Tidak. Aku tak mau itu terjadi. Tapi, bahasa gaul sudah digunakan dalam majalah remaja. Aku merasa agak bingung ketika pertama kali membaca majalah dengan bahasa gaul itu.

Aku terkagum-kagum ketika mendengar seruan guruku ketika memberi amanat saat upacara bendera. Mereka seperti Jenderal yang menyemangati prajuritnya.

“Nasib bangsa kita ada di tangan kalian. Kalianlah yang akan membawa arus bangsa kita menuju bangsa yang benar-benar merdeka. Ketahuilah bahwa suatu saat nanti, seorang pemimpin akan mencul yang berasal dari sekolah ini.” Suara tepuk tengan sangat riuh. “Cerdas dan Bermartabat dalam Persaingan Internasional. Itulah visi sekolah kita.” Kali ini tepuk tangan peserta upacara lebih ramai. Guruku yang sedang berdiri di depan tersenyum bangga. “Bung Karno berkata, ‘Pikirkanlah apa yang akan kita berikan untuk bangsa kita, bukan apa yang akan bangsa kita berikan kepada kita.’”

Inilah. Aku agak tak setuju dengan yang dikatakan oleh Bapak Guru. Fitri Nganthi Wani, anak Wji Thukul, menyatakan dalam puisinya bahwa ia tak mirip dengan Bung Karno. Karena Bung Karno menyatakan bahwa ia lebih memilih bangsa daripada keluarga. Tapi, Fitri Nganthi Wani berkata, ia lebih memilih keluarga daripada bangsa. Karena bangsanya tak peduli pada keluargnya.

Kemampuan berbahasa seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Seperti Guruku tadi. Dengan semangat beliau, beliau yakin dapat meyakinkan siswa-siswa yang haus akan kertas dengan tinta alfabet.

Sekali lagi bahasa. Bukan merupakan hal yang remeh-temeh. Bahasa dapat menimbulkan kesan positif dan negatif pada seseorang. Oleh karena itu, kita sebagai remaja, generasi penerus bangsa harus dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku rasa, negara ini tak ingin muluk-muluk, melihat generasi penerus bangsa ini dapat berbahasa Indonesia yang baik itu pun sudah cukup membanggakan. Tak perlu dengan segudang prestasi, namun kemampuan berbahasa yang tidak baik.

Sebagai pelajar, kita harus dapat memberikan yang terbaik pada sekolah kita. Seperti menaati peraturan yang ada. Pada dasarnya, peraturan itu dibuat untuk mendisiplinkan kita. Tapi, jikalau penindak kedisiplinan kurang bertindak untuk menangani pelanggaran peraturan, maka siswa akan menganggap pelanggaran peraturan itu adalah hal biasa. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit.

Menyalakan televisi dan melihat acara remaja. Rasanya sudah lumrah dengan pakaian, bahasa dan sikapnya. Pakaiannya sangat ketat sekali. Bahkan tak jarang pakaian yang digunakan kekurangan bahan kain. Kasihan. Masuk TV kok bahan pakaiannya kurang. Lalu, sikapnya yang mereka bilang gaul, membuat jengkel orang dewasa. “Tak punya unggah-ungguh.” Mereka bilang. Seenaknya petenteng sana petenteng sini. Membuat orang merasa risih melihatnya.

Jadi, arus zaman yang dibilang gaul ini harus dapat kita cerna. Menghormati nilai luhur yang ada. Ideologi Pancasila harus dijadikan pedoman kehidupan sehari-hari. Yang mana semua ini sudah diajarkan ketika kita duduk di bangku sekolah dasar. Kata gaul harus dapat dicerna dengan baik. Gaul itu membawa dampak positif ataukah negatif?

Yang jelas, semua hal itu mempunyai dampak positif dan negatif. Kita harus mengusahakan memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif. Kita tak boleh terpengaruh kebiasaan yang kurang baik karena akan mengancam masa depan bangsa kita.

Contohnya membiasakan berbahasa Inggris dan Indonesia dengan betul. Aku rasa itu juga gaul. Gaul dapat diartikan Gagah dan Unggul. Itulah arti positif dari gaul. Di sekolahku pun banyak jawara tingkat nasional bahkan internasional. Aku yakin mereka benar-benar ‘gaul’ dalam bidangnya. Menguasainya bidangnya dan berwawasan luas.

***

Salah satu Ibunda Guru pun datang ke kelas kami. Ia marah akan keadaan kelas kami. Aku sebagai ketua kelas terus diberi petuah untuk dapat menjadi pemimpin yang baik.
READ MORE - Arus Zaman

Gugur Air Mata

heningnya kalbu begitu kelam
memikat gundahnya hati
tarian pilu menyerang dengan girangnya
tangan ini berusaha
menggapai…namun semua berpaling
dan meninggalkan…

rintihan bathin kian mengiris
tapi tak ada yang peduli…
Sepi….
Sakit….

rasa itu membuncah, menghancurkan,menenggelamkan
asa yang kian terpuruk
kelumpuhan pada seluruhbagian otak
mulai menumpulpekikan girang sang kegelapan
menyengat tajam..

“Selamat datang dikehidupanku wahai luka dan nestapa”
naluri terkikis perih asa perlahan_-lahan memudar
isak tangis runtuh berguguran
“Selamat tinggal cinta,,
menepilah bersama gugurnya
airmata”
READ MORE - Gugur Air Mata

Rindu

Aku rindu usiaku yang telah lalu
Saat renta melapuk rasa termakan waktu
Kuingat saya kubisa hanya sederhana
Mainkan puting susu ibu
Dan lari ke bekapan ayah
Tenanga.sunyi..damai....

Kini tak lagi sama

Semua mau ku sempurna
Saat ku tak mampu semua lalu dan mencibir
Kurasa dewasa dalam kesendirian
Tempat mengadu hanya kelam surya menuju peraduan
Tenang…sunyi…damai…..

Dunia kenapa cepat berubah
Inginku kembali ke masa itu dan berakhir hanya dimasa itu
Jikalau mampu,,,,
READ MORE - Rindu

Doa Untuk Ayah Dan Bunda

Sesungguhnya jasa orang tua kita tidak terhitung banyaknya. Ibu kita mengandung selama 9 bulan kemudian melahirkan kita dengan resiko nyawa melayang. Ketika kita masih bayi tak berdaya, mereka beri kita minum dan makanan. Ketika kita buang air, tanpa jijik mereka membersihkan kita dengan penuh cinta. Kita diberi pakaian dan juga pendidikan.

Mereka sabar menghadapi kemarahan kita, rengekan, kenakalan, bahkan mungkin ketika kita masih kecil/balita pernah memukul mereka. Mereka tetap mencintai kita. Jadi jika kita merasa kesal dengan mereka, apalagi jika mereka begitu tua sehingga kelakuannya kembali seperti anak-anak, ingatlah kesabaran mereka dulu ketika menghadapi kita. Bagi yang sudah memiliki anak tentu paham tentang kerewelan anak-anak yang butuh kesabaran yang sangat dari orang tua.


Adakah kita mampu membalasnya? Bahkan seandainya orang tua kita tak berdaya sehingga untuk buang air kita yang membersihkannya, itu tidak akan sama. Orang tua membersihkan kita dengan penuh cinta dan harapan agar kita selamat dan panjang umur. Sementara si anak ketika melakukan hal yang sama mungkin akan merengut dan bertanya kapan “ujian” itu akan berakhir.


Begitulah. Seperti kata pepatah, “Kasih anak sepanjang badan, kasih ibu sepanjang jalan” Tidak bisa dibandingkan.


Oleh karena itu hendaknya kita berbakti pada orang tua kita. Minimal kita mendoakan mereka:


Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)


Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka putuslah rezeki kita:


Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)


Oleh karena itu sebagai anak yang berbakti hendaknya kita senantiasa berdoa untuk ibu bapak kita. Di antara doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut:


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:



Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo


“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]



Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab


“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:41]



Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” [Nuh:28]



Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari ilmu yang kita dapat dengan mengamalkannya setiap hari. Amiin.
READ MORE - Doa Untuk Ayah Dan Bunda

Problema REMAJA

Masa remaja adalah umur peralihan dari kanak-kanak menjelang dewasa,yang merupakan masa perkembangan terakhir bagi pembinaan kepribadian atau masa persoalan untuk memasuki umur dewasa, problemanya tidak sedikit. Sebagai manusia, remaja mempunyai bebagai kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi, belum perkembangan dan pertumbuhan fisik dan psikis yang membuat remaja menjadi bingung, dan itu merupakan sumber berbagai permasalahan didalam dirinya, terutama dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya permasalahan tersebut sering disebut dengan problem remaja.

Yang di maksudkan problem remaja adalah masalah-masalah yang dihadapi para remaja sehubungan dengan adanya kebutuhan mereka dalam rangka menyesuaikan drir terhadap lingkungan, dimana remaja itu hidup dan berkembang (Sofyan S. Wilis). Kebutuhan-kebutuhan tersebut diantaranya adalah kebutuhan biologis (motif unutk makan, minum, benafas, istirahat serta dorongan motif (seks), kebutuhan Fsikis (kebutuhab akan agama dan rasa aman), dan kebutuhan social (kebutuhan untuk dikenal, untuk mendapatkan respon dari orang lain, untuk memiliki dan kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru).
Karena kebutuhan-kebutuhan tersebut, kadang remaja berkecambuk dalam harapan-harapan dan tantangan yang dihadapinya sehingga menimbulkan problema. Dalam menghadapi problema tersebut, ada yang memecahkan sendiri, adapula yang memerluka bantuan orang-orang disekitarnya baik keluarga, pendidik atau masyarakat sehingga remaja dapat melewati masa bermasalahnya menuju kedewasaan.
Menurut Zakiah Daradjat, bahwa yang menjadi problema pada remaja diantaranya, yaitu :
a. Masalah Hari Depan
Setaiap remaja memikirkan hari depannya,ia ingin mendapatkan kepastian akan menjadi apakah ia nanti setelah tamat. Pemikiran akan hari depan itu semakin memuncak oleh mereka yang duduk dibangku Universitas/perguruan tinggi, tidak jarang mereka mengatakan : madesu atau masa depan suram, buat apa belajar, toh sama saja punya ijasah ataupun tidak sama-sama menganggur, dan sabagainya. Kecemasan seperti itu akan menimbulkan jadi menambah suramnya masa depan remaja itu, misalnya semangat belajar menurun, kemampuan berpikir berkurang, rasa tertekan timbul,bahkan kadang-kadang sampai kepada nudahnya meraka terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik, kenakalan dan penyalahgunaan narkotika serta perhatian meraka terhadap agama semakin berkurang, bahkan tidak jarang terjadi kegoncangan hebat dalam kepercayaan terhadap Tuhan.
b. Masalah Hubungan Dengan Orang Tua
Ini merupakan masalah yang dihadapi oleh remaja dari dulu sampaii sekarang, seringkali terjadi pertentangan pendapat antara orang tua dan anak-anaknya yang telah remaja atau dewasa. Kadang-kadang hubungan yang kurang baik itu timbul karena remaja mengikuti arus dan mode, seperti rambut gondrong, pakian kurang sopan, lagak lagu terhadap orang tua kurang sopan/kurang hormat. Karena hubungan yang tidak harmonis ini, remaja patah semangat, mogok belajar, menjadi nakal, merusak barang-barang rumah, lari darii rumah, benci kepada orang tua, bahkan sering kita lihat kenyataan sekarang ini anak membunuh orang tuanya sendiri.
c. Masalah Moral dan Agama
Tampaknya pengaruh globalisasi dalam segala bidang kehidupan, telah menggeser nilai-nilai moral dan agama, yang paling menonjol dikota-kota besar adalah adanya pengaruh hubungan dengan kebudayaan asing semakin meningkat melalui film, bacaan, gambar, mode dan turis yang datang dengan sikap menjauh dari agama. Nilai-nilai moral yang tidak didasarkan kepada agama akan terus berubah-berubah itu menimbulkan kegoncangan pula, karena menyebabkan orang hidup tanpa pegangan pasti.
Nilai yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, karena nilai agama itu absolute dan berlaku sepanjang jaman, tidak terpengaruh oleh waktu, tempat dan keadaan. Oleh karena itu hanya remaja yang kuat keyakinan beragamalah yang mampu mempertahankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terpengaruh oleh arus kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu jika adanya pertentangan antara pengetahuan agama yang ia telah ketahui dengan kenyataan hidup sehari-hari membuat mereka gelisah dan bingung, bahkan menggoncangkan keyakinan yang telah tertanam.

READ MORE - Problema REMAJA

Abadi Selam-nya

Tersenyumlah saat kau mengingat ku.
karna saat itu, aku sangat...... meridakan mu.
dan menangislah saat kau meridukanku,
karna saat itu aku tak berada disamping mu.

Tetapi, pejamkanlah mata indahmu itu.
karna saat itu aku terasa ada didekat mu,..!!
karna aku telah berada dihatimu untuk selamanya.
taka ada yg tersisa lg untuk ku,.

selain kenangan - kenangan yang indah bersama mu.
mata indah yang denga-nya aku biasa melihat keindahan cinta,.
mata indah yang dahulu adalah miliki ku.
kini semua-nya terasa jauh meninggalkan ku,..!!
dikehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu,..
hati, cinta, dan rindu ku adalah milik mu.

cintamu takan pernah membebaskan ku.
bagaimana mukin aku terbang mencari cinta yang lain,
saat sayap- sayap ku telah patah karna mu
cintamu akan tetap tinggal bersamku
hingga akhir hayat ku, dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi

betapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
yang tengah menghidupkan sinar redup ku
namun tak dapat menyinari, dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu?
Karna mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takan pernah terganti, bagai pecahan logam
mengekalkan., Kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku,.
Kini.. aku telah kehilanganmu,.
READ MORE - Abadi Selam-nya

Badai Kegelisahan

Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.87
Maka kuputuskan untuk minta persetujuan ibu. Ibu adalah segalanya bagiku. Jika beliau meridhai maka aku akan melangkah maju. Jika tidak maka aku pun tidak.


87 Dari penggambungan dua petikan sajak Fatin Hamama berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘Ibu (3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya “Papyrus”.

Aku telpon ke Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa. Tak ada telpon di sana. Aku menelpon ke rumah Pak Zainuri, mertua paman yang penilik sekolah dan tinggal di kota kecamatan. Rumah paman tak jauh dari beliau. Selama ini, jika aku ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang lewat Pak Zainuri dulu. Pak Zainuri akan menghubungi paman dan paman akan menghubungi ayah ibu. Kalau aku mengirim surat pun aku lebih suka mengalamatkannya ke rumah Pak Zainuri lebih cepat sampainya. Sebab jika dialamatkan ke desa, suratku bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pak RW dalam waktu tak tentu. Masalah transportasi dan komunikasi global memang agak susah jika hidup di desa.
Kepada paman aku jelaskan semuanya. Siapa Syaikh Utsman dan apa yang beliau tawarkan kepada diriku. Paman adalah orang yang wawasannya luas, ia guru SMP teladan se kabupaten. Paman banyak bertanya tentang seandainya benar-benar menikah dengan muslimah yang bukan dari Indonesia. Aku jelaskan, jika dia gadis yang shalihah semuanya akan mudah. Aku jelaskan pada paman, tidak semua orang mendapatkan tawaran sedemikian terhormatnya dari Syaikh Utsman. Di Indonesia, kalau mendapatkan tawaran untuk menikah dengan anak seorang kiai mushalla saja dianggap suatu keberuntungan yang luar biasa. Juga kujelaskan hasil istikharahku. Aku minta pada paman agar mengajak musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu aku juga minta ayah ibu juga melakukan shalat istikharah. Apa pun hasilnya itulah keputusan yang akan aku ambil. Dua hari lagi pada jam yang sama aku akan menelpon menanyakan hasilnya. Dan aku ingin langsung mendengar dari lisan ibu.

Dua hari kemudian. Pada waktu yang dijanjikan aku menelpon ke tanah air. Aku mendengar suara ibu,
“Jika isterimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis shalihah yang dari Indonesia!”
Air mataku meleleh mendengar keputusan ibu. Sebuah keputusan yang sangat bijaksana. Aku memang tidak mungkin hidup dan berjuang selain di tanah air tercinta. Hari itu juga aku menemui Syaikh Utsman dan memberitahukan keputusanku. Beliau berpesan agar hari berikutnya datang ke tempat beliau lagi, untuk mengetahui kabar selanjutnya. Hari berikutnya aku datang. Syaikh Utsman menyambutku dengan senyum dan pelukan penuh kehangatan. Aku seperti seorang cucu yang beliau sayangi.
“Semoga gadis shalihah ini menjadi rizkimu di dunia dan di akhirat. Dia siap kau bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini ada dua album foto dia, kau bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau istikharah lagi. Jika kau mantap kau akan aku pertemukan dengan gadis shalihah ini dan walinya.”
Aku pulang dengan membawa dua album foto yang kumasukkan dalam tas cangklongku. Aku merasa seperti memikul beban satu ton. Tas cangklong itu terasa berat sekali.
Sampai di kamar aku memegang album itu dengan tangan gemetar, dan hati bergetar. Aku akan melihat wajah calon bidadari yang menemani hidupku selamanya. Aku akan melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah kenapa aku tidak berani membukanya sama sekali. Dua album itu cuma aku pegang dan tanpa kubuka sedikitpun. Aku tersentak, aku belum tahu namanya. Kenapa tidak aku tanyakan namanya pada Syaikh Utsman? Aku ingin membukanya, siapa tahu di dalam Album itu ada namanya. Tapi urung. Aku tidak berani. Entah kenapa. Aku shalat istikharah, yang datang adalah ibunda tercinta. Beliau berkata singkat,

“Menikahlah ibu merestui.”
Hari berikutnya aku kembali menemui Syaikh Utsman dan kukatakan kemantapanku untuk menikahi gadis itu. Syaikh Utsman berkata,
“Aku sudah menduga dan aku sangat yakin kau akan mengatakan itu. Aku memang belum melihat gadis itu, tapi isteriku, Ummu Fathi, yang melihat foto- foto dalam album itu memuji-muji kecantikannya. Ummu Fathi malah bilang jika kau sampai tidak mau, maka ia memintaku agar menjodohkan dengan cucuku yang sedang kuliah di Perancis. Aku geli sekali mendengar perkataan Ummu Fathi. Dan kau nanti akan kaget karena tadi malam walinya bilang gadis itu sangat mengenalmu, dan kau mungkin telah mengenalnya. Kau sudah melihatnya, kau mengenalnya bukan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali belum melihat album itu dan aku sama sekali tidak tahu namanya. Aku diam saja. Gadis itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. Aku telah menyatakan kemantapanku tapi aku belum tahu siapa dia. Aku menjadi orang yang paling penasaran di dunia. Syaikh Utsman minta kepadaku agar besok datang tepat setelah shalat Ashar, kalau bisa shalat Ashar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah sab’ah diundur hari berikutnya. Besok aku akan dipertemukan dengan gadis itu bersama walinya. Untuk saling melihat dan saling mengenal sebelum kata sepakat untuk akad nikah diputuskan.

Malam itu, malam sepulang dari rumah Syaikh Utsman adalah malam paling menyiksa dalam hidupku. Namun ada kesejukan yang sedemikian lembut mengaliri relung-relung hatiku. Kesejukan itu apa aku tidak tahu namanya. Saiful rupanya sangat memperhatikan kesibukkanku selama ini. Dia bertanya ini itu tapi masalah diriku sedang proses ke gerbang pernikahan sama sekali tidak aku beritahukan padanya, juga pada siapa saja. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku menutup kamar, dan berada di kamar seperti orang linglung. Siapa gadis itu? Dia mengenalku dan aku mengenalnya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bukan gadis Mesir. Aku membodoh-bodohkan diriku kenapa tidak melihat dua album yang telah berada di tanganku. Jangan-jangan dia gadis Indonesia. Walinya tahu aku mengaji pada Syaikh Utsman dan minta agar menjodohkan keponakannya denganku. Tapi, siapa gadis Indonesia yang kecantikannya layak dipuji oleh isteri Syaikh Utsman dan dia memiliki wali di sini?
Seingatku mahasiswi Indonesia yang disertai kerabatnya hanya ada tiga orang. Raihana disertai kakak kandungnya. Fauzia disertai adiknya. Dan Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hatiku berdesir, jantungku mau copot. Yang paling cantik memang Nurul. Tapi aku merasa itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin. Dia adalah puteri seorang kiai besar, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang kiai biasanya telah memilih besan sejak anaknya masih belum bisa berjalan. Tapi kenapa Ustadz Jalal memintaku datang? Aku semakin didera badai kegelisahan yang dahsyat. Aku mengumpat diriku sendiri. Seandainya aku melihat foto dalam album aku tidak akan dirajam penasaran yang menggila ini. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dan penasaran dengan bersujud dan menangis kepada Tuhan. Dalam sujud aku berdoa sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun wal’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!”88
READ MORE - Badai Kegelisahan