PPC Iklan Blogger Indonesia
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Engkaulah Pelabuhanku

Berdiri ku disini hanya untukmu, Dan yakinkan ku untuk memilihmu. Dalam hati kecilku inginkan kamu. Berharap untuk dapat bersamamu. Aku kan ada untuk dirimu. Dan selalu tuk mu. Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku. Berikan ku cinta terindah yang hanya untukmu. Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku. Dan aku yakin kau memang pilihan hatiku..


Ya Allah.. Benarkah dia pilihan hatiku? Apa benar dia yang Engkau pilihkan untukku? Setiap saat dalam kesendirianku, terbayang selalu wajahnya. Aku ingin menghempasnya dan semua tentang dia. Bukan karena aku tidak mencintainya tapi aku takut semakin aku memikirkan dia, aku semakin ingin bersamanya dan memilikinya. Padahal aku tahu itu hal yang sulit. Hal yang aku tak yakin dapat terjadi dalam hidupku ini.

Walaupun cuma sebentar, aku ingin sekali merasakan kebersamaan dengannya. Seperti yang selama ini aku mimpikan di setiap tidurku. Aku tak tahu mimpi itu kiriman setan ataukah anugerah terindah darimu agar aku bisa merasakan sedikit bahagia. Yang pasti, aku ingin dia tahu tentang perasaanku. Tapi bagaimana bisa aku melakukan itu?

Aku tak punya sesuatu yang pantas untuk dibanggakan olehnya. Akupun tak yakin apa aku ini berhak atas cintanya. Aku hanyalah angin. Yang mungkin ditunggu saat dia butuh dan saat dia puas akan kehadiranku, dia akan pergi meninggalkanku dan mencari tempat untuk melupakan hembusan anginku. 

Semakin hari aku semakin suka, semakin cinta (maybe) dan semakin ingin bersamanya. Tapi waktu itu, semakin hari semakin habis.. Waktu yang kubutuhkan untuk sekedar melihat senyum manisnya. Waktu yang kubutuhkan untuk mendengar suaranya. Waktu yang kubutuhkan saat bernapas di udara yang sama dengannya. Waktu itu semakin hari semakin habis. Apa yang harus aku lakukan?

Seadainya aku bisa membaca hatinya. Seandainya dia benar-benar menyukaiku. Seandainya aku sebagai laki-laki punya keberanian itu. Seandainya dia punya keberanian untuk mematahkan keragu-raguanku. Seandainya dia menemaniku di sisa waktuku bersamanya. Aku ingin bersamanya Ya Allah.. 

Tak pernah ku sangka. Aku merasakan rindu yang begitu hebat. Saat kamu tak lagi ada disampingku. Ya Allah ya Tuhanku. Ku mohon kepada-Mu. Masukkan aku ke dalam lubuk hatinya. Buatlah dia cinta kepadaku. Mudahkan aku menuju jalan kehati-nya.  

PFC_13082013

READ MORE - Engkaulah Pelabuhanku

Doa Patah Hati

Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidupku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi.
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…
…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah daku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….

Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang naif ini

Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat

Menjuruskan daku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya daku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh….

amien!!!

READ MORE - Doa Patah Hati

Pitutur / Nasehat Jawa Dalam Peribahasa

Sebagai orang jawa pasti kita sering mendengar orang tua berkata urip iku urup? terutama seorang kakek memberi nasehat pada nak atu cucu-nya. sebenar-nya filosofi orang jawa yang di tuangkan dalam perbahasa, yang bermakna pitutur atau nasehat contoh-nya dibawah ini beberapa pitutur jawa dalam peribahasa :


1.
Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).


2.
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).


3.
Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)


4.
Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)


5.
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

6.
Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

7.
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).


8.
Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka).


9.
Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).


10.
Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
READ MORE - Pitutur / Nasehat Jawa Dalam Peribahasa

Ketika Cinta Dipertanyakan??


Langit kelabu mengiringi langkah Dyan yang mulai lunglai. Peluhnya sudah bercucuran entah kemana-mana. Ia mulai berlari mengejar mobil tua yang hampir saja menabraknya tadi. Ia berlari sekuat tenaganya. Tapi,laju mobil itu pun agak tersendat melewati jalan kecil yang penuh lumpur di daerah perkampungan padat. Anak-anak berpakaian kumuh terlihat lalu lalang berlari kesana kemari dengan riang tanpa memperdulikan daerah sekitarnya yang penuh kubangan lumpur karena hujan yang baru saja turun. Belakang tubuuh Dyan juga agak kotor karena percikan lumpur yang menempel. Mobil itu lalu berhenti di tengah lapangan yang sangat hijau. Di sini tidak ada seorang anak kecil pun yang bermain. Hanya hamparan rumput yang luas saja yang berada di sekitar jauh pandangan mata memandang. Sungguh jarang dapat melihat pemandangan seperti ini di kota besar. Dyan terpaku sesaat lalu dari arah mobil itu keluarlah seorang kakek tua yang umurnya kira-kira 75 tahun. Langkah kakinya menghampiri Dyan yang baru berusia 15 tahun. Ia lalu tersenyum terhadap Dyan lalu memeluk dan mencium kening Dyan yang basah akan peluhnya. Kakek itu lalu mengusap-usap kepala Dyan dengan sangat lembut sekali.
“ Dyan! Ini adalah lapangan yang dapat menyejukan hati. Jika kamu beruntung kamu akan menemukan harta yang tak ternilai.”
“Jadi? Harta karun? Benarkah itu? Kakek tidak bohongkan sama Dyan?”
“Ia,Dyan! Ayah dan ibumu menemukan harta karun yang sangat beharga di sini. Kamu juga harus dapat menemukan harta itu.”
“Baik,Kakek! Dyan paham! Dyan akan selalu menuruti apa kata kakek. Biar ayah dan ibu selalu sayang sama Dyan walaupun mereka sudah berada di surga.”
Sang kakek tidak dapat lagi berkata-kata. Hanya buliran bening yang menetes dari mata kakek itu. Cucu tunggalnya ia peluk dengan hangatnya walaupun bau keringat bercampur lumpur telah perpadu menjadi satu. Akhirnya,langit ikut kembali menangis.
Dyan dan kakeknya berlari menuju mobil tua yang terpakir di lapangan itu. Sang kakek mencoba menghidupkan mobil tuanya dengan sabar. Dengan perlahan akhirnya mobil tua itu dapat berjalan melintasi perkampungan kumuh itu. Kakek itu membawa mobil itu dengan santai. Keluarga kecil sederhana ini hanya memiliki cinta yang sangat berarti dalam kehidupanya. sebenarnya sang kakek memiliki usaha yang telah ia rintis sejak puluhan tahun lalu tapi,usahanya kini di ambil alih oleh anaknya yang lain yang usianya amat sangat muda sekitar 20 tahunan. Dyan dan kakeknya berniat mengunjungi keluarganya di luar kota. Saat mereka hendak berangkat langit menangis lagi. Karena musim hujan sedang berlangsung. Saat mereka melewati tikungan yang sangat tajam sekali naas mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan mereka di larikan ke rumah sakit oleh warhga sekitar. Dalam kecelakaan itu Dyan harus kehilangan kakek yang selama ini dia sayangi. Ia juga harus kehilangan penglihatannya. Kini,Dyan tidak dapat lagi melihat indahnya dunia.
*****
2 minggu kemudian…
Dyan kini di asuh oleh tantenya yang masih berusia 20 tahunan. Nama tantenya adalah Naksita tapi Dyan lebih senang memanggil tantenya dengan sebutan Sita. Tante Sita sangat sayang sekali terhadap Dyan. Telah bertanya pada seorang dokter ternama untuk menyembuhkan Dyan. Tidak sampai 2 bulan lagi Dyan akan melihat bumi.
“Tante,terimakasih!”
“Dyan sekarang tanggung jawab Tante Sita jadi gak usah berterimakasih.”
“Tante,,,”
Dyan yang seorang diri selalu memegang boneka kelinci yang diberikan oleh sang kakeknya. Setiap sore ia selalu duduk di bawah tangga rumah tantenya. Hari-hari di laluinya dengan semangat baru yang sedang di tanamnya. Kini adalah hari ia dapat melihat kembali ia sangat senang sekali. Ia dan tantenya berjalan menggunakan mobil yang sangat mewah sekali. Hari ini adalah hari operasinya ia sangat senang sekali. Ia akhirnya dapat melihat kembali. Saat di lobi Rumah Sakit ia di suruh tantenya menunggu di kursi yang berada di sekitar sana.
“Dyan… kamu tunggu dulu di sini. Tante mau mengururus administrasi yang ini.”
“Oke,tante…!”
“Dyan jadi anak yang baik ya!”
“Ia tante!’’
Dyan yang polos itu pun duduk dengan manis di kursi. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menusuk-nusuk tubuh Dyan yang sedang duduk santai. Ia asanngat terkejut sekali tapi apa daya ia tidak melihat sama sekali. Hal itu di biarkan saja sampai kejadian itu terulang hingga tiga kali ia sangat geram dan akhirnya emosinya meluap-luap. Ia mulai menegaskan dirinya yang sedang duduk itu.
“Hai,hentikan!”
“Hei,marah ya!”
“Ia,kenapa? Aku sudah bosan. Kamu siapa? Mentang-mentang cowok jadi seenaknya ma cewek ya!”
“Yah,marah nie cewek…”
Duduk di samping Dyan. Cowok yang usianyan sebaya dengan Dyan. Lalu ia memperhatikan gadis manis ini dengan seksama lalu ia tertawa renyah dengan manisnya.
‘Kenapa kamu tertawa? Ada yang Lucu???”
“Gak! Hanya saja kamu lucu ya!”
“LUCU??? Whats meaning of Lucu??? Kamu nyebelin…. “
“Tu kan lucu!(senyum) mata kamu juga indah…”
“…..(Diam terpaku lalu menagis ) Oh,indah….”
“Kenapa kamu menangis???”
“Kamu menyebut mataku indah …. Sedangkan aku gak bisa melihat indahnya dunia.”
“(Setengah kaget) Apa??? Kamu Bu… Buta???”
“Ia sejak 3 bulan lalu. Aku mengalami kecelakaan. Tapi,pada hari ini aku akan menjalankan operasi.”
“Oh…. Aku mendukungmu ya!!!”
“Dukungan??? Kamu siapa sieh???”
“Oh,ya ! kita belum kenalan nama kamu siapa???”
“Nama Aku Dyana Aura Putrisca. Tapi,kamu bisa memanggil aku Dyan. Kamu sendiri siapa? Ngapain di Rumah Sakit…??? Paling jenguk keluarga atau Cek up aja!”
“Apalah artinya sebuah nama Dyan…”
“Curang!(Emosi meningkat) aku sudah memberi tahukan namaku…”
“ia… Ia… (Dengan senyum) Nama aku Putra Ryanne Alfinsya. Tapi,kamu bisa manggil aku Putra usiaku 15 tahun. Aku baru lulus SMP. Dan aku sekarang akan menjadi siswa SMA di kota ini. Hobiku main sepak bola dan favorit makananku Sate ayam aku ke siini dalam rangka jenguk keluarga. Trus… cita-citaku..(Berhenti)”
“Ah,gak peduli ma biodatamu… umur kita sama kok. Percuma aja kamu ke sini kalau Cuma gangguin pasien di sini,Tra! Kamu gak tau rasanya jadi orang sakit sieh…”
“(Diam lalu tersenyum) Ia sieh…. Eh,kayanya tante kamu sudah datang. Aku doakan kamu cepat sembuh ya! Aku tunggu kamu lo. Aku akan ada di sini selama seminggu jadi kita bisa ketemu.”
“(Senyum) janji ya! Jangan nakal !”
Cowok ini langsung pergi dengan tersenyum. Ia melangakah bagaikan kilat. Tapi,dari hidungnya mengalir darah segar makanya ia langsung pergi dari hadapan Dyan. Ia seperti sedang menyembunyikan seuatu.
“Dyan… ayo,Kita ke ruang periksa.”
“ia,tante. Put,aku duluan ya!”
“kamu bicara dengan siapa sayang?”
“Sama Putra. Dia tadi di sini. “
“Gak ada siapa-siapa. Ah,paling kamu khayal doang!’
“Mungkin …. Ya,Mungkin!”
Dyan ternyata tidak menyadari kepergian Putra yang cepat itu. Tapi,Putra telah berjanji terhadap Dyan. Dyan maju selangkah dari tempat duduknya. Mungkin benar kata tantenya yang tadi hanya khayalan Dyan saja. Ia juga beranggapan demikian. Dyan menjalani operasinya pada malam hari. Dan sukses tim medis dan para medis sangat memuasaka di pastikan 3 atau 4 hari lagi Dyan dapat melihat isi dunia. Ia sangat senang sekali. Hari kedua ia tertidur pulas di kamarnya. Ia seperti terjaga dari indahnya malam dan hujan yang turun. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara yang membangunkan Dyan dari lelapnya pada malam itu. Suara langkah kaki yang misterius lalu ada tangan halus yang meraba Dyan.
“(dengan halus)Dyan…. Dyan… “
“(perlahan) Putra? Kamu datang?”
“Kan sudah janji.”
“Ini aku bawakan kue buatanku sendiri. Dan aku gak bisa kamu liat nanti saat kamu bis amelihat bumi ini. Maaf ya!’
“Kenapa? Ada apa Putra?”
“Gak… (Agak ragu). Bukannya aku gak nepati Janji. Hanya saja aku harus pergi.”
“Putra… “
“Eh,sudah malam aku pergi dulu ya!”
Putra pergi dari kamarnya Dyan ia hanya pergi seperti angin yang lalu lalang tanpa arah. Sedangkan,Dyan hanya dapat tersenyum. Ia mengira itulah teman khayalnya. Pagi pun tiba dan tantenya datang dengan senyum yang paling ceria sekali.
“Dyan… ini tante bawakan makanan.”
“Ia,tante. “
“Eh,ada makanan kue lagi. Tante minta ya!”
“Kue? Ia deh boleh aja…”
“Wah,enak sekali!”
Tante Sita membersihkan kamar itu dengan senang hati. Dyan menyadari bahwa Putra itu nyata dan dia akan selalu ada. Buktinya kue itu masih ada. Besok,menuurut dr.Andi yang menangani Dyan ia dapat membuka perban pada esok hari. Hari esok yang sangat di nantikan oleh Dyan yang senang sekali.
Hari ini adalah hari yang sangat di harapkan Dyan. Ia akan melihat dunia dan sesuai jadwal dan kehendak Tuhan YME ia dapat melihat dunia lagi. Sungguh senang sekali hati Dyan. Hari ini dia juga telah dapat pulang. Ia membawa barang-barangnya. Ia menunggu di Lobi RS sendirian. Ia sedang menunggu Tante Sita mengambil mobilnya. Ia teringat akan Putra yang tidak bisa datang pada hari itu. Ia sebenarnya menantikan teman barunya itu. Saat ia tertunduk di belakangnya ada IGD dan di dalam IGD ada seorang ana kecil yang terbaring lesu. Itu Putra di dampingi keluarganya. Di ruang dokter terdengar percakapan orang tua Putra bersama sang dokter.
“Jadi,gimana kondisi anak kami?”
“Hmm…. Bapak dan ibu yang sabar,ya!’
“Maksud dokter??? “
“Anak bapak dan fisik sangat sehat sekali. Tapi,disayangkan sekali… ia tidak boleh kecapaian. Ia sebenarnya dalam kondisi yang lemah.”
Putra mendengar percakapan itu. Ia hanya tersenyum saja. Di lobi,Dyan sangat senang akhirnya ia dapat melihat lagi. Ia sudah siap untuk bersekolah lagi. Ia akan bersekolah di salah satu SMP ternama di Kota itu. Sebenarnya ia masih memikirkan Putra. Ia sangat bingung terhadap anak satu itu. Putra datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan tiba-tiba pula. Putra yang masih berada dalam pikirannya. Lain halnya dengan Dyan Putra sekarang sedang mempersiapkan keperluan sekolahnya. Ia sangat senang sekali. Ia juga masih memikirkan Dyan. Menurutnya Dyan akan menjadi gadis yang baik dan sopan. Begitulah pikirnya.
*****
Hari ini adalah hari pertama dia sekolah dengan seragamnya yang baru. Ia melangkahi jalan-jalan sekolahnya dengan senang sekali. Anak-anak di tahun ajaran baru juga masih terus berdatangan. Ia kini duduk di bangku kelas 1 SMA. Tepatnya di 10 A. ia sangat senang sekali. Hari-hari di laluinya dengan senang hati. Banyak juga ia memperoleh teman bahkan ia aktif di kegiatan OSIS. Ia menjadi seksi Mading. Suatu hari ia hendak memasang mading yang berada di sekitar lapangan. Ada anak-anak 10 c yang sedang berolah raga lari. Itu tidak mengganggu baginya tapi,tiba-tiba ada yang lari dengan sangat kencang tanpa memperhatiakan arah dan Brukkk… Dyan terjatuh.
“Maaf,ya!”
“Aw,kalo lari liat-liat dong!”
“Ia,maaf! (memandang wajah Dyan) eh,kamu….”
“(kesal)Apa???””
“Dyan??? Dyan… Dyana Aura Putrisca? Ia kan?”
“Ia,kamu kok tau. Eh,padahal kita gak pernah kenal sebelumnya.”
“Masa lupa…? Oh,ya ! aku yang lupa… kita pernah ketemu lo! Aku…”
“PUTRA….. ayo lari!”
“Ia,Pak Heru.”
“Putra? Putra Ryanne Alfinsya…. “
Dyan hanya dapat tersenyum. Ternyata ia dapat bertemu lagi dengan Putra. Dalam hatinya inikah Putra yang pernah mengganggu dia. Ini adalah Putra yang menjenguk dia. Dan ini benar adalah Putra. Tapi,percakapan mereka terhenti karena pak Heru,Guru Olahraga menyuruh Putra lari kembali. Dyan melangkah dengan senyum yang sangat mengembang. Nampak sekali keceriaan yang ada di wajahnya yang lugu itu. Begitu pula dengan Putra yang tersenyum. Dan saat di kantin mereka saling bertemu. Mereka semakin akrab ya,walaupun si Putra tingkahnya sangat menyebalkan sekali. Mereka sering di sindir teman-teman mereka sebagai sepasang kekasih. Tapi,Dyan dengan tegas mengatakan tidak. Saat pulang sekolah pun Putra ada di depan gerbang sekolah menunggu Dyan.
“Dyan….(Menjulurkan Lidahnya) Jelek!!!!’
“PUTRA!!!! “
“Jelekkkk…”
“Aku benci kamu….”
Dyan lari dan menangis sedih sekali. Buliran air matanya tidak bisa tertahan lagi. Ia sebenarnya sangat sayang kepada Putra yang sudah di anggap Sahabatnya itu. Tapi,Putra sering membuat Dyan sakit hati dengan ucapan Putra yang terkadang kasar yang sebenarnya bermaksud untuk bercanda semata. Putra juga merasa bersalah. Tapi,saat Dyan lari ia bertemu Patra yang baik. Ia juga adalah ketua kelas sekaligus ketua OSIS di sekolah.
“Dyan? Jangan nangis…”
“Tra…. Putra kejam.”
“Ia tapi maksudnya hanya bercanda.”
“(matanya yang berkaca-kaca) Patra…. Kamu gak tau sensitifnya hati cewek.”
“(Diam) Tapi,aku tau cara buat cewek gak nangis.”
“Caranya…”
“….. Dengarkan step by stepnya….”
Dengan tiba-tiba Patra memeluk Dyan yang sedang menangis. Dyan pun diam terpaku. Hal itu di lihat Putra yang bermaksud mengejar Dyan. Terkejutlah Dyan dengan hal itu.
“Hmm…. Ingat-ingat ini adalah TEMPAT UMUM.”
“Tra… Putra…. (melepaskan pelukan) gak ini….”
“Kak Patra jangan ambil kesempatan dong! Cewek ini kan masih single…’
“Ia,Putra. Tapi,kamu buat dia nangis.”
“Sudahlah! Ayo,Dyan kita pulang.’
Tangan Dyan di tarik oleh Putra lalu ia hanya dapat meninggalkan Kak Patra seorang diri. Sebenarnya Rumah mereka searah. Namun,Putra gak mau pulang bareng ma Dyan. Putra juga mengikuti exkul Futsal. Minggu depan kelasnya akan bertanding melawan kelas 11 IPA B yang berarti ia akan berhadapan dengan Patra. Putra sangat menantikan saat itu. Sehari sebelum pertandingan ia pke RS dan kebetulan sekali ia bertemu dr.Andi. mereka sangat akrab sekali.
“ jadi dr.Andi mau menonton pertandingan Futsal Putra?”
“Wah,dokter ingin sekali. Tapi,saya gak bisa. Putra terus jaga kesehatan ya!”
“Oo… tenang aja! Saya akan terus menjaga kesehatan saya. Kan saya sudah bertekad ingin jadi dokter.”
“Putra…. Putra….”
Sang dokter lalu berlalu. Kebetulan lagi Dyan juga berada di RS dan ia bertemu dengan Putra. Ia melihat Putra keluar dari Apotek dan membawa berbagai macam jenis obat-obatan.
“Weitzzz….Putra besok tanding lawan kak Patra ya?”
“Ah,Dyan! Ia… dukung aku ya!”
“Kamu??? Mending kak Patra yang aku dukung.”
“terserah kamu…”
“Marah ya???”
“Enggak…”
“Kamu banyak bawa obat… liat dong!”
Dengan sigapnya Putra membawa obat itu dan memalingkannya agar tidak terlihat oleh Dyan. Dyan bingung dengan sikap Putra. Tapi,ia tidak curiga dengan sikap Putra.
“Hayo… obat apa itu???”
“Ini….”
“Pasti vitamin. Atau suplemen buat stamina kamu.’
“Ia. Kamu ngapain di sini?”
“Aku ngecek mata.”
“Owh…. Jalan yuk!’”
“Kemana?”
“Ayo….”
Putra menarik tangan halus Dyan yang masih bingung dengan sikap Putra. Putra mengajak Dyan ke belakang RS di sana ada taman yang sangat indah sekali. Taman yang banyak kupu-kupu. Putra menceritakan banyak hal tentang RS itu. Putra sepertinya hafal betul dengan lokasi manapun di rumah sakit itu.
“Kamu tau gak?”
“Apa,Tra.”
“Di belakang RS ini ada perkampungan dan tepat di delakang air mancur itu ada lapangan sepak bola yangh besar sekali. Aku sering berlatih di sana dan di dekatnya juga ada danau yang sangat indah. “
“Apakah ini….”
“Apa,Dy?”
Putra menarik tangan Dyan. Mereka mengelilingi taman RS dan ternyata benar sekali di belakang air mancur itu ada lapangan yang sangat luas. Astaga,inilah lapangan yang dulu ia sering jumpa bersama kakeknya. Ia ingat jika lapangan ini akan membawa kebahagiaan karena ini adalah lapangan hijau yang mempersatukan orang tuanya. Ia tersenyum lalu buliran air matanya menetes karena terharu. Anak-anak kampung juga bermain bola dan layangan di sini. Putra juga tampaknya akrab sekali dengan tempat ini. Dyan melihat tawa manis Putra yang bermain bola bersama anak-anak yang sangat ceria sekali. Tapi,ponsel Dyan berbunyi dan ada pesan masuk dari Tante Sita. Ia harus segera menuju lobi karena tantenya sedang menunggunya. Tidak ingin mengecewakan tantenya ia pegi dari tempat itu.
“Putra… aku duluan.”
“apa? (menghampiri Dyan) baiklah. Jangan lupa besok dukung aku.”
“Putra.. (senyum pasti) Oke!”
“(mengembang senyum) trims…”
Tapi,tiba-tiba darah mengalit dari hidung Putra.
“Put,kenapa?”
“Oh,ini! Gak apa Cuma mimisan… ntar hilang kok!”
“baiklah… kamu hati-hati ya! Aku duluan….”
“ia….”
“…. Dadah….’
Dyan pergi meninggalkan Putra seorang diri bersama anak-anak kampung. Dyan merasa ada yang aneh dengan Putra. Tapi,sudahlah ia masih fokus dengan ujian kenaikan kelas. Hari yang di tunggu tiba. Hari ini pertandingan futsal antar kelas 10 C vs 11 IPA B. tapi,hari ini juga sangat membingungkan bagi Dyan. Ia bingung harus dukung Putra atau kak Patra. Tapi,pertandingan ini memang harus sportif. Pertandingan pun di mulai. Pertandingan ini sangat menegangkan di menit 5,11 IPA B sudah mencetak angka lal di susul di menit 12 Putra mencetak angka. Babak kedua juga sangat gesit sekali. Sewaktu Putra hendak menendang bola ia di tabrak dengan kasar oleh anak-anak 11 IPA B dan ia terjatuh anak-anak 11 IPA b berhasil mencetak angka dan menjadi pemenang dalam pertandingan ini. Putra belum bangkit dari tengah lapangan. Apakah ia pingsan? Hati Dyan terus bertanya-tanya. Dyan lalu menuju ketengah lapangan. Dengan lari kecil ia menghampiri Putra..
“Tra… kamu gak apa?”
“Gak kok….”
“Eh,mulut kamu berdarah…”
“Ha? Pantesan rasanya asin… hehehe…”
“Putra… (mata berkaca-kaca) sempatnya kamu tertawa…”
“Gak apa. Lo bukan gini bukan cowok namanya. Memang akunya aja yang lemah. Kena sepatu lawan.”
“Ini namanya gak sportif pertandingan harus di ulang.”
“Gak usah!”
Patra langsung datang menghampiri arah mereka. Ia tersenyum dengan wajah yang gak mendukung banget dengan ini semua.
‘’Kak Patra ini namanya curang.,,!’
“Ia… Dyan! Tra,kamulah pemenangnya yang sejati karena kamu spotif mainnya.”
“Kak Patra……. Putra gak mau menang karena kasihan dari seorang cewek.”
Putra bangkit lalu pergi meninggalkan mereka. Dyan kemudian juga ikut berlalu dari lapangan tinggalah Patra sendirian di lapangan. Seperti tiada lagi cerita di kerumunan keramaian orang. Seminggu telah berlalu ulangan kenaikan kelas telah tiba. Semua anak-anak sangat sibuk sekali dalam mengerjakan soal. Adapula yang menyontek dan mengerpek. Yah,namanya juga pelajar. Ulangan di kelas Dyan berlangsung dengan tenang. Dyan sangat fokus sekali dengan ulangannya tapi,ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dan ia sangat kaget sekali. Ponselnya sempat di sita guru. Tapi,akhirnya di kembalikan lagi. Ternyata ada pesan masuk dan itu dari Patra dan Putra. Isi pesan itu hampir sama.

Dear Dyan
From Kak Patra
Dyan setelah ulangan selesai aku tunggu kamu di kantin. Aku ingin kita jalan dan nonton hari minggu nanti.

Dear Dyan
By Putra
Dyan aku tahu sering jail ma kamu. Jadi untuk itu semua aku undang kamu buat kue di rumahku hari sabtu besok jam 2. Aku tunggu ya… ^^

Dyan sangat senang sekali. Tepat pada hari sabtu ia datang kerumah Putra. Ia di jamu oleh orang tua Putra dengan sangat baik sekali. Mereka menganggap Dyan seperti anak mereka sendiri. Ternyata adalah putra tunggal dari keluarga ini. Putra nampaknya sangat mahir sekali memasak. Apalagi kue. Dyan sering dibuatkan kue oleh Putra. Sehingga kue buatan Putra menjadi makana favoritnya. Berat badan Dyan pun ikut naik tapi tetap stabil. Mereka di dapur asyik sekali membuat cake. Sungguh,pemandangan yang tak biasa bagi orangtua Putra. Setelah berhasil membuat kue mereka makan siang bareng. Hari ini di lalui Dyan dengan gembira. Ia juga membawa sisa kue untuk di makan di rumahnya. Ia sangat senang sekali. Kebetulan juga senin depan adalah hari penentuan kelas. Ia sangat senang sekali. Dyan memeluk boneka kelinci dari kakeknya. Ia tertawa sendirian di kamarnya. Hal itu membuat tante Sita tersenyum saja. Keesokan paginya,ia bersiap-siap hendak berangkat jogging bareng Putra. Ia sangat senang bisa melakukan hal itu. Ia lari tapi,langkah kakinya kalah cepat dengan langkah kaki Putra.
“Ayo,Dy!”
“Capek,Tra!”
“Ayo… biar lemak dalam tubuh hilang.”
“Dasar kurus….”
Mereka berlari lagi bersama-sama. Setelah kecapaian mereka sarapan bubur ayam di taman kota. Mereka seperti senang-senang. Setelah menyantap itu mereka lalu pulang kerumah. Setelah sampai rumah Dyan bersiap-siap berangkat nonton bareng kak Patra. Ia di jemput Kak Patra sekitar pukul 2 siang. Mereka pergi menggunakan sepeda motor. Mereka menghabiskan waktu menunggu film dengan makan.
“Kak Patra tadi tau gak Dyan jalan ma Putra. Putra itu larinya cepat banget.”
“Oh,Begitu!”
“Ia… Putra itu….”
Dyan terus saja membicarakan semua hal tentang Putra. Putra dan Putra sampai-sampai saat menonton film saja mereka memokuskan cerita pada Putra. Seharian jalan ada saja nama Putra di sebut Dyan. Mereka akhirnya selesai menonton film. Patra pun mengantarkan Dyan pulang.
“Dadah kakak…”
“Dah,Dyan!”
Dyan masuk rumah tanpa mengajak Patra masuk terlebih dahulu. Patra sebenarnya agak kecewa dengan semua hal yang dikatakan Dyan tadi. Ia melajukan kendaraannya dengan cepat sekali.
“Dyan… kenapa di pikiranmu hanya ada Putra dan Putra… gak taukah kamu di sini aku sayang kamu…” ucap Patra yang terus melajukan kendaraannya dengan kencang. Dan… brukkk….. kendaraannya di tabrak sebuah mobil yang melintas di jalan raya. Patra di larikan kerumah sakit. Keesokan paginya,Dyan yang santai melangkah lalu di datangi kerumunan anak OSIS. Ia bingung sekali.
“Dyan… ketua osis… kecelakaan tadi malam.”
“Kapan? Kemarin aku baru jalan ma dia. Gak mungkinlah Yan!”
“Tapi,beneran,,,, Ryan gak mungkin bohong.”
“Felis… kamu kok belain Ryan sih?”
“Sudah… sudah… Felisha… Dyan… ini berita benar ayo kita jenguk dia nanti sepulang sekolah.”
“Baiklah….”
Sepulang sekolah mereka datang ke RS menggunakan mobil milik Ryan. Sebenarnya sekolah sedang libur seminggu hanya saja karena ada urusan OSIS mereka para pengurus Osis harus datang ke sekolah. Saat mereka ke RS mereka terkena macet yang cukup panjang. Hampir 3 jam mereka terjebak macet. Akhirnya sampailah mereka di RS. Nampak Patra yang sedang makan bubur di suapi mamanya. Mamanya yang ramah lalu mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam kamar perawatan Patra. Ibunya menghindar dari semua teman-temannya lalu pergi seperti anngin yang sengaja lewat. Patra nampak kesakitan mengingat kakinya yang patah. Dyan mencoba duduk di samping Patra lalu dia menatap mata Patra dengan tajam. Teman-temannya hanya memperhatikan dengan tegas saja. Lalu Felisha dan Ryan keluar dari kamar itu. Kini,hanya tinggal Dyan dan Patra saja yang berada diruangan itu. Hampir 15 menit berlalu tapi tiada suar ayang terdengar dari ruangan itu. Suara detak jam saja terdengar cukup jelas karena sepinya ruangan itu. Barulah keluar kata-kata dari mulut Patra.
“Dyan…”
“Ya,kak….”
“… kamu kesini tumben gak bawa Putra.”
“Kakak ini bicara apa? Yang penting di sini sudah ada Dyan…”
“Dy… aku …. Aku…”
“Kakak kenapa? Ungkapin apa ?”
“Se… Sebenarnya aku.. aku suka…(mulai ragu)… suka kamu…”
“(diam terpana)… Su…suka?”
“Ia… kamu mau jadi pacar kakak?”
“Dyan… Dyan…(Senyum) Apa kakak gak salah?”
“Gak mungkin kakak salah…”
Sebenarnya Dyan ragu akan hal yang baru saja di ungkapkan oleh Patra. Ia masih memikirkan Putra. Ternyata di dalam hati kecilnya ada perasaan sayang yang lebih daripada teman ataupun sahabat terhadap Putra. Tapi,ia juga bingung akan perasaanya terhadap Patra. Jadi dengan ragu ia menerima Patra sebagai kekasihnya.
“Ia…kak! Dyan sayang kakak…(memeluk Patra)”
Teman-temannya lalu masuk dari arah depan lalu bertepuk tangan terhadap mereka berdua. Mereka yang malu-malu segera melepaskan kehangatan yang baru saja terajut mesra itu. Semua yang berada di ruangan itu kini penuh tawa dan senyum saja. Disisi lain RS ternyata ada Putra yang sedang cek up. Terdengar dari ruangan dokter ada percakapan yang terdengar antara dr.Andi dan Putra.
“Gimana dok? Jauh lebih baik bukan?”
“(menghela nafas) Putra… kamu minggu-minggu ini ada mengalami kelelahan?”
“Hmm… kayanya gak deh! Cuma main bola aja…”
“Tapi,dalam akhir-akhir ini ada pendarahan yang berlangsung?”
“….(berfikir sejenak) Cuma mimisan aja. Biasa aja! Yang pasti dokter gak usah khawatir. Putra akan terus pantau kesehatan Putra. Kan cita-cita Putra jadi dokter.”
“Putra semangatmu memang bagus(senyum). Tapi,dalam minggu ini kamu mengalami kondisi lemas dan mulai lelah. Serta haemoglobin menurun sehingga telapak tanganmu memutih. Saya khawatir dengan itu.”
“Dokter… Dokter gak usah khawatir. “
Putra pergi dari ruangan itu. Ia segera pergi menggunakan mobilnya. Ia tidak dapat menutupi buliran air yang kini telah mengalir di matanya. Matanya mulai sembab. Ia lalu berhenti di tengah jalan. Tubuhnya serasa demam tinggi. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya sudah tak terarah lagi. Keseimbangannya pun mulai menghilang. Tak ada lagi yang dapat di lihatnya. Dan ia mengambil ponselnya dan ia menghubungi ibunya.
“Mama… Putra pulang mungkin akak telat..”
“Kenapa,sayang!”
“Gak apa. Putra cuman… agh…”
“Sayang kamu kenapa???”
“Gak apa Ma!”
“Bener sayang???”
“Ia…”
“Hati-hati…(mulai khawatir) sayang!”
“Ia…”
Tut..tut…tut… suara bunyi panggilan yang telah di akhiri olehnya. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan jika dadanya mulai sesak. Mamanya hampir saja khawatir akan hal itu. Tapi,tidak ada yang dapat memahami jalan pikirannya tersebut. Semuanya hanya dapat diam menatapnya. Sedangkan di RS,Patra sangat senang sekali. Semu ateman-temannya datang menjenguk ada teman-teman OSIS,futsal,teman sekelas dan teman-temanny ayang masih banyak lagi. Semuanya datang. Dyan juga senang sekali. Apalagi keduanya baru merajut kasih kurang dari 3 jam lamanya. Mereka tertawa dengan ceria dan bahagiapun sangat berarti walalu berada di RS. Ibu dari Patra mengajak Dyan keluar dari kamarnya. Lalu ia seperti berbisik kepada Dyan si gadis manis itu.
“Dy,kamu sayang sama Patra?”
“…Ha? Kenapa tante?”
“Dy,tante harap kamu dapat sayang sama Patra seperti Patra sayang kepaddamu.(senyum) ia,Dyan janji? Buat Patra bahagia.”
“…(agak ragu-ragu)hmm… ia tante….”
Dyan langsung tersenyum lebar. Manisnya senyumnya sangat indah sekali. Nampak kebahagiaan yang mewarnai ceria hidup barunya. Tapi,ia tersadar akan lupanya dirinya kepada Putra. Putra dan dia telah berjanji akan bertemu di taman alias lapangan RS di mana mereka bermain. Jadi,Dyan meminta ijin untuk pulang.
“Tante… Dy pulang dulu. Nanti orang rumah bingung,sudah sore pula.”
“Ia,Dy. Makasih sudah nemani Patra. Patra pasti senang sekali. “
“Ya,tante.”
“hati-hati,sayang!”
Dyan pergi dari ruangan itu. Ia berjalan agak cepat dari biasanya untuk menunggu Patra. Ia yang belum punya SIM mengendarai angkot. Ia menuju permukiman padat itu. Lalu dengan lewati berbagai kubangan lumpur. Maklum habis hujan,jadi becek. Begitulah perkampungan padat di kota besar.ada kursi panjang di tengah lapangan itu. Dyan menunggu di kursi itu. Ia menungu seorang diri bersama kesendirian. Tak lupa kado istimewa telah ia siapkan. Ia iangat hari ini adalah hari Ulang tahun Putra. Ia masih menunggu. Tapi,tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ia lalu menuju tepi taman RS. Tapi,hingga sore sekali Putra tidak datang juga. Dengan kesal bercampur sabar ia sudah merasa kedinginan. Ia lalu meninggalkan bungkus kado berwarna biru itu dengan pita putih yang indah.
“Terlalu…PUTRA…. Jika janji gak mau nepati…” ungkap Dyan di dalm hatinya yang masih saja menggerutu. Ia lalu pergi,dan dengan basah kuyup ia pergi dengan berlari menuju belakang RS lalu pulang lewat RS. Ia memanggil taksi dan pergi begitu saja. Di tengah jalan,Putra sadar ia punya janji dengan Dyan,ia sebenarnya tadi pinsan atau tertidur di pinggir jalan ia juga tidak sadar. Ia dengan cepat menuju lapangan. Tapi,di tengah hujan itu taksi yang di tumpangi Dyan berselisih dengan mobil Putra. Dyan menyadari itu mobil Putra.
“Putra…. Ah,dia bohong juga!”
Dyan tetap melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Putra,ia langsung berlari di lapangan itu mencari Dyan. Di tengah hujan itu,ia lalu menuju bangku yang berada di lapangan. Ia melihat ada bungkus kado bewarna biru dengan pita putih. Ia lalu mengambil kado itu.
“Happy Birthday,Friend!… Dyan… berarti kamu datang…..”
Putra lalu tersenyum lalu kembali pulang kerumahnya. Tapi,ia sebelumnya sempat mengirim pesan singkat kepada Dyan,dengan isi yang bermaksud minta maaf pada Dyan. Ia tidak bermaksud membatalkan janji dengannya. Ia mencoba mencari banyak alasan.
Malam pun tiba. Ternyata ponsel Dyan telah lama mati. Mungkin tadi lowbat itulah pikirnya. Tapi,setelah itu ia charge kembali ponselnya. Setelah itu ia aktifkan dan teet..teet… bunyi ponselnya berbunyi tan da pesan masuk. Ada 3 pesan masuk di ponselnya.
“Weh,ada pesan masuk. 3 lagi,pertama Kak Patra,Putra dan terakhir,,,, Putra lagi??? “
Ia sebenarnya agak males membaca ponselnya. Tapi,akhirnya ia baca juga pesan itu. Pertama dari Patra lalu Putra.“Dari kak Patra… Adek makasih sudah sayang sama kakak. Trus Putra…. Apa? Sms kosong… eh,yang kedua ada… Dy,maafin aku… tadi ban mobil pecah harus di bawa ke bengkel.”
Ia berfikir sejenak,”Telpon aku kek dasar teman yang aneh…” Dyan lalu mematikan ponselnya lagi. Ia lalu bersiap-siap untuk tidur.
*****
Hari ini adalh hari pertama kenaikan kelas. Sesuai harapan yang sangat Dyan inginkan dia mendapat kelas yang ia inginkan. 11 IPA 1,yah kelas harapannya. Ia sudah seminggu ini tidak tahu keadaan Putra. Kini,hanya Patra saja yangg ia tahui kabarnya. Maklum,ia selalu mendapat telepon dari Patra selama berada di RS. Pagi ini ia segera ambil pilih kelas. Ia duduk tepat di depan guru. Jam bunyi tanda masuk telah berbunyi. Semua anak-anak sudah ramai berada di dalam kelas. Saat guru masuk ternyata ada bangku yang kosong. Dengan sabar,guru itu bertanya pada siswanya.
“Selamat datang di kelas ini,nama saya Pak Samsianuddin tapi,kalian bisa memanggil saya pak Sam. Saya ingin bertanya siapa yang belum hadir di kelas ini????”
semua anak saling memandang satu sama lain. Ternyata ada seorang siswa yang mengancungkan tangannya.
“Putra,Pak. Anak 10 c.”
“Putra…” kata Dyan kaget. Ini Putra temannya yang dulu menyebalkan itu.
“Nama lengkapnya siapa???”
“Putra Ryanne Alfinsya…”
“oh,anak itu…”
Pak Sam lalu melanjutkan perkenalan denganpara siswanya. Tapi,hati Dyan bertanya – tanya di mana Putra? Ah, ia mencoba tak ambil pusing. Tapi,tidak berapa lama kemudian ada suara ketukan pintu yang ternyata itu adalah Putra.
“Maaf,pak! “
“hmm…(dengan wajah yang agak galak) kamu,Putra?”
“Ia….ia pak(takut)”
“Baik,duduk.”
Putra langsung mengambil tempat duduk Yang terlihat kosong. Tubuhnya Nampak berpeluh seperti orang yang hampir mati. Ia langsung duduk di samping temannya,Awan.
“Gila.lo! masa jam segini baru turun sekolah…”
“Awan,gue tadi…..”
“Sudah jangan ribut” suara pak Sam yang mengerikan terdengar menggema seluruh kelas. Semuua anak-anak langsung tertawa. Hanya wajah masam yang terekam oleh Dyan melihat Putra. Tapi,ada pula senyumnya keluar sedikit menunjukan aura keindahannya. Putra seperti menggerutu dengan tawaan teman-temannya itu.
*****
Hari-hari di lalui Patra dan Dyan dengan bahagia. Hampir 5 bulan berlalu. Mulai jalan,nonton dan urusan OSIS yang di bumbui kemesraan. Semua teman-temannya tahu. Termasuk Putra. Putra yang mengetahui hal itu awalnya biasa saja namun,setelah melihat kemesraan yang di lalui Dyan dan Patra ada rasa cemburu karena sahabatnya telah di ambil. Sampai suatu hari,Putra mengajak jalan Dyan karena kebetulah Dyan berulang tahun yang 16 tahun. Ia lalu menelpon Dyan. Tapi,semua tak seperti yang diharapkannya.
“Halo,Dy?”
“Ya? Ini ada apa Tra?”
“Hmm… besok kan ultah kamu! Jalan yuk…?”
“Gimana ya???(ragu-ragu) aku sudah ada janji tuh!”
“Sama Patra?”
“Tepat banget,sobat! Sory,yaw!”
“….(agak kesal)…. Ya,sudah deh! Salam buat kak Patra… moga kalian bahagia.”
“… (bingung)… kamu kok marah sih?”
“Sudah hampir 5 bulan ini kita gak ada waktu bareng…(memucak emosinya) Dy,kangen! “
“Kita satu kelas aja tu…(Mulai bosan) sudah na! aku ngantuk mau tidur….”
“Dy… kamu berubah….”
“Whatever….(menutup telepon) tutt…. Tutt…..”
Putra lalu membanting ponselnya tanpa banyak berfikir lagi. Ia bingung pada sahabatnya itu. Ia iangin sekali bersama. Sebenarnya ada perasaan sayang alias sukanya pada Dyan. Tapi,ia tidak ingin melukai Dyan. Tapi,Dyan sudah bahagia denganPatra. Putra mencoba melespakan Dyan yang sangat ia cintai. Ia menyadari akan hal itu tapi,ia akan menunggu besok pada saat waktunya tiba. Entah kapan dan tempatnya yang tak pernah ia tahu. Semua hanya kehendak Tuhan untuk menggerakan keberanian hatinya. Ia lalu mengambil boneka kellinci yang telah ia beli tadi saat mampir di toko untuk membeli bahan-bahan membuat kue. Ia ingin membuat kue tart untuk Dyan. Ia membela membuatnya hingga tengah malam. Ia juga masih menyimpan kado dari Dyan yaitu sebuah gantungan ponsel yang berbentuk sebuah bola. Dyan tahu benar kalau Putra memang penggemar futsal yang sangat fanatik. Putra hanya senyum memandangi itu semua. Kue itu telah siap. Ia juga menaruh kado yang indah di dalam tengah kue itu. Tak lupa kartu ucapan yang indah ia selipkan di dalam kado mungil itu. Dia juga membuat puisi indah yang ia selipkan dan pernyataan hatinya pada Dyan. Ia amat berharap pada potongan pertama Dyan membaca itu semua. Waktunya kini mulai terbatas untuk itu semua. Semuanya telah ia sadari betul. Masih ada hal yang harus ia kerjakan.
Hari yang di nanti tiba. Hari ini tepat 16 tahun usia Dyan. Dyan amat bahagia sekali. Pesta kebun telah dipersiapkan Tantenya dan tunangan tantenya.. Jam `20.00 malam ini pestanya akan di mulai,namun untuk siang ini ia telah mempunyai janji dengan kak Patra. Tapi,sebelumnya pagi tadi ada kue buatan Putra telah datang di kirimkan.
“Tante… Dyan berangkat..”
“Dyan…. Tunggu!”
“Ada apa?”
“Ada kue kiriman buat kamu…”
“Dari siapa?”
“Tidak ada nama pengirimnya tapi di sini tertulis…Selamat ulang tahun …. Semoga kamu bahagia….never forget me,Dy! If u forgot me…. I’m can death….”
“Putra…. Oh,makasih tante. Dayan berangkat dulu…”
Dyan lalu pergi sambil membawa kue itu. Sangat senang sekali Dyan. Ia sengaja tak membuka kue itu dengan alasan ia ingin makan bareng Patra. Jadi,ia tetap membungkus kue itu. Lalu tidak berapa lama kemudian Patra datang mennjemput. Setelah izin mereka langsung jalan menuju danau dekat kota. Mereka pergi menggunakan sepeda motor. Suasana menawan sangat tergambar pada mereka berdua. Saat kue itu di buka Patra ikut senang. Lalu saat di potong ada kado di dalamnya.
“wah,ada kado!”
“ia,ayo buka. Tapi,kamu cuci dulu di sana.”
“Ia….” Dyan lari mencuci kado itu ke pinggir danau yang sangat indah. Saat Patra memakan kue ia mendapat kejutan berupa gulungan kertas. Ia buka itu ternyata dari Putra. Tanpa ijin Dyan ia membukanya.
“Eh… ada yang nyangkut… eit,kertas…. Eh,ada isinya… dari Putra toh. Baca ah! Dyan kan cewek aku jadi ga ada salahnya juga…..Hy,Dy! Ini aku Putra. Kamu pasti tahu kue ini buatan aku hanya untuk mu….. wah,sombong banget ni Putra. Baru kue… eh,lanjut deh bacanya…. Dy,aku harap kamu bahagia dengan Patra. Dy,ultah mu yang ke 16 ini aku mau ngungkapin perasaan ku yang sebenarnya kekamu…. Sejak kita bertemu… di RS memang aku agak bodoh. Tapi,kemarahan mu awal itu padaku buatku penasaran padamu…. Aku tidak tahu sama sekali siapa kamu… tanpa sepengetahuanmu aku sempat memandang mata indahmu… aku tidak tahu dulu kamu pernah Buta. Tapi,walaupun begitu aku tetap sayang padamu,,,, kapanpun…. Never forever,Dy. I love u so much… waktuku memang harus segera berakhir tapi,,,, cintaku padamu tak akan berakhir…… Putra….” Geram sekali Patra mengetahui hal itu. Tapi,ia mencoba menyembunyikannya kepada Dyan yang baru datang itu.
“Kenapa? Kok diam aja???”
“Oh,gak apa! Eh,kadonya ini kutaruh di sini aja ya!”
“kamu kenapa?”
“(diam)… eh,ga apa! Mama nelpon… jadi aku harus segera pergi… kamu naik taksi aja… ini uangnya…”
“Patra…. Maksudmu apa???(mata berkaca-kaca) Ini ulang tahunku…. Kenapa kamu mau meneteskan air mata ini?”
“Dy,maaf! Tapi,ini demi kebaikan kita….”
Patra meninggalkan Dyan seorang diri akhirnya Dyan sendiri saja di tepi danau yang sangat indah itu. Angin membelai seakan membalut tubuh dan buliran air mata Dyan yang bingung dengan hal yang tak oernah ia ketahui. Semuanya bagaikan petir di tengah bolong yang membuat semuanya membingungkan sekali untuk Dyan. Angsa pun yang semula berenang kini terbang dan meninggalkan sejuta kedinginan den sepi yang menemani. Padahal ini tepat Ultahnya namun semua ini adalah cobaan yang berat baginya.
*****
Malam pun tibadengan gaun putih yang indah itu Dia sungguh gelisah. Apakah dua orang yang ia nanti akan datang? Semuanya hanya pertanyaan yang menghantuinya. Kado dari Putra adalah kalung yang berliontin sebuah cincin dan di sana terukir tulisan “Dye” sedang dari Patra adalah Cincin yang bertulisan “Dyana”. Dan itu telah di kenakannya. Ia menanti pada malam itu. Ia sangat bahagia sekali mengetahui Patra datang. Pesta pun diadakan dengan meriah semua temannya datang tapi,hanya Putra yang tidak datang. Tapi,hal itu tidak dapat mengganggu kebahagiaan Dyan selama ini. Malam itu di lalui dengan indah. Semuanya merasa senang. Setelah malam itu di lalui,Dyan sangat bahagia. Hidupnya seakan melayang meraih cita. Malam itu pula ia tertidur amat pulas. Selimut bagaikan awan yang berada di langit.
Dyan….. dyan…. Dyan….. selamat ulang tahun…. Kamu semakin manis saja! Hehehe…. Tapi,kamu melupakan sesuatu….. kakek sudah pernah bilang ketika cinta di pertanyakan…. Kamu harus menjawab semuanya……
“KAKEEKKKK…….. huah….huhhhh!” ternyata semua itu hanya mimpi. Dyan dengan nafas ngos-ngosan nampak melihat arah jam. Ternyata barujam dua pagi. Baginya itu adalah mimpi yang aneh tapi,bisa juga isyarat dari sang kakek yang memberikan pernyataan lewat mimpi.
“Cinta??? Apa maksudnyaaaaa?”
“Kamu kenapa?”
“Sherly,kamu tau gak maksudnya”Ketika cinta diperrtanyakan”??? aku gak paham???”
“Dyan…. Masa gitu aja gak tau,,,”
“Memang gak tau…”
“Maksudnya itu…. Saat ini kamu sedang dalam fase pencaharian cinta kamu. Kamu jadian sama Patra karena apa?”
“Gak tau….”
“nah,sekarang itu cinta kamu di pertanyakan …..”
“Masih ga paham….”
“Neng hidup jaman apa sih???”
“Ayolah,Sher!”
“Sekarang kamu harus memilih PATRA atau orang lain…”
“Orang lain???”
“Yupss…. Jangan-jangan Si Putra…”
“What??? Put… Putra??? Jangan ngaur….”
“Hehehe…. Canda aja tu….”
Sherly lalu meningalkan Dyan yang berada di depan perpustakaan. Lalu,datanglah Patra. Patra lalu mengajak jalan Dyan ikut ke kantin. Mereka makan. Tapi,Patra tahu ada yang aneh dengan Dyan. Dyan sebenarnya masih memikirkan kata “Ketika cinta di pertanyakan” apakah yang terjadi pada dirinya. Apakah ia tidak bisa sayang dengan Patra yang selalu ada atau pada Putra yang super nyebelin tapi ada hal istimewa padanya yang selalu bisa tertawa. Sungguh membingungkan sekali baginya tapi,ia sangat yakin tidak bisa mencintai Patra sebenarnya ia juga ragu. Ia hanya menganggap Patra sebagai kakaknya tidak lebih. Tapi,dengan Putra ia juga merasa sahabat walaupun ia sadar ia sayang pada Putra. Bingung selalu dalam pikirannya.
“Dy,kamu gak apa?”
“Gak apa?”
“Putra mana ya?”
“Putra???”
“Ia….”
“Jangan bahas dia.”
“Kenapa??”
“Sudahlah….”
Patra meninggalkan Dyan ia tahu Putra memiliki rasa yang lebih kepada Dyan. Ia sebenarnya tidak terima tapi,ia tidak ingin Dyan tahu semua itu. Semua hanya jadi rahasianya. Dyan mengambek juga kepada Putra dan Patra. Semuanya ia anggap menyebalkan. Tapi,saat ia pulang sekolah ia melihat Putra. Putra hampir seminggu ini tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Tapi,Dyan melihat Putra dalam keadaan yang sehat. Ia langsung mendatangi Putra.
“Hai,Putra!”
“Dye….?”
“Ia… katanya sakit…kok masih aja keliaran….”
“OH… anu,,,,anu,,,,,”
“Anu… anu… traktir dong! Lama nie gak jalan…”
Putra tersenyum lalu menarik tangan Dyan. Mereka segera masuk mobil. Mereka mendatangi berbagai tempat hiburan yang berada di kota. Dari makan,nonton,jalan dan beli buku bersama. Hanya tawa dan ceria. Hingga mereka berhenti di tempat pemancingan umum. Mereka mancing bareng lalu membakar ikan tangkapan sendiri bareng. Semuanya hingga mereka tak dapat makan lagi. Dan karena sudah malam mereka lalu makan es cendol di pinggir jalan. Kenapa ya? Harus es cendol bukan es krim yang bisa buat keadaan yang bisa buat SO SWEET? Ternyata alasannya adalah karena…. Entahlah mungkin hanya Putra yang tahu itu semua.
“Putra… kamu penuh kejutan ya?”
“Ah,biasa aja!”
Senyum dan tawa renyah mereka memang indah sekali di dengar. Sampai Patra melihat mereka berdua. Geram sangat Patra melihat kejadian itu. Ia langsung turun dari sepeda motornya dan ia langsung menghampiri mereka. Tanpa banyak omong terjadi bentrokan kecil antara Patra dan Putra. Hal itu membuat sedikit kegaduhan hingga membuat keributan sehingga mengalirlah buliran air mata Dyan.
“STOOPPPPPP…………………PATRA!!!!!!!! PUTRA…………!!!!!!!!!!!!”
Mereka langsung berhenti begitu saja.
“Dyan…. Sekarang kamu pilih aku atau Putra?”
“Maksudmu apa?”
“Tanya sama Putra!!!”
Patra langsung melemparkan secarik kertas kepada Dyan. Dyan lalu membacanya dan air matanya tambah menderas. Putra hanya dapat tertunduk lesu. Ia mengira surat itu telah di baca Dyan ternyata tidak sama sekali. Dyan yang telah membaca surat itu langsung pergi begitu saja. Patra juga ikut berlari mengejar Dyan. Putra tak tahu harus berbuat apa. Ia langsung pergi dengan mobilnya. Dyan tertunduk lesu lalu Patra datang dan langsung memberikan pelukan hangatnya kepada Dyan yang masih menggunakan seragam itu. Mereka lalu pulang kerumah masing-masing.
*****
Seminggu sudah tiada kabar lagi… kabar tentang Putra. Ia seperti menghilang. Hari ini Patra mengajak Dyan ke RS. Entah apa maksudnya. Dyan mau saja menuruti. Mungkin itu adalah waktu cek upnya. Tapi,tidak. Patra mengajak Dyan ke belakang RS. Dyan tidak mengerti maksud Patra. Patra menatap tajam mata Dyan. Lalu ia membisikan sesuatu ke telinga Dyan. Sebuah kata “Cinta”. Itu membuat Dyan tersanjung. Tapi,semua itu berubah ketika Patra berpaling lalu kembali bertanya membelakangi Dyan yang sedang terpaku.
“Dyan… Ketika cinta di pertanyakan…. Kamu pilih aku atau Putra?”
Dyan lanngsung terperanjat. Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Patra.
“maksudnya?”
“Dy…. Aku tahu kamu masih berusaha cinta padaku… tapi… aku lebih senang kau dapatkan cinta pertamamu..”
“Kak Patra…” dyan langsung berlari memeluk Patra dari belakang. Dan ia langsung berkata,”Aku sayang kakak…” Patra tersenyum lalu ia berkata jua,”Maaf,Dy! Putra lebih butuh kamu…” Dyan bingung”Kakak…”
Patra langsung membawa Dyan ke kamar ICU. Disana ia melihat ada seseorang yang sedang terbaring. Dan ada sepasang orang tua yang berada di sana. Astaga! Orang tua Putra. Ya,memang Putra yang sedang di rawat di sana. Nampak kesedihan melanda orang tua Putra. Lalu,ia melihat dr.Andi berada di sana ia segera mendatangi dokter itu. Sebelumnya,Patra telah berada di ruangan tunggu ICU bersama orang tua Putra dan teman-teman yang mulai datang bahkan para guru juga datang,terutama Pak Sam wali kelasnya.
“Dr.Andi?”
“Nak,Dyan? Apa kabar?”
“Baik…”
“Dokter…. Saya boleh tanya?”
“Ia…”
“Dr.Andi…. kenapa putra?”
“(diam)… Putra….”
Dr.Andi lalu membawa dyan keruangan ia lalu menceritakan apa yang sebenaarnya terjadi. Sewktu Dyan buta dulu sebenarnya Putra sedang mengalami masapengobatan. Ia memderita kanker darah alias leukemia. Ia rajin sekali ke RS. Semenjak bertemu Dyan semangat hidupnya meningkat. Tapi,karena dia sering memaksakan diri ia jadi sering kelelahan. Bahkan demam panas sering menyerangnya. Hemaglobinnya juga mulai menurun drastis pada berapa bulan ini. Kesehatannya semakin menurun. Sendi-sendinya juga menghitam terutama di bagian tangan. Dyan merupakan semangat baru baginya. Namun,entah mengapa Tuhan berkata lain. Penyakit ini terus berkembang dann akhirnya jadi begini. Dyan yang mengetahui semua hal itu langsung menangis sedih. Kakinya seakan lunglai sekali. Atas perijinan keluarga dan dokter Dyan di perbolehkan masuk. Dyan memegang tangan Putra dengan sedihnya air matanya bercucuran. Ia langsung berbicara,”Bangun Putra!” suara raungannya terdengar seruangan itu. Lalu,ia membisikan sesuatu ke telingan Putra, “Ketika dipertanyakan… aku memilih kamu! Walaupun kita jauh dan tak bersatu” air matanya terus berbulir. Nampak juga air mata Putra mengalir…. Sepi… hanya raungan kesedihan yang ada. Tiba-tiba,Putra sadar.
“Dokterrr…..”
“Semua orang masuk ke dalam ruangan…”
“Putra…”
“Mama…. Papa….”
“Ya,sayang!”
“maafkan,Putra. Putra sering bandel.” Orang tua Putra menangis mendengarnya.
“Pak Sam dan teman-teman… terimakasih telah baik kepadaku…”
“Patra…. Nanti kita main futsal lagi ya!” patra hanya tersenyum.
“dr.Andi… terimakasih!”
“Dyan…. Maafkan aku!’’ Dyan menangis dalam peluknya.
Detak jantungnya semakin melemah dan…… teeettttttttttttttttttttttttt…………. Bunyi alat pernafasan itu. Tuhan menjemput Putra. Untuk pergi selama-lamanya. Alat pacu jantung telah di siapkanpun tidak dapat menolong lagi. Hanya tangisan kini yang berada di seluruh ruangan itu… raungan sedih…. Terutama orang tua Putra. Kesedihan saja yang ada dalam ruangan itu. Semuanya terlambat. Teringatlah semua kenangan Dyan dan Puta.
“Dyan…. Itu milik kamu?”
“Ya,boneka kelinci kakek!”
“Nanti kamu pengen jadi apa?”
“Jadi istri kamu aja ya?”
“OH,aku jadi dokter aja. Jadi semua orang bisa aku sembuhkan.”
“Ia….”
Kenangan dulu sekali. Dyan baru tahu selama ini Putra yang lalai karena sakit. Saat ultah Putra ternyata waktu itu dia pingsan di dalam mobilnya. Pak Sam tidak marah padanya karena tahu Putra baru keluar RS dan menjalani masa pengobatan. Kini,semua cita-citanya kandas di tengah jalan. Saat Putra tidak hadir dalam ultah Dyan karena dia sudah sakit. Dan perubahan sikap Patra juga karena,Putra yang sekarat telah menitipkan kebahgiaan dyan pada Tuhan dengan perantara Patra.
*****
Pemakaman Putra berlangsung dengan hikmat. Semua orang sedih sekali. Orang tua Putra memutuskan pindah keluar kota.kesedihan pun masih terasa. Duka ini memang masih terasa oleh pihak sekolah dan hati Dyan.
Setahun kemudian…..
Dyan telah lulus dari SMAnya. Ia mendapatkan penghargaan siswi teladan dari sekolahnya. Ia juga memenangkan beasiswa ke Inggris untuk menjadi seorang dokter. Tantenya juga sudah menikah dengan tunangannya dan kini telah memiliki anak kembar yang sangat lucu. Dua cowok kecil. Hari ini,adalah hari keberangkatannya ke Inggris. Ia di antar dengan tangis bahagia. Patra juga telah datang. Patra kini kuliah di fakultas hukum. Ia ingin menjadi seorang pengacara yang handar seperti ayahnya. Patra juga mengantar Dyan.
“Tante Sita! Om Kevin! Dan dua sepupuku Milky dan Melky semoga kalian sehat selalu.”
“Ia… kamu jaga diri ya!”
“Hmm….Dyan berangkat.” Dari arah pintu masuk ada seorang pria yang berlari dengan ccepat.
“Dyan…”
“Patra….” Mereka langsung saling peluk lalu mencium kening masing-masing.
“Kangenin aku ya!”
“Ia,sayang! Nanti kalo gak aku cari pacar bule aja!”
“Kamu,ya!”
“Hahahaha…..” hanya tawa semuanya saja yang terdengar. Pesawat pun telah datang,kini lambaian tangan dan perpisahan yang ada. Senyum ini pun membasahi semuanya dengan air mata bahagia. Setelah pesawat terbang,Dyan ingat ini adalah peringatan setahun kepergian Putra. Tangisnya mulai mengalir lagi. Mereka teman tapi,tidak memiliki foto satu sama lain. Dyan hanya tertawa. “Setelah kepergianmu…. Aku melanjutkan cita-citamu menjadi seorang dokter… Putra aku harap kamu selalu bahagia. Kamu tidak pernah mau berbagi padaku semua kisah sedihmu namun…Ketika dipertanyakan… aku memilih kamu! Walaupun kita jauh dan tak bersatu. Kakek,ternyata semua katamu benar tentang lapangan itu. Putra,kakek…. Tunggu aku! Aku raih dulu cita-cita di sini sebelum aku kembali kepadaNYA.” Dyan hanya tersenyum lalu mengis. Bahagia kini,ia dengan Patra. Perjalanan ini adalah awal hidup barunya yang tidak akan pernah berakhir jika dia masih hidup. Sampailah ia di bandara setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan. Saat ia bejalan ia menjatuhkan visanya sehingga ia harus mengambilnya. Tapi,Dyan melihat ada kaca mata yang terjatuh. Dan ia mengambilnya ternyata ituu kaca mata seseorang yang sebaya dengannya. Ternyata itu orang wajahnya sangat mirip dengan Putra. Sangat kaget Dyan.
“Put…Putra???”
“I’m sorry. “
“Ya,maaf!”
“Oh,Orang Indonesia juga.”
Setelah mengetahui sama-sama orang Indonesia mereka saling berkenalan. Ternyata nama cowok itu Dedi. Dia mahasiswa angkatan pertama di bidang Ahli Kimia, yang ternyata kampus mereka sama hanya fakultas yang berbeda. Hal ini mengingtkannya pada Putra. Tapi,Dedi ya Dedi dan Putra tetaplah Putra. Dua kpribadian yang berbeda. Tapi,Dyan tetap menjalankan studynya. Ia tahu Patra masih menunggunya.
=== Selesai ====
READ MORE - Ketika Cinta Dipertanyakan??

BILA AKU JATUH CINTA

I asked permission Allahu Rabbi
Next time I fall in love
Do not allow love for Thy reduced
Up to neglect the existence of thee
Allahu Rabbi
I have begged
Next time I fall in love
Fill my heart with Thy love numbers are infinite
Let thy rasaku on intact
Allahu Rabbi
Allow a time when I fell in love
Chose me someone whose heart is filled with
Your love
and made ​​me even more admire Thy
Allahu Rabbi
Next time I fall in love
our Pertemukanlah
Give us a chance to be more love-thy
Allahu Rabbi
Latter is the case pleaded heart kujatuh
Never You palingkan thy face from me
Grant me Thy love ...
Love that never faded by time
Amen!
READ MORE - BILA AKU JATUH CINTA

Inilah Pilihanku,..!!

Tak terasa usiaku sudah menginjak sembilan belas tahun. Tapi anehnya tak juga aku merasakan jatuh cinta pada seorang laki-laki layaknya teman-temanku yang lain. Memang sekarang aku punya pacar tapi itu hanya aku gunakan sebagai statusku saja. Aku tak mau diganggu kakak-kakak kelasku yang suka padaku. Jadi aku milih salah satu saja untuk aku jadikan pacar statusku. Tapi karena dia galak dan agak arogan aku putuskan saja. Aku tak suka dengan cowok yang kasar. Jadi sekarang aku sendiri lagi.
“Lis, kamu dapat salam”, Kata Nonik sahabatku.
“Salam??dari siapa?perasaan aku tak dekat dengan cowok.”
“Dari tetanggaku.”
“Siapa??”
“Mas Yud.”
“Yang mana to orangnya?aku baru dengar namanya. Trus dia tahu aku dari mana??”
“Tahu lah, kamu kalau mau sekolah kan lewat rumahnya, dan dia melihatmu ketika dia memberi minum sapinya.”
“Ah, aku tak tahu.”
“Gimana??kembali tidak salamnya??”
“Tidak, lagian orangnya saja aku tidak tahu.”
Seperti biasa mantan pacarku selalu cari perhatian padaku dan membuatku aku jengkel. Males rasanya melihat wajahnya. Udah orangnya kasar, penampilannya semakin tak karuan, suka nyontoh lagi jika ada PR. Membuatku semakin males saja.
“Lis, aku masih berharap ma kamu, dan aku juga berharap engkau jodohku kelak.”
“Berharap aja terus!!”
“Aku benar-benar mencintaimu Lis, hanya kamu yang aku cintai.”
“Ya udah cintai saja terus. Aku tak mau menerima kamu lagi. Kamu kasar dan malu-maluin!!”
“Kenapa aku malu-maluin kamu??”
“Iya lah!!setiap hari kamu nyontoh PR ku! Jadi cowok itu harus mandiri, pintar, bukan malah gitu. Apa kamu tidak malu nyontoh sama aku??”
“Tidak!! Lagian aku benar-benar tidak bisa mengerjakan.”
“Semua orang tidak akan bisa jika orangnya malas seperti kamu. Aku yang cewek aja bisa!!, aku tak suka cowok yang tidak pandai. Lagian aku kemarin dapat salam dari tetangga Nonik, moga-moga aja orangnya pintar dan rapi. Ndak seperti kamu!!”
“Tapi aku berdoa semoga engkaulah jodohku. Misalnya aku disuruh melamar kamu sekarang aku siap Lis, walau kamu akan kuliah akan aku tunggu.”
“Berdoa dan tunggu aja sampai kau tua!!”
Seperti biasa ketika akan berangkat sekolah saya menunggu teman-teman yang lain. Karena teman-teman biasanya lewat depan rumahku. Tak lama kemudian teman-temanku datang.
“Mbak, ayo kita berangkat.”
“Lama sekali kalian.”
“Tadi nunggu Ika, sepedanya rusak.”
Kami berangkat bareng-bareng-bereng. Kami melewati sawah yang hijau dan di kanan kiri jalan terdapat pohon jambu monyet yanh hijau. Ketika kami menyebrang sungai kami harus mengantri. Karena sungainya kecil dan bebatuannya licin, jadi harus hati-hati.
Di tengah-tengah perjalanan aku sambil naik sepedaku aku curhat sama temanku dan kebetulan masih ponakan Bapak.
“Bu lik, kemarin aku dapat salam dari anak Cokrowati, tapi aku tak tahu orangnya yang mana. Ia menitipkan salam pada Nonik, kata Nonik itu tetangganya tapi aku tak tahu mana rumahnya, aku juga tak pernah memperhatikan jika berangkat sekolah seperti ini, cuek aja. Mau sekolah ya sekolah.”
“La namanya siapa?? Tanya Nonik mana rumahnya.”
“Namanya Yud, aku tak tanya mana rumahnya. Aku tak minat, males.”
“Ya udah besok tanya ma Ninik mana rumahnya dan sekalian mana orangnya.”
“Males aku. Tiap hari selalu dapat salam tapi tak tahu orangnya.”
Tak lama kami sampai pada rumah Nonik. Dan aku melihat pintu Nonik masih terbuka, berarti itu Nonik masih di rumah dan belum berangkat sekolah. Aku berteriak memenggil Nonik. Dan Nonik menyahutnya dari dalam rumah. Lama sekali Nonik keluarnya. Aku tunggu sambil melihat orang yang sedang memberi minum sapi, tetangga Nonik juga. Tak lama Nonik keluar dan sambil senyum-senyum sendiri sambil memandang tetangga yang membri minum sapi itu.
“Senyam-senyum. Ayo cepat!!” teriakku
“Mas!!” , tiba-tiba Nonik memanggil tetangganya itu dan mereka tersenyum.
“Lama banget Non!” Tanyaku
“Aku tadi baru selesai mandi, kamu cepat sekali,Lis?”
“Cepat?? Ini tu udah siang Non, nanti kalau kita telat gimana?? Eh tadi kamu kanapa senyum-senyum sendiri gitu? Seperti tak punya dosa aja, udah ditunngu lama malah tak jelas gitu”, Tanyaku agak jengkel.
“Kamu tahu tidak orang yang memberi minu sapi tadi?? Kamu tadi melihatnya kan??” Tanya Nonik.
“Lihat, kenapa??yang tadi memberi minum sama seorang bapak-bapak tadi kan??emang kenapa?habisnya kamu lama sekali, ya udah aku melihat orang meminumi sapi aja.”
“Tadi itu yang namanya Yud, yang memberi salam kemarin.”
“Ah bodoh amat, lagian aku tak melihat wajahnya, aku hanya melihat sapinya.”
Lalu Nonik tertawa terbahak-bahak. Aku semakin terheran-heran, pikirku apanya yang lucu.
Tiba di sekolah kami memarkir sepeda kami masing-masing. Dan kami masih berjalan kaki untuk sampai sekolahan. Jalan yang licin dan menanjak. Kami mendengar orang-orang sudah membaca Asmaul Husna. Berart itu kami sudah telat. Sebelum pelajaran dimualai aturan di sekolah kami harus membaca Asmaul Husna terlebih dahulu. Kami semua lari karena telat. Tiba di sekolah guru matematika sudah ada di dalam kelas.
“Lilis!! Kamu itu cewek, kenapa kamu sering terlambat??” tanya pak guru.
“Maaf, Pak”
“Ya udah kamu saya hukum!!kerjakan soal yang ada di papan tulis itu.”
Akirnya saya mengerjakan soal sementara Nonik duduk di belakang. Aku tak pernah melihat rumus yang sulit itu, untungnya tadi malam aku belajar sama teman kecilku yang sekarang juga duduk di SMA Muhammadiyah, jadi aku bisa walau agak kesulitan. Setelah selesai tiba-tiba teman-temanku memberi tepuk tangan. Dan aku duduk di bangkuku yang paling depan sendiri.
“Kamu bisa dari mana?? Tadi teman-temanmu yang tidak telat saja tidak bisa mengerjakan.” Tanya Pak Guru.
“Tadi malam aku belajar, Pak. Belajar buku anak SMA.”
Dan pak Guru memberi senyuman padaku. Memang saya selalu telat masuk sekolah dan sering dihukum guru, tapi itu semua tak membuat aku jera.
Selesai pelajaran kami pulang bareng-bareng, tiba-tiba sepedaku rusak dan terpaksa menentunnya di temani oleh teman-temanku yang tadi pagi berangkat sekolah bareng. Pikirku pasti besok aku harus jalan kaki sendiri. Sampai rumah aku mengadu sama Bapak dan Bapak tak bisa memperbaikinya dalam dekat-dekat ini, maklum Bapak harus mengerjakan sawah yang akan ditanami padi.
Keesokan harinya aku harus bangun pagi-pagi karena nanti aku akan berjalan untuk ke sekolah. Aku berjalan sendirian dan lebih pagi dari hari-hari biasanya, tiba di depan rumah Nonik aku melihat rumah Nonik tertutup. Itu pertanda Nonik sudah berangkat sekolah. Tiba-tiba Ibu Nonik menyapa.
“Nonik udah berangkat, Lis. Lo kenapa kamu jalan kaki?mana sepedamu?” Tanya ibu Nonik.
“Rusak Bu, dan Bapak belum bisa memperbaiki, Nonik berangkat dengan siapa??”
“Tadi boncengan sama Yud”
Aku semakin binging, bukannya Yud kemarin orang yang mengirim salam kepadaku lewat Nonik, tapi kenapa jadi Nonik yang boncengan?
“Anak-anak nanti ada les untuk persiapan ujian”, Kata kepala sekolah di depan kelas.
“Waduh, aku jalan kaki, Pak, besok saja lah”, Tawarku
“Ini penting Lilis.”
Akirnya kami semua pulang soro dan aku pulang sama Nonik lagi. Tiba-tiba Yud menghampiri.
“Ayo naik Non.” Tawar Yud.
“Ini aku sama Lilis, Mas”
“Ndak apa-apa sekaian bareng aja.”
Akirnya kami bareng dan Nonik turun karena sampai di depan rumahnya. Aku pun ikut turun.
“Kenapa kamu turun, Lis?” Tanya Yud.
“Kan Nonik Turun.”
“Ya udah aku antar kamu sampai rumahmu, ini kan sudah sore.”
Akirnya aku diantar sampai rumah
Tiap pagi aku berjalan kai untuk sekolah, dan Nonik selalu diantar Yud, entah kenapa aku seperti tak suka melihat semua itu. Padahal aku tak kenal Yud. Aku marah-marrah sama Nonik di kelas. Dan semua temanku bersorak dan berkata aku sedang cemburu. Aku baru sadar kalau aku memang cemburu. Padahal aku bukan apa-apanya Yud. Pulang sekolah aku terpaksa lewat sawah agar menyingkat waktu. Tiba-tiba Yud di belakangku dan aku berlari dan Yud tetap mengejarku. Semua orang yang ada di sawah bersorak. Akirnya Yud tidak tampak. Aku berhenti sejenak untuk membersihkan sepatu yang kotor karena sawah yang aku lewati becek. Tiba-tiba Yud di belakangku membawa motor. Pikirku orang ini maunya apa?
Malam hari suara HP berbunyi, aku lihat nomor baru dan ku anggakat.
“Ini siapa??”
“Aku yang punya warong kopi.” Jawab Yud
“Ooo..ada apa??”
“Aku mau bilang sama kamu. Aku suka padamu, Lis. Dan kamu mau tidak manjadi pacarku?” Tanya Yud.
“Aku mau tapi ada syaratnya”.
“Apa?”
“Kamu jangan nakal ya?”
“Tidak, aku janji aku akan menjadi orang yang baik.”
Akirnya kami pacaran. Dan Yud merupakan cinta pertama bagiku. Baru itu aku benar-benar suka pada cowok.
Tak lama Bapak dan Mamakku tahu kalau aku pacaran dengan Yud.
“Aku tidak suka kamu pacaran dengan anak Cokrowati.” Kata Bapak
“Tapi aku benar-benar suka sama Yud, Pak”
Di situ aku dimarahi habis-habisan. Menurut mitos jika orang kampungku menikah dengan orang Cokrowati maka ada yang meninggal atau pun hidupnya sengsara.
“Aku tetap saja pada pedirianku, keyakinanku jika aku dan Yud tetap bertahan aku yakin aku bisa melewatinya. Memang aku dan Yud tak banyak komunikasi, itu karena Yud orangnya pendiam dan aku tak bisa untuk mengawali pembicaraan.
Setelah lulus sekolah aku melanjutkan untu kuliah, dan tentu mendapat dukungan dari Yud. Tiba-tiba keluarga Yud bicara dengan Nonik kalau aku dan Yud lebih baik tunangan dulu. Takut kalau nanti ada apa-apa. Hal itu disampaikan Nonik ke aku.
“Gimana, Lis? Kamu mau tidak?”
“Aku benar-benar suka ma Yud Non, jadi terserah Yud saja lah.”
Tapi Yud menolak rencana tersebut, ia belum siap karena pekerjaannya belum tetap. Dan aku bisa menerima hal ini.
Sudah lama aku tak komunikasi dengan Yud. Aku jadi takut, jangan-jangan ada apa-apa ma Yud. Aku tanyakan pada temannya yang kebetulan pacarnya Nonik. Katanya Yud tidak apa-apa dan itu membuat aku lega. Aku tetap berfikir positif, tapi aku tunggu hingga lama tak ada kabar sedikt pun dari Yud, dan aku pun terus bertanya sama teman-teman kerjanya.
“Kamu temui Yud aja langsung, Lis. Aku kasihan kamu tanya kabar ke sana ke mari. Temui aja langsung ke bengkel.” Kata teman Yud yang kebetulan pacar Nonik.
“Aku tak berani. Nanti tak enak dilihat tetangga.” Jawabku.
“Ndak apa-apa. Dari pada kamu ndak jelas seperti ini.”
“Tapi kamu tahu kan kalau Mas Yud masih sayang sama aku??”
“Ya aku tahu itu, tapi kan dia udah lama tidak memberi kabar padamu? Apa dia ndak pernah main ke rumahmu??”
“Tidak, kalau main ke rumahku aku tak akan tanya kamu terus tentang keadaannya.”
“Ya udah sabar aja kalau gitu.”
“Ya, aku akan sabar.”
Sampai aku pengumuman penerimaan mahasiswa pun Yud tak tahu dan tidak memberi ucapan selamat padaku. Aku sedikit sedih tapi aku tak bisa apa-apa kecuali menunggu kabar dia.
Aku ke Semarang bersama temanku, Yeni namanya. Di situ aku menyuruh Yeni untuk SMS sama Yud, karena pulsa aku habis. Tiba-tiba Yud membalas, aku sangat senang sekali. Akhirnya aku tahu kabar Yud. Dan aku pulangnya dijemput Yud. Disitu aku sangat bahagia.
Tak lama di rumah, aku harus kembali ke Semarang untuk mengikutu ujian. Aku bersama temanku SMP, dan aku ingin menguji kesetiaan yud yang selama ini aku tak tahu sejauh mana. Aku meminjam HP temanku dan pura-pura ingin kenalan sama dia. Ternyata hal itu direspon oleh Yud, tapi aku tak berfikir jelek tentang Yud. Karena aku benar-benar sayang sama dia. Tiba di kampus temanku ditelfon Yud, dan aku suruh dia yang angkat. Kata temanku Yud mau main ke rumahnya dan Yud membelikan pulsa untuknya. Di situ aku kecewa pada Yud, padahal aku yang pacarnya menunggu kabar darinya dengan tanya kesana kemari, malah dia mau main ke rumah temanku. Akirnya aku pasrah tetapi masih tetap berharap Yud akan setia padaku.
Sudah sebulan lebih aku tak ada komunikasi dengan Yud, dan ketika akan melihat pengumuman aku minta tolong sama temannya yang bernama Didik untu membelikan koran. Aku tak berani minta tolo,ng sama Yud, takut mengganngu kerjanya. Didik pun tak membawa koran untukku akirnya aku harus ke warnet untuk melihat pengumuman itu.
“Maaf, Lis. Tadi penjual korannya tidak lewat hari ini.” Kata Didik.
“Udah tidak apa-apa”, jawabku.
“La suruh Yud antar ke Blora aja, Lis. Dari pada kamu tidak tahu pengumumannya nanti.” Saran Didik.
“Tidak, Yud kan sibuk, aku takut ganggu, biar besok aja aku ke Blora sendiri.”
Lama aku menunngu bus, tak ada satu pun yang lewat. Tiba-tiba ada seorang cowok yang wajahnya tak asing berbincang-bincang dengan Omku, dan karena kasihan melihatku yang lama tak dapat bus dia menawariku untuk diantar.
“Ayo ikut aku aja.”
“Tidak usah, aku naik bus sajalah.”
“Nanti keburu siang dan panas.”
“ikut aja, dari pada kamu telat.” Kata Om.
Akirnya aku ikut dengannya. Kami berbeincang-bincang di tengah perjalanan dan ternyata ia bernama Lasmin, kakak kelasku waktu SMP. Setelah tiba di tempat tujuan ternyata aku di tolak di perguruan tinggi. Aku sedih dan malu sama Lasmin, tapi Lasmin malah tertawa melihatnya. Kami pulang dan Lasmin minta no HP pada ku, karena aku merasa berhutang budi padanya, aku beri saja. Dan tiba-tiba ia meminta fotoku.
“Lis, aku minta fotomu.”
“aku tak punya foto.”
“Aku foto kamu aja di HP.”
“Aku tak mau.”
Tiba-tiba tas yang aku bawa jatuh.
“Eh..eh..eh, berhenti!! Tasku jatuh.”
Kami pun berhenti dan aku turun dari motor mengambil tas, ternyata Lasmin mengambil fotoku.
“Kenapa kamu ambil fotoku?”
“Untuk kenang-kenangan saja, aku salut sama kamu, cewek desa yang suka sekolah dan sayang pada orang tua.”
“Ya udah,eh tapi kalau nanti aku disangka cewekmu gimana??”
“Ndak apa-apalah, eh ini aku mau cepat dikit, nanti Jumatan, kamu tidak takutkan aku ajak naik motor agak kencang dikit?”
“Tidak.”
Sampai di rumah Bapak dan Mamakku bertanya
“Kenapa kamu dengan Lasmin??” Tanya Bapak
“La emang kenapa? Aku kan hanya bonceng tadi, tidak ada bus, dari pada kesiangan.”
“Kok bisa ketemu?”
“Tadi dia ngobrol sama Pak lik, ya udah aku ditawari untuk bonceng, lagian dia kan mau beli selang air, Pak.”
“Bener kamu hanya bonceng?”
“Ya Allah Bapak kok gak percaya gitu, untuk apa aku bohong, aku tidak janjian kok, lagian aku udah punya pacar.”
Aku selalu di SMS sama Lasmin, itu membuat aku berfikir, andai Yud seperti Lasmin pasti aku sangat senang. Aku sama lasmin semakin akrab dan aku sering bicara lewat telepon. Dan aku pun semakin tak tahu kabar Yud.
Ketika saya membersihkan kandang sapi HP ku berbunyi dan ternyata ada SMS dari Lasmin.
Lis apa kamu mau menjadi istriku??
Aku pun menjawab
Ya aku mau, kamu mau tidak menunggu sampai lima tahun??
Ya aku mau.
Di situ aku tak pernah menganggap bahwa omongan Lasmin serius karena ia biasa bercanda. Ketika Lasmin telepon dan memanggilku dhek aku agak kaget.
“kenapa kamu memanggilku seperti itu? Tidak sopan tahu.”
“Lo emang aku salah? Sekarang kan kita pacaran?”
“Apa? Kita pacaran?”
“Ya, kemarin aku tanya kamu, kamu kan jawab kalau mau jadi istriku.”
Aku semakin bingung dan taku. Aku tanya sama Om, dan aku mengadu sambil nangis, ternyata gurauan kemarin dianggap serius. Mau tidak mau aku harus menerima semua ini, aku selalu dipojokkan oleh Om untuk bisa melupakan Yud dan menerima Lasmin. Mungkin ada benarnya. Sudah sekian lama aku menunggu kabar dari Yud, tapi tetap saja tak ada kabar. Aku dan Lasmin pacaran, tapi aku tak mencintainya. Aku pikir-pikir kasihan juga, tapi aku tak enak menarik omonganku yang salah faham itu, selain itu Lasmin orangnya baik dan perhatian.
Setelah beberapa bulan aku pacaran kami saling cerita tentang masa lalu kami masing-masing. Lasmin bercerita tentang semua mantannya. Dan aku bercerita tentang Yud.
“Kok kamu kenal Yud??” Tanya Lasmin.
“Kenal lah. Dia kan dulu pacarku, hingga sekarang tak ada kata putus, tapi aku juga tak tahu dia kemana.”
“Jadi kamu pacarnya Yud???” Lasmin kaget.
“Ia tapi itu kan dulu, aku digantung tanpa jelas, apa aku masih dianggap pacarnya atau bukan. Aku tak tahu. Kenapa kamu kaget?”
“Waduh, gimana ini.” Lasmin semakin bingung.
“La kanapa to?”
“Yud itu sahabat aku ketika STM”
“Udah tidak usah dipikir, mungkin sekarang dia juga tidak mau lagi sama aku. Kalau emang dia masih sayang ma aku, harusnya dia kasih kabar kepadaku.”
“Gimana kalau kamu kembali lagi sama Yud, aku akan mengalah demi kebahagiaan kalian.”
“Aku tidak mau, aku tidak bahagia dengan dia. Memang aku cinta sama dia, tapi aku tak tahu apa dia benar-benar cinta ma aku apa tidak.”
“Aku tahu siapa Yud, aku yakin dia sangat mencintai kamu.”
“Kalau memang dia cinta ma aku, kenapa dia menghilang bigitu aja? Harusnya kalau emang dia udah tak suka ma aku, dia bilang aja apa adanya, walau sakit aku akan memnerimanya kok.”
“Sekarang kamu pilih aku apa Yud?” Tanya Lasmin.
“Aku pilih kamu.” Walau dengan sedikit terpaksa aku katakan, karena aku memang tidak cinta dengan Lasmin.
Setelah setahun kami pacaran, dan memutuskan untuk menikah, Yud memberi ucapan padaku lewat HP.
“Salamat ya Lis, semoga engkau jadi istri yang solehah.”
Aku hanya diam dan tak bisa bicara apa-apa. Aku menutup HP dan tak kuasa menahan perih karena aku akan menikah dengan orang lain, sementara orang yang aku sayang memberi ucapan seperti itu secara langsung padaku.
“Maafkan aku Mas, aku sudah lama menunggu kabar darimu, tapi kamu tak juga memberi kabar padaku.” Kata ku dengan sedih.
“Kemarin aku tidak punya HP, jadi aku tidak bisa menghubungi kamu.”
“Setidaknya kamu beri kabar padaku Mas, walau dengan pinjam HP dari temanmu. Bukan menggantungku seperti ini.”
“Maafkan aku jika kamu menganggap aku menggantungmu, aku tak berniat begitu, aku pikir kamu tahu keadaanku karena kamu tak pernah marah padaku.”
“Asal kamu tahu ya Mas, aku tanya kesana kemari tentang kamu.”
“Yang penting kamu bahagia aku pun ikut bahagia. Aku senang kamu menikah dengan sahabatku.”
Aku terus menangis menerima kenyataan ini.
Paginya aku harus diijabkan, aku masih juga tidak percaya semua ini. Dan aku masih tetap ingat sama Yud.
Setelah kami menikah aku diajak ke rumah Yud, di situ tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Yud. Hatiku semakin sakit melihatnya. Aku mengajak suamiku pulang karena tidak tahan melihat Yud yang seperti itu.
“Kenapa kamu nangis dhek ?”
“Tidak apa-apa A’.”
“Kamu masih suka dengan Yud?”
“Tidak kok.” Terpaksa aku berbohong dengan suamiku.
“Kalau kamu sudak tidak ada rasa dengan Yud, kamu tidak akan menangis seperti ini.” Suamiku marah.
Aku tak bisa menjawab pertanyaan suamiku karena kenyataannya aku masih cinta dengan Yud.
Setiap aku jalan-jalan dengan suamiku dan melihat Yud, aku pasti sedih dan merasa bersalah dengan Yud.
“Kenapa diam? Biasanya kamu cerewet?”
“Tidak, pengen diam aja.”
“Pasti kamu masih ingat Yud ya?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu diam?”
Aku tak bis amenjawab pertanyaan suamiku, karena itulah kenyataannya.
Hingga satu tahun kami menikah aku sering teringat dengan Yud, apalagi kalau suamiku SMSan dengan cewek lain, aku pasti menangis dan bicara dalam hati kalau aku tidak bahagia. Dan orang yang aku ingat ketika aku sakit hati adalah Yud. Aku merasa ini hukum karma karena aku meninggalkan secara sepihak saja.
Ketika aku mendengar kabar bahwa Yud punya pacar tetanggaku, aku menangis. Entah kenapa hatiku sakit. Dan itu selalu terbawa mimpi.
“Ternya Yud udah punya pacar A’.” Aku cerita dengan suamiku.
“Siapa?”
“Diyanti, tetanggaku.”
Aku menyembunyikan suaraku yang hampir menangis.
“Kamu menangis?”
“Tidak.”
“Allah Maha Tahu.”
“Tidak, aku tidak menangis.”
Hingga sekarang aku berusaha melupakan masa laluku dengan Yud, memang agak sulit. Aku kasihan melihat suamiku, kami sudah lama menikah tapi aku belum juga bisa mencintainya. Sekarang aku akan belajar menerima takdir Tuhan dengan mencintai suamiku dan melupakan Yud. Semua ini keputusanku sendiri dan aku harus menerima segala resikonya. Inilah pilihanku.....
READ MORE - Inilah Pilihanku,..!!

Doa Dan Harapanku

Ya Allah
Jadikanlah aku ini orang yang sempurna
Sempurna dimata-Mu, bukan kesempurnaan di dunia
Walau itu tidak mungkin

Jauhkanlah aku
Dari sifat egois, serakah, sirik, iri dan dengki serta arogan
Jauhkanlah juga sifat itu pada orang - orang di sekitar ku
Orang - orang yang aku kasihi

Aku hanya ingin mencari kedamaian
Tapi rasa itu jauh sekali, jauh untuk di dapatkan

Apa mungkin aku jauh dari-Mu ya Allah
Mungkin aku tidak tunduk kepada-Mu

Aku hanya ingin memperbaiki diri, intropeksi diri
dari sifat - sifat kecil yang kotor pada diri ku
aku hanya ingin memperbaiki kelakuanku dulu
agar sifat kecil itu menjadi lebih bersih
Sehingga menjadikan sujudku lebih sempurna Kepada-Mu ya Allah

Aku tahu ya Allah
Kau berikan cobaan ini, agar aku lebih bisa mendekatkan diri pada-Mu
Mungkin itu jalan menuju kesempurnaan untuk membersihkan sifat kotor pada ku
Ya, Itu adalah sebuah kesempurnaan yang harus menempuh berbagai cobaan

Aku tahu ya Allah
Kau tidak memberikanku kemewahan di dunia
Tapi kau memberikan semua kecukupan akan diriku, keluarga, anak dan isteri
Itu semua kau berikan agar aku mensyukuri nikmat yang Kau beri

Aku tahu itu ya Allah
Aku tahu maksud dan tujuanmu
Tapi bagaimana dengan orang - orang disekitarku
Tidakkah mereka bisa mengerti maksud dan tujuan-Mu
Tidakkan mereka mengerti akan keinginanku
Tidakkah mereka ingin kebahagiaan itu

Atau mereka tidak mengerti arti kebahagiaan itu
Atau mereka bukan termasuk dari orang - orang yang bersyukur dan bersabar
Atau aku sendiri yang tidak mengerti
Hanya Kau ya Allah yang menilai

Ya Allah
Jadikanlah kami orang - orang bersyukur dan sabar
Walau dengan berbagai cobaan yang kau berikan
Maka aku ikhlas

Ya Allah
Ambillah nyawa ini bila sujudku sudah sempurna
Saat aku mulai letih akan semua ini
mungkin itu lebih sempurna
READ MORE - Doa Dan Harapanku

Seperti Angin

kemarin ia bertiup kencang..
mungkin bisa terasa menyejukkan...
tapi aku tak merasa demikian
aku sedang masuk angin, jangan bertiup padaku!

kemana ia saat aku merasa gerah
tak kunjung ia datang tuk menghapus peluhku
saat aku menunggu, dimana kesejukannya berembus?
kenapa ia tak datang saat kubutuh?

apa yang bisa kulakukan?
tak ada dayaku tuk merubah arahnya....
angin bertiup kemana yang Ia ingin
angin bertiup sesuai keinginanNya..

apa dayaku?
ingin kumemeluknya..
menyimpannya hanya untukku
merasakan sejuknya saat kubutuh...
menyimpannya ditempat yang aman saat ku kedinginan

tapi ku tak punya kuasa melakukannya..
maka ku hanya diam
kemanapun engkau bertiup..
kutetap di sini... untukmu...

kuharap pintaku padaNya dapat membawamu padaku
di saat yang paling tepat
biarlah kau tetap milikNya
tak ada yang lebih pantas menentukan arahmu..

*lets pray that He would make you blew your love for me at the right moment.. I love you too...
READ MORE - Seperti Angin

Sekeping Hati Yang Luka

merah…
darah mengalir deras
membasahi luka yang tak pernah kering
di hati yang hampa

bercak merah…
tak pernah pudar
ia menjadi sejarah duka
yang tak akan lupa

waktu yang terus menggerus
tak kenal lelah mengejek ketus
memberi beban berat
yang kian sarat
di hati yang berkarat
membelit asa dengan kuat

entah…
sekeping hati yang luka
akan tetap memendam luka
yang tak bosan disiram garam

luka…
dan tak pernah mengering
terus dialiri darah dan air mata
READ MORE - Sekeping Hati Yang Luka

Hati Yang Kau Sakiti

======================================================

Diatas daun yang berhiaskan kristal air
Tertiup oleh sejuknya angin yang berhembus
Diriku termenung menatapi semua itu
Tetes demi tetes air terjatuh membasahi tanah

........

Disudut pintu hati yang terdalam
Terasa sesak nafasku saat bayangmu terlintas di benakku
Hati menjerit memanggil namamu
Akankah kau mengerti akan semua yang terjadi

........

Tak pernah berhenti otakku membayangkan sketsa wajahmu
Yang selalu datang menghampiri setiap detik waktuku
Tetapi setelah ku mengamati smuanya
Kau hanyalah debu2 kecil yang bertebaran dan tak kan pernah bisa ku sentuh indahnya

........

Manisnya senyummu terselip duri-duri tajam
Indahnya ucapmu terselip dusta yang mendalam
Apakah semua ini hanyalah sandiwara
Apalagi yang kau ingin ambil dariku setelah semuanya??

........

Pernahkah semua ini kau fikirkan dengan hati yang tulus
Adakah sedikitnya simpatimu untuk mengerti keadaan ku
Apakah semua yang ku ingin hanyalah harap semu
Apakah kau tak memiliki hati yang peka

........

Semua terasa asing bagimu
Semua terasa biasa bagimu
Semua hanyalah angin bagimu
Semuanya telah berlalu sejak saat ini

........

Ingin ku tak membencimu
Namun inilah akhirnya. . .
READ MORE - Hati Yang Kau Sakiti

Gugur Air Mata

heningnya kalbu begitu kelam
memikat gundahnya hati
tarian pilu menyerang dengan girangnya
tangan ini berusaha
menggapai…namun semua berpaling
dan meninggalkan…

rintihan bathin kian mengiris
tapi tak ada yang peduli…
Sepi….
Sakit….

rasa itu membuncah, menghancurkan,menenggelamkan
asa yang kian terpuruk
kelumpuhan pada seluruhbagian otak
mulai menumpulpekikan girang sang kegelapan
menyengat tajam..

“Selamat datang dikehidupanku wahai luka dan nestapa”
naluri terkikis perih asa perlahan_-lahan memudar
isak tangis runtuh berguguran
“Selamat tinggal cinta,,
menepilah bersama gugurnya
airmata”
READ MORE - Gugur Air Mata

Rindu

Aku rindu usiaku yang telah lalu
Saat renta melapuk rasa termakan waktu
Kuingat saya kubisa hanya sederhana
Mainkan puting susu ibu
Dan lari ke bekapan ayah
Tenanga.sunyi..damai....

Kini tak lagi sama

Semua mau ku sempurna
Saat ku tak mampu semua lalu dan mencibir
Kurasa dewasa dalam kesendirian
Tempat mengadu hanya kelam surya menuju peraduan
Tenang…sunyi…damai…..

Dunia kenapa cepat berubah
Inginku kembali ke masa itu dan berakhir hanya dimasa itu
Jikalau mampu,,,,
READ MORE - Rindu

Doa Untuk Ayah Dan Bunda

Sesungguhnya jasa orang tua kita tidak terhitung banyaknya. Ibu kita mengandung selama 9 bulan kemudian melahirkan kita dengan resiko nyawa melayang. Ketika kita masih bayi tak berdaya, mereka beri kita minum dan makanan. Ketika kita buang air, tanpa jijik mereka membersihkan kita dengan penuh cinta. Kita diberi pakaian dan juga pendidikan.

Mereka sabar menghadapi kemarahan kita, rengekan, kenakalan, bahkan mungkin ketika kita masih kecil/balita pernah memukul mereka. Mereka tetap mencintai kita. Jadi jika kita merasa kesal dengan mereka, apalagi jika mereka begitu tua sehingga kelakuannya kembali seperti anak-anak, ingatlah kesabaran mereka dulu ketika menghadapi kita. Bagi yang sudah memiliki anak tentu paham tentang kerewelan anak-anak yang butuh kesabaran yang sangat dari orang tua.


Adakah kita mampu membalasnya? Bahkan seandainya orang tua kita tak berdaya sehingga untuk buang air kita yang membersihkannya, itu tidak akan sama. Orang tua membersihkan kita dengan penuh cinta dan harapan agar kita selamat dan panjang umur. Sementara si anak ketika melakukan hal yang sama mungkin akan merengut dan bertanya kapan “ujian” itu akan berakhir.


Begitulah. Seperti kata pepatah, “Kasih anak sepanjang badan, kasih ibu sepanjang jalan” Tidak bisa dibandingkan.


Oleh karena itu hendaknya kita berbakti pada orang tua kita. Minimal kita mendoakan mereka:


Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)


Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka putuslah rezeki kita:


Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)


Oleh karena itu sebagai anak yang berbakti hendaknya kita senantiasa berdoa untuk ibu bapak kita. Di antara doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut:


“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:



Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo


“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]



Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab


“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:41]



Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” [Nuh:28]



Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo


“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari ilmu yang kita dapat dengan mengamalkannya setiap hari. Amiin.
READ MORE - Doa Untuk Ayah Dan Bunda

Abadi Selam-nya

Tersenyumlah saat kau mengingat ku.
karna saat itu, aku sangat...... meridakan mu.
dan menangislah saat kau meridukanku,
karna saat itu aku tak berada disamping mu.

Tetapi, pejamkanlah mata indahmu itu.
karna saat itu aku terasa ada didekat mu,..!!
karna aku telah berada dihatimu untuk selamanya.
taka ada yg tersisa lg untuk ku,.

selain kenangan - kenangan yang indah bersama mu.
mata indah yang denga-nya aku biasa melihat keindahan cinta,.
mata indah yang dahulu adalah miliki ku.
kini semua-nya terasa jauh meninggalkan ku,..!!
dikehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu,..
hati, cinta, dan rindu ku adalah milik mu.

cintamu takan pernah membebaskan ku.
bagaimana mukin aku terbang mencari cinta yang lain,
saat sayap- sayap ku telah patah karna mu
cintamu akan tetap tinggal bersamku
hingga akhir hayat ku, dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi

betapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
yang tengah menghidupkan sinar redup ku
namun tak dapat menyinari, dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu?
Karna mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takan pernah terganti, bagai pecahan logam
mengekalkan., Kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku,.
Kini.. aku telah kehilanganmu,.
READ MORE - Abadi Selam-nya

Badai Kegelisahan

Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.87
Maka kuputuskan untuk minta persetujuan ibu. Ibu adalah segalanya bagiku. Jika beliau meridhai maka aku akan melangkah maju. Jika tidak maka aku pun tidak.


87 Dari penggambungan dua petikan sajak Fatin Hamama berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘Ibu (3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya “Papyrus”.

Aku telpon ke Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa. Tak ada telpon di sana. Aku menelpon ke rumah Pak Zainuri, mertua paman yang penilik sekolah dan tinggal di kota kecamatan. Rumah paman tak jauh dari beliau. Selama ini, jika aku ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang lewat Pak Zainuri dulu. Pak Zainuri akan menghubungi paman dan paman akan menghubungi ayah ibu. Kalau aku mengirim surat pun aku lebih suka mengalamatkannya ke rumah Pak Zainuri lebih cepat sampainya. Sebab jika dialamatkan ke desa, suratku bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pak RW dalam waktu tak tentu. Masalah transportasi dan komunikasi global memang agak susah jika hidup di desa.
Kepada paman aku jelaskan semuanya. Siapa Syaikh Utsman dan apa yang beliau tawarkan kepada diriku. Paman adalah orang yang wawasannya luas, ia guru SMP teladan se kabupaten. Paman banyak bertanya tentang seandainya benar-benar menikah dengan muslimah yang bukan dari Indonesia. Aku jelaskan, jika dia gadis yang shalihah semuanya akan mudah. Aku jelaskan pada paman, tidak semua orang mendapatkan tawaran sedemikian terhormatnya dari Syaikh Utsman. Di Indonesia, kalau mendapatkan tawaran untuk menikah dengan anak seorang kiai mushalla saja dianggap suatu keberuntungan yang luar biasa. Juga kujelaskan hasil istikharahku. Aku minta pada paman agar mengajak musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu aku juga minta ayah ibu juga melakukan shalat istikharah. Apa pun hasilnya itulah keputusan yang akan aku ambil. Dua hari lagi pada jam yang sama aku akan menelpon menanyakan hasilnya. Dan aku ingin langsung mendengar dari lisan ibu.

Dua hari kemudian. Pada waktu yang dijanjikan aku menelpon ke tanah air. Aku mendengar suara ibu,
“Jika isterimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis shalihah yang dari Indonesia!”
Air mataku meleleh mendengar keputusan ibu. Sebuah keputusan yang sangat bijaksana. Aku memang tidak mungkin hidup dan berjuang selain di tanah air tercinta. Hari itu juga aku menemui Syaikh Utsman dan memberitahukan keputusanku. Beliau berpesan agar hari berikutnya datang ke tempat beliau lagi, untuk mengetahui kabar selanjutnya. Hari berikutnya aku datang. Syaikh Utsman menyambutku dengan senyum dan pelukan penuh kehangatan. Aku seperti seorang cucu yang beliau sayangi.
“Semoga gadis shalihah ini menjadi rizkimu di dunia dan di akhirat. Dia siap kau bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini ada dua album foto dia, kau bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau istikharah lagi. Jika kau mantap kau akan aku pertemukan dengan gadis shalihah ini dan walinya.”
Aku pulang dengan membawa dua album foto yang kumasukkan dalam tas cangklongku. Aku merasa seperti memikul beban satu ton. Tas cangklong itu terasa berat sekali.
Sampai di kamar aku memegang album itu dengan tangan gemetar, dan hati bergetar. Aku akan melihat wajah calon bidadari yang menemani hidupku selamanya. Aku akan melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah kenapa aku tidak berani membukanya sama sekali. Dua album itu cuma aku pegang dan tanpa kubuka sedikitpun. Aku tersentak, aku belum tahu namanya. Kenapa tidak aku tanyakan namanya pada Syaikh Utsman? Aku ingin membukanya, siapa tahu di dalam Album itu ada namanya. Tapi urung. Aku tidak berani. Entah kenapa. Aku shalat istikharah, yang datang adalah ibunda tercinta. Beliau berkata singkat,

“Menikahlah ibu merestui.”
Hari berikutnya aku kembali menemui Syaikh Utsman dan kukatakan kemantapanku untuk menikahi gadis itu. Syaikh Utsman berkata,
“Aku sudah menduga dan aku sangat yakin kau akan mengatakan itu. Aku memang belum melihat gadis itu, tapi isteriku, Ummu Fathi, yang melihat foto- foto dalam album itu memuji-muji kecantikannya. Ummu Fathi malah bilang jika kau sampai tidak mau, maka ia memintaku agar menjodohkan dengan cucuku yang sedang kuliah di Perancis. Aku geli sekali mendengar perkataan Ummu Fathi. Dan kau nanti akan kaget karena tadi malam walinya bilang gadis itu sangat mengenalmu, dan kau mungkin telah mengenalnya. Kau sudah melihatnya, kau mengenalnya bukan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali belum melihat album itu dan aku sama sekali tidak tahu namanya. Aku diam saja. Gadis itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. Aku telah menyatakan kemantapanku tapi aku belum tahu siapa dia. Aku menjadi orang yang paling penasaran di dunia. Syaikh Utsman minta kepadaku agar besok datang tepat setelah shalat Ashar, kalau bisa shalat Ashar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah sab’ah diundur hari berikutnya. Besok aku akan dipertemukan dengan gadis itu bersama walinya. Untuk saling melihat dan saling mengenal sebelum kata sepakat untuk akad nikah diputuskan.

Malam itu, malam sepulang dari rumah Syaikh Utsman adalah malam paling menyiksa dalam hidupku. Namun ada kesejukan yang sedemikian lembut mengaliri relung-relung hatiku. Kesejukan itu apa aku tidak tahu namanya. Saiful rupanya sangat memperhatikan kesibukkanku selama ini. Dia bertanya ini itu tapi masalah diriku sedang proses ke gerbang pernikahan sama sekali tidak aku beritahukan padanya, juga pada siapa saja. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku menutup kamar, dan berada di kamar seperti orang linglung. Siapa gadis itu? Dia mengenalku dan aku mengenalnya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bukan gadis Mesir. Aku membodoh-bodohkan diriku kenapa tidak melihat dua album yang telah berada di tanganku. Jangan-jangan dia gadis Indonesia. Walinya tahu aku mengaji pada Syaikh Utsman dan minta agar menjodohkan keponakannya denganku. Tapi, siapa gadis Indonesia yang kecantikannya layak dipuji oleh isteri Syaikh Utsman dan dia memiliki wali di sini?
Seingatku mahasiswi Indonesia yang disertai kerabatnya hanya ada tiga orang. Raihana disertai kakak kandungnya. Fauzia disertai adiknya. Dan Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hatiku berdesir, jantungku mau copot. Yang paling cantik memang Nurul. Tapi aku merasa itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin. Dia adalah puteri seorang kiai besar, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang kiai biasanya telah memilih besan sejak anaknya masih belum bisa berjalan. Tapi kenapa Ustadz Jalal memintaku datang? Aku semakin didera badai kegelisahan yang dahsyat. Aku mengumpat diriku sendiri. Seandainya aku melihat foto dalam album aku tidak akan dirajam penasaran yang menggila ini. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dan penasaran dengan bersujud dan menangis kepada Tuhan. Dalam sujud aku berdoa sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun wal’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!”88
READ MORE - Badai Kegelisahan